School for Nation Leader,

(1) School for Nation Leader : Efek Kupu-Kupu

4:48 AM zakiul fahmi van jailani van hamzah van abdullah 0 Comments

Efek kupu-kupu. Aku berkenalan dengan teori ini dari karya tangan seorang penulis bernama Herry Nurdi di kolom majalah Sabili, dulu saat Aku masih di bangku SMP. Saat itu Aku terkagum-kagum membaca tulisan beliau tersebut dan di banyak kesempatan teori ini benar-benar berlaku padaku. Teori ini juga yang membuatku selalu bersyukur pada ilahi : Aku bersekolah di pesantren Dayah Jeumala Amal di kabupaten pidie jaya yang baru terbentuk, Aku adalah seorang anak SMP kurus yang hidup di daerah yang baru saja di terjang Tsunami dan nyaris tidak bisa keluar dari konflik kemanusiaan berkepanjangan selama 30 tahun bahkan lebih. Hanya mimpi dan harapan serta bantuan Allah, yang membuatku tetap hidup dan bermimpi menapaki jalan yang jauh meski keadaan sekitar yang tidak menyetujui.
  Efek kupu-kupu, sama miripnya dengan efek domino dimana dengan sentuhan kecil saja pada batu pertama, maka akan membuat kekacauan yang luar biasa kepada batu-batu lain yang berdiri berjejer didekatnya. Efek kupu-kupu pun bunyinya persis seperti itu, satu kepak sayap kecil kupu-kupu di hutan Amazon jauh di pedalaman Brazil, mampu menciptakan sebuah tornado besar di New York, Amerika.
Perjalananku menuju Bogor pun begitu. Aku tak akan mendapatkan info tentang acara School for Nation Leader (SNL) ini jika tanpa ada kepakan sayap kupu-kupu yang dihembuskan sukarela oleh teman-temanku dan dari berbagai usaha serta kejadian lain yang mengiringi. Aku bisa saja menolak posisi-posisi yang diberikan, sehingga aku tidak akan berkenalan dengan orang-orang aktif progressif dan inspirasional. Aku bisa saja memilih untuk tidak berani bermimpi jauh, berjalan di jalanan para mahasiswa umumnya, namun aku memilih sebaliknya. Aku bertanya-tanya benarkah keputusanku selama ini, dan SNL adalah salahsatu jawabannya. # # # Forum Indonesia Muda, KAMMI, HMI, BEM SI, adalah beberapa nama forum pergerakan mahasiswa di Indonesia yang Aku selalu ingin menjadi bagian darinya, maka tambahkan satu lagi : School for Nation Leader, sebuah forum mahasiswa yang memiliki visi apa pupuk terbaik yang akan diberikan pada ide dan usaha ini lalu kemudian akan Kami petik bunganya pada tahun 2045 nanti, tepat pada peringatan seabad kemerdekaan Indonesia. Kesan pertama ku terhadap SNL ini jika ku rangkum dalam satu kalimat adalah : calon keluarga baru yang hangat. Maka saat pertama kali panitia meminta Kami yang lolos pada pelatihan ini untuk mengirimkan sms kesediaan apakah bisa mengikuti acara full selama 7 hari, maka Aku pun langsung membalas sms tersebut dengan antusias.
Sejak aku sekolah di pesantren Dayah Jeumala Amal Lueng Putu Pidie Jaya, aku mendapat banyak sekali teman-teman baru yang terangkum dalam sebuah keluarga baru. Tapi calon keluarga baru di SNL ini berbeda. Kita tidak pernah bertemu sebelumnya tapi kita sudah akrab duluan. Hal tersebut sangat mungkin terjadi di zaman informasi seperti ini yang mampu mendekatkan yang jauh, merapatkan yang dekat. Terutama melalui alat sosial media bernama WhatsApp, jauh hari sebelum waktu pertemuan, kami sudah saling memperkenalkan diri, mendo'akan teman yang ujian dan sidang, mak comblang-mak comblangan, menagih makanan daerah masing-masing, hingga mendo'akan anggota keluarga dari peserta lain yang sedang sakit. Aku pun ikut berkontribusi positif dengan menghubungi empat orang peserta asal Jogja melalui WhatsApp. Aku mengajak Mereka untuk berangkat bersama-sama ke Bogor dan respon Mereka sangat positif dan tentu saja mau. Hasilnya, kami bertiga dari jogja ditambah satu peserta dari Solo berangkat bersama-sama naik Kereta Api ekonomi gajahwong jurusan Lempuyangan dan turun di Jatinegara, Jakarta.
Aku mungkin bukan orang yang mudah berkomunikasi dengan orang baru, tapi dengan satu usaha kecil ini, semoga bisa menjadi satu kontribusi untuk merekatkan ukhuwwah kami keluarga baru SNL. Dan tentu saja, melalui acara ini akan ada kepakan-kepakan kecil sayap kupu-kupu lainnya yang akan mengubah hidupku membawaku keliling dunia. Ammiinnn

You Might Also Like

0 comments: