Belanda, Sang Penakluk Alam

 BELANDA SANG PENAKLUK ALAM
By : Zakiul Fahmi Jailani
                Alohaaa ... Pada tau gak ternyata Belanda juga pernah dijajah lho. Namun bedanya, Belanda dijajah oleh alam. Serius guys, faktanya 50% dari total wilayah negara kompeni ini terletak satu meter di bawah permukaan laut. Sebagian besar wilayahnya ‘dicaplok’ dan terjajah oleh air. Sehingga, banjir di Belanda berpotensi menghapus eksistensi kehidupan masyarakat Belanda dan memakan korban jiwa yang banyak sekali. Waduw, ngeri ya.
                Nah karena itulah bangsa Belanda tahu sekali cara mengatasi air. Jika ada yang bertanya siapa orang yang mampu melawan keganasan alam, maka jawabannya adalah : Dutch!!! alias orang-orang Belanda.

PERJALANAN PANJANG MELAWAN ALAM
                Guys, wilayah daratan Belanda berada di ujung utara benua Eropa yang disana bersemayam seorang dewa yang telah terkenal akan temperamennya. Hehe. Namanya : laut utara. Nenek moyang orang Belanda tidak punya pilihan lain karena laut ini terletak di daerah strategis dan hasil perikanan nya sangat melimpah. Mau tidak mau Mereka pun menetap disana dan mulai pedekate dengan laut utara yang ganas.
                Singkatnya, akhirnya nenek moyang orang Belanda membangun ini :




Sumber gambar : http://www.jqjacobs.net/archaeo/images/seip_t.jpg
 






               
Itu adalah sistem pertahanan pertama Belanda terhadap air berupa gundukan tanah. Disini Mereka tinggal dan beraktifitas tanpa takut disentuh oleh air pasang. Namun, air laut utara yang pasang yang merangsek diantara celah-celah gundukan tanah tersebut sedikit demi sedikit mengikis gundukan-gundukan tanah kecil dan pada akhirnya pertahanan itu roboh juga oleh erosi.
 Orang Belanda memikirkan cara lain dan pada akhirnya lahirlah sistem pertahanan air generasi kedua yang lebih efektif yaitu : tanggul. Ini adalah tanggul primitif pertama dan kira-kira gambarnya seperti ini :

Sumber Gambar : http://www.citg.tudelft.nl/uploads/RTEmagicC_VanDerPal_PolderConcept.jpg.jpg
     Tanggul ini dibangun dengan dinding-dinding sehingga mencegah air masuk kedalam wilayah Mereka dan menjaga tanah tetap kering. Daerah-daerah yang dapat Mereka lindungi dari serangan air laut utara semakin luas dengan tanggul ini. Seiring berjalannya waktu, benteng ini jebol juga oleh kekuatan air yang meresap dan membuat lemah struktur dasarnya. Sehingga, lambat laun air kembali menggenangi wilayah yang Mereka proteksi dan mau tidak mau bangsa Belanda harus mencari cara untuk mengusir genangan air tersebut.
                Di masa itulah Belanda memperkenalkan sebuah penemuan terbesar Mereka sepanjang sejarah : kincir angin. Fungsinya adalah mengangkat keluar air yang ada didalam wilayah pertahanan dengan cara memanfaatkan keganasan hembusan ganas angin laut utara kemudian ditangkap oleh kincir angin yang menggerakkan gerigi-gerigi besar di dalamnya dan tenaganya di gunakan untuk memompa air laut resapan kembali keluar dari tanah Mereka. Tapi satu kincir angin hanya mampu memompa air keluar dari wilayah yang dekat dan kecil sementara air yang masuk sangat deras dan jauh ke sisi terdalam. Tapi tenang saja, nenek moyang Belanda pun sudah memikirkan jalan keluarnya. Solusinya persis seperti gambar dibawah ini:


Sumber Gambar : http://www.iamexpat.nl/app/webroot/upload/files/Topics/Expat-page/Survival-kit/windmill_23.png
 
               
Untuk mengusir air laut dari daerah-daerah pelosok dan jauh, beberapa kincir angin di bangun berderetan untuk mengeringkan air di seluruh wilayah Mereka secara beruntun. Kini di era modern, kincir angin digantikan oleh mesin pompa air yang lebih efektif dan efisien seperti gambar di bawah ini :


Sumber Gambar : http://www.burnham-on-sea.com/news/2014/flood-pumps-dunball-1.jpg
 














ZUIDERZEEWERKEN
Ternyata duet tanggul dan kincir angin tidak juga mampu mengatasi keganasan laut utara. Apalagi jika marahnya sedang memuncak, tanggul-tanggul itu jebol dan air bah tidak segan-segan mengubah wajah kota-kota besar Belanda sekelas Amsterdam dan Rotterdam  hanya dalam waktu satu malam saja. Contohnya adalah banjir St. Lucia pada tanggal 14 Desember 1287 yang menyisakan korban hingga 80.000 orang dan banjir tanggal 1 Februari 1953 dengan korban berjumlah 1.836. Oleh karena itulah Belanda membangun mega proyeknya yang disebut dengan Zuiderzee yang dicetuskan oleh bapak Cornelis Lely. Ini adalah rangkaian proyek yang mencakup sistem bendungan, saluran air dan reklamasi tanah.
                Pada tau Zuiderzee gak sih? Ini nih salahsatu keajaiban dunia modern. Bendungan Zuiderzee ini menahan laju air laut utara yang dibangun sepanjang 32 km, sehingga mampu menahan keganasan air laut di sebelah utara sementara laut di sisi dalam bendungan menjadi jauh lebih ‘kalem’. Hehe. Pokoknya udah kayak mukjizat nabi Musa aja : membelah lautan. Tidak hanya menahan laju air laut yang ganas, Zuiderzee ini juga merupakan proyek untuk membuat pulau-pulau baru yang berada di bagian laut yang ‘kalem’ tadi.
                Dengan berhasilnya proyek Zuiderzee ini, pada tahun-tahun berikutnya Belanda membangun lebih banyak lagi bendungan diantara pulau-pulau Mereka yang terpisah-pisah. Hingga menyisakan tinggal satu lagi ruang besar sepanjang 9 kilometer diantara pulau Schouwen-Duiveland dan Noord-Beveland. Seperti biasa, Belanda berencana memakai cara lama dengan membangun bendungan besar tertutup untuk menahan laju air laut.
Tapi untuk pertama kalinya dalam sejarah, masyarakat Belanda tidak setuju dengan insinyur Mereka dan menolak pembangunan bendungan ini. Alasannya, karena dengan pembangunan bendungan ini, maka akan mencegah masuknya ikan dari laut lepas dan pada akhirnya memukul industri perikanan lokal . Pembangunan yang sedang berjalan dihentikan sementara dan akhirnya muncul para insinyur-insinyur Belanda generasi baru memberi satu solusi bernama yaitu Bendungan berpintu bernama : Oosterscheldekering. Bendungan ini pada waktu biasa akan selalu terbuka dan hanya akan ditutup ketika badai datang dan tinggi air laut meningkat yang dianggap membahayakan penduduk Belanda.


               









Sumber Gambar : http://imtech.com/NL/ICT/Technical-Systems/TS-Referenties/Oosterscheldekering/TS-Oosterscheldekering.jpg?hid=img;mxw=470;mxh=300
 









                Masalah yang sama juga terjadi dekat lalu lalang kapal laut tersibuk di Eropa : pelabuhan Rotterdam. Insinyur Belanda harus memikirkan cara bagaimana air laut utara yang ganas dapat dibendung ketika waktunya namun juga dapat dilalui oleh kapal laut ketika cuaca cerah. Mereka kemudian membangun sebuah bendungan yang dapat bergeser yang diberi nama :  Maeslantkering.

Sumber Gambar : http://oceans.mit.edu/wp-content/uploads/Maeslantkering-Barrier.jpg
                Seiring berjalannya waktu dan berubahnya iklim dunia, Belanda khawatir air masih akan tetap keras kepala berusaha menaklukkan Belanda. Oleh karena itulah para insinyur Belanda sudah mempersiapkan skenario terburuk di masa depan. Salahsatu strategi perang Belanda melawan air yang paling terkini adalah sebuah rencana yang disebut dengan Room for the River. Inti dari rencana ini adalah mengizinkan air laut masuk dan menggenangi beberapa daerah yang telah di siapkan ketika air bah memuncak namun air ini tetap tidak akan membahayakan. Walau sempat ditentang oleh masyarakat karena melawan paradigma perlawanan terhadap air selama ribuan tahun, namun proyek ini berjalan juga pada akhirnya.

http://www.waterfrontcenter.org/Awards/Awards2011/RiverWaal4.jpg
                Bisa jadi Belanda hanya tinggal nama suatu hari di masa depan nanti karena disapu gelombang air, tapi insinyur-insinyur Belanda pasti tidak akan tinggal diam. Mereka adalah penantang sejati alam dan selama ini Mereka tidak pernah terkalahkan.

(1) School for Nation Leader : Efek Kupu-Kupu

Efek kupu-kupu. Aku berkenalan dengan teori ini dari karya tangan seorang penulis bernama Herry Nurdi di kolom majalah Sabili, dulu saat Aku masih di bangku SMP. Saat itu Aku terkagum-kagum membaca tulisan beliau tersebut dan di banyak kesempatan teori ini benar-benar berlaku padaku. Teori ini juga yang membuatku selalu bersyukur pada ilahi : Aku bersekolah di pesantren Dayah Jeumala Amal di kabupaten pidie jaya yang baru terbentuk, Aku adalah seorang anak SMP kurus yang hidup di daerah yang baru saja di terjang Tsunami dan nyaris tidak bisa keluar dari konflik kemanusiaan berkepanjangan selama 30 tahun bahkan lebih. Hanya mimpi dan harapan serta bantuan Allah, yang membuatku tetap hidup dan bermimpi menapaki jalan yang jauh meski keadaan sekitar yang tidak menyetujui.
  Efek kupu-kupu, sama miripnya dengan efek domino dimana dengan sentuhan kecil saja pada batu pertama, maka akan membuat kekacauan yang luar biasa kepada batu-batu lain yang berdiri berjejer didekatnya. Efek kupu-kupu pun bunyinya persis seperti itu, satu kepak sayap kecil kupu-kupu di hutan Amazon jauh di pedalaman Brazil, mampu menciptakan sebuah tornado besar di New York, Amerika.
Perjalananku menuju Bogor pun begitu. Aku tak akan mendapatkan info tentang acara School for Nation Leader (SNL) ini jika tanpa ada kepakan sayap kupu-kupu yang dihembuskan sukarela oleh teman-temanku dan dari berbagai usaha serta kejadian lain yang mengiringi. Aku bisa saja menolak posisi-posisi yang diberikan, sehingga aku tidak akan berkenalan dengan orang-orang aktif progressif dan inspirasional. Aku bisa saja memilih untuk tidak berani bermimpi jauh, berjalan di jalanan para mahasiswa umumnya, namun aku memilih sebaliknya. Aku bertanya-tanya benarkah keputusanku selama ini, dan SNL adalah salahsatu jawabannya. # # # Forum Indonesia Muda, KAMMI, HMI, BEM SI, adalah beberapa nama forum pergerakan mahasiswa di Indonesia yang Aku selalu ingin menjadi bagian darinya, maka tambahkan satu lagi : School for Nation Leader, sebuah forum mahasiswa yang memiliki visi apa pupuk terbaik yang akan diberikan pada ide dan usaha ini lalu kemudian akan Kami petik bunganya pada tahun 2045 nanti, tepat pada peringatan seabad kemerdekaan Indonesia. Kesan pertama ku terhadap SNL ini jika ku rangkum dalam satu kalimat adalah : calon keluarga baru yang hangat. Maka saat pertama kali panitia meminta Kami yang lolos pada pelatihan ini untuk mengirimkan sms kesediaan apakah bisa mengikuti acara full selama 7 hari, maka Aku pun langsung membalas sms tersebut dengan antusias.
Sejak aku sekolah di pesantren Dayah Jeumala Amal Lueng Putu Pidie Jaya, aku mendapat banyak sekali teman-teman baru yang terangkum dalam sebuah keluarga baru. Tapi calon keluarga baru di SNL ini berbeda. Kita tidak pernah bertemu sebelumnya tapi kita sudah akrab duluan. Hal tersebut sangat mungkin terjadi di zaman informasi seperti ini yang mampu mendekatkan yang jauh, merapatkan yang dekat. Terutama melalui alat sosial media bernama WhatsApp, jauh hari sebelum waktu pertemuan, kami sudah saling memperkenalkan diri, mendo'akan teman yang ujian dan sidang, mak comblang-mak comblangan, menagih makanan daerah masing-masing, hingga mendo'akan anggota keluarga dari peserta lain yang sedang sakit. Aku pun ikut berkontribusi positif dengan menghubungi empat orang peserta asal Jogja melalui WhatsApp. Aku mengajak Mereka untuk berangkat bersama-sama ke Bogor dan respon Mereka sangat positif dan tentu saja mau. Hasilnya, kami bertiga dari jogja ditambah satu peserta dari Solo berangkat bersama-sama naik Kereta Api ekonomi gajahwong jurusan Lempuyangan dan turun di Jatinegara, Jakarta.
Aku mungkin bukan orang yang mudah berkomunikasi dengan orang baru, tapi dengan satu usaha kecil ini, semoga bisa menjadi satu kontribusi untuk merekatkan ukhuwwah kami keluarga baru SNL. Dan tentu saja, melalui acara ini akan ada kepakan-kepakan kecil sayap kupu-kupu lainnya yang akan mengubah hidupku membawaku keliling dunia. Ammiinnn

(6) Darussalam to 'Darussalam' : Ekonomi Kreatif

Sudah menjadi salahsatu kebiasaan, bagi seorang anak perantauan setelah atau ketika waktu kelulusannya sudah semakin mendekati, mereka merasakan keresahan. Terutama keresahan bagaimana akan mengarungi derasnya arus tantangan lautan dunia yang luas dengan terputusnya beasiswa dari orangtua. Sebagai keturunan bangsa Aceh, keresahan itu menjadi berlipat ganda pada angka eksponensial karena kualitas sumber daya manusia Aceh yang sangat rendah sehingga sulit ketika bersaing dengan orang lain pada tingkat nasional. Satu-satunya cara lain adalah dengan pulang kembali ke Aceh dan berkarir disana. Namun, masalah lain telah menunggu, tidak adanya lapangan pekerjaan.
Ternyata fakta mengiriskan ini belum berubah sejak puluhan tahun yang lalu. Setidaknya itu yang tergambar ketika Saya beberapa kali mengunjungi rumah salahsatu orangtua Aceh di Yogyakarta bernama pak Adrian. Beliau adalah seorang sarjana ahli kulit yang telah lama tinggal, bekerja dan bahkan menikah dengan wanita Yogyakarta. Beliau bercerita, dulu saat pertama lulus kuliah, seperti kebanyakan mahasiswa asal Aceh di luar daerah beliau langsung pulang ke tanoh indatu untuk bekerja dan memberi kontribusi untuk Aceh. 







Namun, pak Adrian harus dikecewakan karena keahlian beliau belum bisa berbuat banyak di Aceh. Yang beliau dengar adalah lagu lama : tidak ada lapangan pekerjaan. Lantas beliau pun memutuskan untuk kembali ke Jogja dan sampai saat ini berkarir sebagai ahli kulit di kota Malioboro.
Pengalaman yang berbeda di alami oleh beberapa teman saya yang setelah lulus dari studi di Jogja ataupun di daerah lain di pulau Jawa, harus dipaksa oleh waktu untuk pulang ke Aceh. Alsannya biasa : daripada terluntang-lantung di negeri orang, lebih baik menangis darah di tanah kelahiran sendiri meniti karir melakukan apa saja yang bisa dilakukan.
Ketersediaan lapangan pekerjaan, kualitas

Dissimilar Home

I stood among the debris falling apart on Peunayong, a Chinatown in Aceh, Indonesia's western most province. Half my body covered in black water came out from the deep sea flooded the city. On the right and left sides people try to pull out the bodies lying on the rubble and cars were stuck on top of power pole. Cries endlessly sounded from the corners of the remnants of life in the city of the dead. Helicopters and airplanes passing busy. Trucks transporting corpses from and to mass burial sites. Animals also took part. Elephants came down the mountain try to help lifting large wooden logs spread across the main streets of the city. Aceh and the tsunami, December 26th 2014. Story will run to tens of years on our homeland, my father whispered in between sobs next to me.

June 6, 2010, i began my resolution. I arrived in Yogyakarta, 

another special region in Indonesia. But for an Acehnese like me, staying in Jogja is an irony. I am a native Acehnese who was genuine and raised in the land of Aceh while now I decided to settle migrate to Yogyakarta, home to three of the five former president of Indonesia, which in its history has a bad impression to conflict in Aceh because all the three presidents were Sukarno, Suharto and Megawati had held military operations in Aceh with a variety reasons.
But it is undeniable that Jogja, and whole of Java island is the lighthouse of knowledge in Indonesia. That’s the main reason i came here. Like it or not, I should be able to adapt, even to love my new environment.

(5) Darussalam to 'Darussalam' : Samadiah

31 Desember 2014
                Sudah sejak tanggal 26 desember 2014 kemarin Aku pulang ke Aceh. Banyak teman-teman bertanya, untuk apa? Padahal Aku belum selesai kuliah. Well, abang pertama ku yang bernama Ikhwanushafa Djailani akhirnya menikah juga, dan sebagai adiknya, Aku harus pulang.
                Ada banyak kalimat yang dapat kurangkai agar menjadi cerita-cerita yang kudapat dalam perjalanan ini. Minggu-minggu ini memang meenyimpan banyak sekali kisah yang patut kutuliskan mulai dari peringatan 10 tahun Tsunami Aceh, behind the story pernikahan abang Iwan, sampai dengan cerita-cerita musibah yang Kami alami sepanjang dua pekan belakangan seperti pengalaman berjalan sepanjang pesisir timur wlayah Aceh dan menyaksikan langsung salahsatu banjir  terparah dalam beberapa tahun terakhir ini, meninggalnya nenek(Makteuk) Kami satu-satunya di malam pernikahan abang Iwan, kemudian di susul dengan meninggalnya nenek mertua abang Iwan di beberapa hari berikutnya hingga tabrakan kecil iringan mobil Kami di perjalanan menuju tempat pernikahan di Peureulak.
Namun, ada satu hal kuamati selama berada di kampung tepatnya di desa Pu Lo Tu, keude Kampong Blang Mangki, kecamatan Simpang Tiga, kabupaten Pidie. Hal tersebut adalah sesuatu yang selama ini Aku tolak konsepnya. Baiklah, hal tersebut yang kuamati adalah sebuah budaya di Aceh yang disebut dengan Samadiah.
Seorang gadis cilik berpose di depan gapura gampong Pulo Tu

Secara singkat, Samadiah ini adalah budaya zikir bersama yang diperuntukkan kepada orang meninggal selama tujuh malam berturut-turut. Setelah zikir, biasanya keluarga yang ditinggalkan akan menyediakan kue serta minum kepada orang-orang yang datang dan berzikir di rumah penyelenggara. Bahkan, di malam terakhir, atau disebut dengan malam seunujoh(malam ke tujuh),


 peserta zikir di sediakan makanan nasi dan daging serta diberi uang saku secukupnya kepada setiap orang yang datang pada malam terakhir tersebut.
Tentu saja itu adalah budaya, dan bukanlah sebuah ibadah yang dicontohkan oleh nabi. Sebagai seorang terpelajar yang datang dari keluarga yang terpengaruh ideologi Islam modern, tentu saja Aku menolaknya. Namun, ada banyak alasan yang membuatku ragu akan penolakanku selama ini kalau tidak mampu dikatakan bahwa Aku menerima budaya tersebut tetap berkembang dan dilaksanakan di Aceh.
Selama tujuh hari tujuh malam itulah Aku menyaksikan sebuah sistem kekerabatan masyarakat yang sangat ganjil namun mampu membuatku takjub. Bayangkan, selama tujuh hari tujuh malam itu, Aku menyaksikan sekelompok orang dengan menaiki motor atau mobil bak terbuka beramai-ramai datang silih berganti melakukan Samadiah di rumah nenek Kami. Bapak-bapak, ibu-ibu bahkan sampai yang muda-muda dan anak kecil sekalipun.
Aku penasaran, lalu bertanya pada beberapa orang desa Kami yang mengerti. Pertanyaanku kurang lebih :
“Desa Kita kecil, mengapa sepertinya sudah tiga hari tiga malam ini orang yang datang Samadiah kok banyak sekali, Mereka juga datang dengan motor dan mobil, padahal desa Kita kecil sekali”
Jawaban yang kuterima adalah Mereka datang dari desa lain. Bukan hanya desa tetangga, namun dari desa yang sangat jauh. Umumnya Mereka yang datang adalah keluarga yang masih memiliki ikatan saudara dengan keluarga yang ditinggalkan walaupun ikatan tersebut sudah samar dan tak dapat dikenali lagi.
Hal lain yang membuatku takjub adalah Mereka yang datang ‘jauh-jauh’ rela datang berpeluh-peluh padahal waktu yang Mereka habiskan di rumah nenek Kami hanya sebentar saja. Setelah melakukan zikir, Mereka akan menyantap kue penganan secara cepat, tidak berleha-leha dan tidak sempat menikmati semua makanan dan minuman yang disediakan. Itu dibuktikan saat Aku melihat idang(tempat diletakkannya berbagai macam kue yang ukuran diameternya sebesar tangan orang dewasa) masih menyisakan banyak sekali kue dan minuman. Hanya tiga menit, kira-kira sesingkat itu kesempatan Mereka untuk makan.
Sementara, rombongan desa terjauh yang pernah kutanyakan adalah dari salahsatu desa di kecamatan Tijue. Bagi warga Yogyakarta, jarak antara desa Kami dengan desa tersebut adalah seperti jarak antara jalan Malioboro ke jalan Seturan Raya(UPN Pusat). Bagi warga Banda Aceh, jarak tersebut seperti antara masjid raya Baiturrahman ke Darussalam.
Kekerabatan di Gampong Pulo Tu

Jarak tersebut jika di kota memang tidak terlalu jauh apalagi jika menggunakan motor ataupun mobil pribadi. Namun beda situasinya di desa, dengan keterbatasan dana, tingkat kemiskinan yang tinggi dan dengan mengingat kegiatan yang dilakukan hanyalah berdo’a serta untuk mengisi perut dengan waktu yang singkat, jarak tersebut dapat dikategorikan sebagai sebuah aktifitas yang berat.
Di desa Kami, dan juga di tempat-tempat kegiatan Samadiah lain, pemuda-pemudi desa datang secara sukarelawan untuk membantu. Bagi gadis-gadis, Mereka datang untuk memasak dan mengatur idang. Sementara bagi laki-laki, Mereka mengatur tempat duduk para pezikir dan mendistribusikan idang dengan rapi dan memastikan semua tamu mendapatkan makanan dan minuman secara adil. Sikap sukarelawan ini pula yang kuanggap menakjubkan yang datang dari sistem Samadiah ini.
Kekerabatan ini lah yang membuatku ragu akan ‘keharaman’ Samadiah ini. Apalagi Aku mendengar bahwa ada sebuah keluarga di desa Kami yang kehabisan berasnya tepat sehari sebelum Samadiah di rumah nenek Kami di selenggarakan. Keluarga itu datang dari keluarga miskin. Beras yang digunakan beberapa waktu yang lalu juga adalah hasil dari pinjaman uang kepada orang-orang

(4) Darussalam to 'Darussalam' : Enakan mana? Aceh atau Jogja

21 Agustus 2014
    Saya sedang di Banda Aceh. Ada sebuah pertanyaan yang ditanyakan kepada Saya oleh bang Pandi. Pertanyaan ini muncul dari pernyataan Saya bahwa Saya tidak betah tinggal di Aceh. Memangnya, apa yang membuat tidak betah disini sementara disana betah? Apa hebatnya Jogja? Begitu kira-kira jika pertanyaannya di singkat.
    Well, Saya juga merasa bingung pada awalnya sehingga membuat Saya tergagap tidak tahu harus menjawab apa.
    Mati lampu? Ucap saya dalam hati. Di Aceh mmang sering mati lampu. Tapi hati Saya urung memerintahkan mulut untuk melontarkan pendapat itu karena setelah beberapa saat disini, wilayah tempat rumah Kami berada tidak begitu sering di usik oleh PLN dengan masalah energi Mereka di Sumatera.
    Motor terus melaju. Abang Pandi duduk di belakangku menjulurkan sedikit kepalanya kedepan meminta jawaban atas pertanyaannya.

    Hmmm ... Aku terdesak dan hampir saja ku ucapkan argumen terkenal tentang Yogya, makanan yang murah. Itu bukan alasan yang logis mengingat di Banda Aceh Aku makan secara gratis dan rasanya enak setinggi langit karena itu adalah makanan Ibu Kami yang sudah mendoktrin lidah Kami sejak kecil.
    Waduh. Abang Pandi masih menunggu di belakang. Ku tancap gas motorku sebagai bentuk pengalihan isu. Kami melaju berbelok ke arah kiri setelah melewati jembatan Lamnyong dan menuruni jalan menurun di samping sungai Aceh yang indah. Abang Pandi akhirnya teralihkan. Kepalanya tidak lagi mendongak kedepan. Tapi diamnya menunjukkan kekalahan ku karena tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut padahal Aku sudah hampir empat tahun tinggal di Jogja namun belum bisa menjabarkan pesona antara tanah rencong dan Yogya. Lihatlah, bahkan untuk tulisan kotanya saja Saya bingung yang mana yang benar, apakah Jogja atau Yogya itu sendiri.
    Ramah? Aku terus berpikir walau abang Pandi sudah teralihkan. Nah, itu dia. Orang Jogja ramah-ramah. Beda dengan orang Aceh yang temperamental, curigaku karena pengaruh makanan Aceh yang banyak menggunakan rempah-rempah yang rajin mengusik emosi manusia. Pernah suatu ketika saat Aku sedang buru-buru dan harus ngebut di jalanan Jogja dengan motor, ternyata Aku tersenggol motor seorang ibu-ibu berjilbab dan berbaju jubah. Cuma tersenggol sedikit, tidak parah. Pun begitu, lazimnya orang akan marah mengingat secara umum, tingkat stress paling tinggi terdapat selama Kita di dalam perjalanan saat mengendarai motor. Tapi tidak dengan ibu ini. Beliau hanya tersenyum saja padaku. Sesaat Aku lupa akan keperluanku yang mendesak dan pada hari itu cintaku terhadap kota Jogja semakin merebak di hati melalui senyum wajah teduh ibu tersebut dan motor yang beliau kendarai.
    Berbeda dengan di Aceh. Terutama perilaku zigzag anak-anak muda di jalanan, belum lagi jalanan compang-camping serta perilaku-perilaku para pengendara motor dan mobil yang sangat mengesalkan.
    Mungkin salahsatu faktor lain yang pantas untuk aku utarakan adalah suasana kota yang tentram. Yogyakarta sendiri telah menjadi semacam destinasi akhir bagi pensiunan-pensiunan yang ingin menghabiskan waktu tua Mereka di Yogyakarta.
    Banyaknya acara atau hiburan juga menjadi faktor penting. Hampir setiap bulan ada saja acara-acara dalam berbagai level serta dalam berbagai jenis yang ada.  Salahsatu yang Aku suka adalah acara diskusi yang bertebaran dimana-mana. Diantara nya adalah Akademi Berbagi Jogja. Di akber ini, diskusi dihadiri oleh orang-orang hebat dalam bidangnya masing-masing dalam setiap topiknya. Yang paling menarik, semua acaranya tidak berbayar. Belum lagi tempat perhelatan acaranya yang diadakan di tempat-tempat yang sangat nyaman dan mewah.

    Ada lagi kajian islam yang diadakan rutin hampir setiap hari tersebar di masjid-masjid di yogyakarta. Bahkan, dalam sehari itu ada sampai 4 kajian di masjid-masjid berbeda. Bagi mahasiswa sepertiku, kajian Islam ini menarik tidak hanya karena menambah wawasan agama serta membuat hati tenang. Namun juga membuat perut kenyang dan dompet mengalami penghematan. Soalnya, setiap senin dan kamis, ada takjilan gratis pada akhir waktu kajian sore. Hehe.
    Pun begitu, hati ini tetap terpaut ke nanggroe tercinta. Suatu saat nanti, Aku berharap dapat membuat aceh senyaman hidup di jogja. Semoga Aceh dapat ramai dengan kegiatan-kegiatan positif. Semoga

(3)3000 km aceh jogja : Gajah Terbang

19 juli
    Dimana ada gula disitu ada semut. Beberapa waktu lalu Saya mengikuti sebuah seminar dengan tema keliling dunia menggunakan beasiswa. Pada satu bagian slide presentasi, pemateri meletakkan dua buah emoticon ekspresi tersenyum sementara ekspresi yang satu lagi adalah ekspresi sedih untuk menggambarkan bagaimana bersekolah dengan beasiswa di luar negeri ada senangnya dan tentu ada tantangan dan sedihnya juga. Pemateri menceritakan, saat dilain kesempatan Ia mempresentasikan slide itu di depan salahseorang peserta yang juga temannya yang pernah bersama-sama kuliah dengan beasiswa di Australia, temannya tersebut memprotes beliau dan menyarankan untuk meletakkan seharusnya 6 buah emoticon ekspresi sedih di slidenya dibanding 1 buah emoticon ekspresi senang.  
   Selama ini Kita kerap merasa iri melihat bagaimana teman-teman yang kuliah diluar negeri memposting foto Mereka yang sedang berdiri bahagia di tengah hamparan salju yang luas membentang di sekitarnya. Setelah itu, Kita pun beramai-ramai menggantungkan mimpi setinggi langit untuk bersekolah di luar negeri. Walaupun tak kesampaian, paling tidak Kita akan jatuh di peluk bintang-gemintang, begitu sabda beberapa teman yang over optimistis tanpa dibarengi dengan usaha keras. Kuliah di luar negeri pun menjadi gula yang kemudian di kerumuni oleh semut-semut. Namun tidak banyak yang sadar bahwasanya momen kesenangan yang tampak pada Kita itu hanya beberapa menit saja dibandingkan dengan jutaan menit yang Mereka habiskan pada review jurnal, laporan tugas, komunikasi dengan native speaker yang sulit, hingga shock culture yang sangat melelahkan batin.

    Yogya pun seperti gula. Terkadang sering terlihat di sosial media bagaimana hidup dalam perantauan kelihatannya asyik dan bahkan terasa seperti hebat, karena bisa hidup mandiri jauh dari orangtua. Namun di belakang itu semua tersimpan rapi cerita-cerita sedih yang dirasakan karena tidak bisa bersama dengan orang yang kita sayangi selama hidup Kita. Belum lagi kendala komunikasi yang agak berbeda dengan orang Aceh pada umumnya.
    Satu hal yang Saya sarankan kepada Mereka yang ingin mengambil keputusan seumur hidup untuk kuliah jauh dari kampung halaman : Teori Gajah Terbang. Silahkan lihat di google apa itu teori gajah terbang.

(2) Darussalam to 'Darussalam' : Aceh dan Amerika Latin

8 juni 2014. Asrama mahasiswa aceh Sabena Yogyakarta. 

   Seorang bule berkunjung. Yogya terkenal sebagai salahsatu destinasi wisata yang paling ramai dikunjungi di Indonesia selain Bandung, Jakarta dan Bali. Sudah bukan barang langka jika melihat wisatawan asing wara wiri di Yogya. Bahkan disini juga ada kampung khusus bagi orang-orang dari negara lain. Praworirataman namanya.
   Kembali ke Sabena, teman-teman berkumpul tanpa di komando. Bule itu seorang gadis. Dari Amerika Latin. Puerto Rico nama negaranya.
    Ada banyak kesamaan budaya antara Kita dengan Mereka. Terutama Kita 'Aceh' dan Kita 'Indonesia' pada umumnya. Seperti halnya Aceh, bangsa-bangsa di Amerika Selatan, yang berarti termasuk Puerto Rico, tempat asal bule ini, juga terkena dampak imperialisme 3G(Gold, Glory, Gospel) nya kebangkitan Eropa. Jika di Aceh, pernah singgah penjajah Portugis dan kompeni Belanda, maka disana kedatangan Spanyol.

    Namun ada perbedaan besar. Di Aceh, Portugis harus angkat sauh dari selat Melaka diusir oleh laksamana wanita terhebat pertama di dunia(Malahayati). Sementara Belanda, walau berhasil mempertahankan kedudukannya 'hanya' di beberapa tempat di Aceh, Mereka tetap harus menahan malu karena dari seluruh daerah penjajahan di Indonesia, hanya di Aceh kompeni Belanda ditipu habis-habisan oleh Teuku Umar. Bukan sekali, bahkan dua kali. Kontras, karena Belanda berhasil memainkan politik tipu-tipuan(devide et impera) di wilayah jajahan di seluruh Indonesia, eh di Aceh Mereka justru kena tipu. Belum lagi jika menyebutkan bagaimana seluruh kekayaan jarahan Belanda di seluruh nusantara habis tergunakan untuk meredam semangat jihad prang sabi di Nanggroe Aceh Darussalam.
    Sebaliknya di Amerika Latin, adalah gadis-gadis seperti bule ini yang kini mendiami negeri Amerika Selatan itu. Dia sendiri mengaku bahwa dia bukan keturunan asli dari suku bangsa Puerto Rico yang menetap disana sejak dahulu. Bahasa asli Puerto Rico pun sudah punah di telan zaman. Gadis bule ini, bersama dengan sebagian besar warga lain menyandang gelar warga naturalisasi paling berhasil sepanjang zaman.
    Terkadang, Aku sangat bersyukur dapat hidup di tengah-tengah bangsa yang memegang kuat ajaran agama Islam yang menentang keras segala bentuk penjajahan. Seandainya saja Amerika Latin, seandainya saja Puerto Rico dan seandainya saja bagi orang-orang Indian, suku Inca serta Aborigin telah mengenal Islam yang kokoh bukan hanya sebagai agama saja melainkan juga sebagai instrumen pertahanan dari segala bentuk penjajahan, maka sekarang Mereka mungkin sedang bercanda tawa dengan keluarga Mereka, keluarga asli keturunan nenek moyang Mereka.

(1) Darussalam to 'Darussalam' : keterpaksaan?

   Saat pertama sekali abangku, bang Pandi, datang ke jogja, ada satu pertanyaan yang masih terngiang-ngiang dalam pikirnku bahkan sampai saat ini, disaat pertanyaan itu sudah terjawab. Saat itu kami berdua sedang susuri jalanan kota Jogja yang dipenuhi oleh anak SMA hendak pulang ke rumah. Saat lihat gadis-gadis sekolah Muhammadiyah ber jilbab ria berpeluh menunggu bis, pertanyaan itu pun muncul :

"Kenapa orang-orang disini memakai jilbab?"
Aku heran. Pertanyaan macam apa itu.
"Iya, kalau di Aceh kan, berjilbab itu aturan. Jilbab juga adalah budaya islami yang kalau tidak dilaksanakan akan di pandang aneh. Kalau disini kan nggak?", tapi setelah dipikir-pikir ada benarnya juga pertanyaan abangku ini. Suatu hal yang belum sempat hinggap di kepalaku selama dua tahun di Jogja.
    Mungkin beliau tidak tahu, kalau Jogja adalah tempat lahirnya salahsatu dari dua organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia : Muhammadiyah. Salahsatu prestasi terbesar dari ormas ini adalah meng-islam-kan kembali masyarakat pribumi yang telah termakan ajaran islam kejawen yang konon katanya di lancarkan oleh kaphe Belanda saat itu.
    Lalu lahirlah Muhammadiyah, sebagai organisasi yang jadi penyelamat akidah umat islam di tanah jawa. Tokoh pendiri nya adalah K.H. Ahmad Dahlan. Bahkan kisah hidup beliau sudah di film kan oleh sutradara terkenal, salahsatu alumni sekolah Muhammadiyah : Hanung Bramantyo.
Dari kemunculan hingga sekarang, Muhammadiyah terus berkembang bahkan sampai ke seluruh Indonesia dengan ideologi nya yang konon dipinjam dari Ikhwanul Muslimin di Mesir : Tarbiyah.
***---***---***---***
    Sejak saat itu, aku selalu berpikir tentang Aceh, tentang Islam orang Aceh saat ini, yang dulu meng Islam kan seluruh Asia Tenggara, kini rasanya seperti hanya simbol belaka, keterpaksaan, tidak dari hati. Penuh kemunafikan. Ber jilbab agar tidak kena tangkap petugas syari'ah.
    Mendidih darah rasanya jika melihat statement-statement semacam itu, begitu pula dengan Saya. Tapi, akuilah, keadaan memang berbicara seperti itu. Saya sendiri yang tinggal di Yogya di tengah-tengah masyarakat Aceh, kerap sekali melihat sikap pesimis bahkan anak-anak muda Aceh yang kelak akan memimpin Nanggroe akan sistem syari'at islam : sistem yang pernah membawa nama Aceh ke dalam satu dari lima kerajaan adidaya di dunia di masanya.
    Tidak hanya di dalam masyarakat Aceh di perantauan, di Aceh juga begitu, kerap terdengar ejekan-ejekan terhadap syari'at islam dari mulut-mulut pemuda-pemudi Aceh yang mengaku mengagumi Cut Nyak Dhien, Teuku Umar, Tgk. Cik Di Tiro dan Tgk Daud Beureueh. Mereka tidak sadar yang dikagumi dulu berjuang berlumuran darah dengan satu tujuan : Syari'at Islam tetap tegak di ujung Sumatera, memberi cahaya kebenaran kepada dunia.

    Di lesehan kota Jogja, saat menikmati nasi kucing, Aku kagum pada pedagang angkringan yang memakai Blangkon (penutup kepala khas Yogya) dengan bangga walau Blangkon sedianya adalah simbol kampungan. Aku berharap suatu saat nanti Kita akan bangga menggunakan simbol-simbol Islam yang pernah berjaya di Aceh dulu, bukan karena keterpaksaan, namun dengan niat yang tulus.
http://m.kompasiana.com/post/read/660060/2/13000-km-aceh-jogja-keterpaksaan.html

Merdeka Informasi

Sebagai pengguna smartphone, saya seringkali terheran-heran. Mengapa ya orang-orang pada gila dengan alat canggih yang satu ini? Sampai-sampai Saya yang baru beberapa bulan lalu mengalami musibah kejatuhan hape di jalan, tidak beberapa lama kemudian entah darimana pokoknya harus ada uang secepat mungkin untuk mengganti hape yang hilang tersebut. Padahal, jika harga hape pertama dan hape yang sekarang digabungkan, nilainya bisa mencapai 4 juta lho. Kok bisa ya?
Mungkin teman-teman yang lain juga pernah merasakan hal yang serupa. Selama ini Anda tidak punya cukup uang untuk bahkan jalan-jalan keluar kota dengan teman-teman (Ini khusus untuk kasus mahasiswa dengan orang tua berpenghasilan pas-pasan ya ...). Tapi jika sudah kepincut dengan iklan sebuah merek hape, dukun pun bertindak.
Iya kaleee ...
Yang pasti tidak perlu ditanya lagi, pasti Anda akan berusaha sekeras mungkin mengumpulkan uang demi membeli hape itu. Apakah itu harus menyisihkan uang jajan dari orangtua, atau harus bekerja lembur setiap malam jaga warnet di samping kos-kosan (SemangKa ... Semangat Kakak ... ).
Ternyata guys, (Mulai serius ne ... -___- ) tingkat konsumtif Kita masyarakat Indonesia terhadap perangkat canggih seperti hape itu berasal dari perpaduan antara budaya internet Kita yang juga lagi booming di Indonesia terutama budaya ber internet ria di situs sosial media berbanding lurus dengan kesejahteraan ekonomi kalangan menengah yang juga lagi meledak. Jadi, kalo rumusnya disederhanakan :
(Gila gadget) = (Budaya ber internet di sosmed) X (Kesejahteraan ekonomi)
Sekarang coba lihat datanya guys, biar jangan dikira Saya bohong gitu khan. Dalam laporan NIELSEN(tanya sama mbah google ya siapa mas NIELSEN itu), diantara negara Asia Tenggara, hanya Indonesia yang empat dari lima aktivitas online – nya semuanya berhubungan dengan sosial media. Terus dari data SEMIOCAST (tanya sama mbah google lagi ya ... hehehe ... Sori mbah ditanyain terus ...), Jakarta ibukota negara Kita yang tercinta itu adalah kota paling ribut di Twitter se dunia. Kemudian Bandung juga termasuk yang paling ribut di Twitter tepatnya duduk manis di peringkat 6. Jangan berpikiran aneh dulu, Ini hal yang positif lho guys. Bayangkan jika Indonesia itu paling ribut di salahsatu dari dua situs sosial media terbesar di dunia, Kita dapat dengan mudah mempromosikan Indonesia mulai dari budaya seni, film, hingga produk buatan dalam negeri ke seluruh dunia tanpa harus mengeluarkan biaya keliling dunia. (Horeeee ... Plok ... Plok ... Plok ...).
Ini serius lho guys. (Coba deh serius dulu) Dalam laporan Uni Telekomunikasi Internasional, pengguna telepon genggam dengan akses internet mencakup 29,5% dari seluruh penduduk dunia. Jika seluruh penduduk bumi saat ini semuanya berjumlah 7,1 miliar jiwa, itu berarti sepertiga penduduk bumi atau 2 miliar jiwa mengakses informasi melalui telepon genggam (Beuh ...). Tau gak itu artinya apa? Itu artinya ada 2 miliar pasang mata yang dapat Kita promosikan barang-barang buatan Indonesia bro. Kalo mau jual kerupuk seharga Rp.100 per bungkus saja, terus di promosikan melalui sosial media. Terus kalau saja setengah dari 2 miliar pasang mata itu tertarik terus mau membeli kerupuk Kita, kalian dijamin kaya mendadak guys. Tinggal di hitung aja :
Rp. 100.000.000.000 = Rp.100 x 1.000.000.000 pengguna internet melalui hape
Tau gak cara baca angka diatas? Seratus miliar rupiah. Benar? Pinter ... Selamat...  Anda telah menjadi juragan kerupuk dunia. Go Internasional nih yeee ... hehehe. Kayak AgnesMo aja lu.

Awan Hitam Bernama Internet
            Guys, di atas langit budaya internet di Indonesia, ternyata ada awan hitam berarak-arak yang menggelayuti. Tentu semua tahu khan kalau internet disebut juga dengan dunia virtual. Nah itu artinya, dunia virtual adalah dunia yang tidak nyata dan dibangun atas dasar angan-angan dan imajinasi manusia. Jika di dunia nyata Kita ada yang namanya negara, kemudian muncul batas-batas negara, diterapkannya aturan-aturan dan undang-undang. Maka di dunia virtual hal semacam itu nyaris tidak ada. Setiap individu ber status pengguna internet bebas melakukan apa saja di internet. Hampir semua hal yang ingin di perlihatkan maka sah-sah saja untuk di tampakkan di internet. Makanya, internet itu nilainya juga sama seperti pisau bermata dua. Ia akan berguna jika digunakan dengan tepat, namun tidak sungkan juga bisa membunuh penggunanya. Membunuh karakter, adab, nilai-nilai, hingga pandangan seseorang terhadap dunia.
            Kabar baiknya guys, masyarakat Indonesia patut bangga dengan pemerintah Kita karena di bawah kementrian Departemen Komunikasi dan Informasi, Mereka telah bersusah payah memblokir situs pornografi. Dan pornografi itu merupakan salahsatu wujud dari penggunaan pisau yang salah di internet yang berdampak buruk. Pun begitu, filterisasi oleh Depkominfo dibawah pimpinan menteri Tifatul Sembiring ini tidak lah cukup mengingat manusia memiliki seribu jalan untuk mencapai tujuannya. Istilahnya ya guys : banyak jalan menuju Roma. Hehehe. Maka oleh itu memang filter yang paling sempurna itu adalah dari diri manusia itu sendiri. Sehingga walau berjuta-juta konten yang merusak terpampang di depan Kita, tapi jika batin Kita menolak, ya konten itu tidak akan pernah ter akses.
            Selain pornografi dan konten lain yang merusak, ada juga wilayah abu-abu yang berada diantara konten-konten yang merusak dan yang berguna. Wilayah abu-abu ini menyediakan konten-konten netral yang tidak merusak juga tidak terlalu berguna. Misalkan saja sosial media. Namun jika digunakan tidak berimbang dan berlebihan, konten yang berada di dalam wilayah abu-abu ini menjurus kepada hal yang sia-sia.
Masyarakat indonesia terutama remaja sebagai pengakses internet terbanyak di Indonesia masih belum bisa memilah aktivitas mana saja yang bermanfaat dilakukan di internet. Aktivitas internet yang seharusnya dipergunakan sebaik-baiknya untuk menunjang aktivitas akademik berganti dengan aktivitas membuang-buang waktu seperti chatting dan lain sebagainya. Tidak ada yang salah dengan chatting dan sosial media. Namun, penggunaanya sering tidak berimbang sehingga kegiatan sia-sia lebih sering dilakukan. Nah sekarang, mari Kita mulai dari diri Kita sendiri untuk menggunakan internet sebaik-baiknya ya guys. Jangan asyik chatting-an mulu.

Internet Bagi Pendidikan
Sebenarnya, ada hal lain yang bisa Kita manfaatkan dari fenomena budaya internet di Indonesia yang lagi marak saat ini. Sebut saja pendidikan. Apalagi guys, pendidikan selama ini kan kesannya mahal tuh. Terus, pendidikan juga biasanya adalah barang mewah yang hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang berpenghasilan saja. Kemudian, pendidikan lebih banyak tersedia di perkotaan dan jarang bisa diakses oleh masyarakat pelosok. Nah, dengan internet, terlebih internet yang dapat diakses melalui perangkat portable seperti telepon genggam atau smartphone, wajah pendidikan Indonesia bisa di operasi plastik guys. Hehehe ... Bukan di make up lho ... seperti yang biasa dilakukan oleh pejabat pemerintah Kita selama ini.
            Pendidikan sendiri, berperan sangat penting bagi kemajuan bangsa dan negara yang baik dan modal utama penggerak ekonomi bangsa. Sering familiar gak sih dengan istilah knowledge based economy? Istilah ini sering muncul di media berita dan menjadi perhatian khusus dari pemimpin bangsa ini. Selain itu, kesuksesan sebuah negara saat bersaing dalam ekonomi global yang ketat itu bergantung sekali kepada level pendidikan pekerjanya. Intinya nih teman-teman sekalian, pendidikan itu sangat penting.
Nah, karena pendidikan itu sangat penting tapi pendidikan di Indonesia sendiri masih memiliki banyak rapor merah, internet bisa menjadi alternatif untuk menciptakan pendidikan gratis, mudah didapat, serta berpihak pada masyarakat kelas bawah. Kenapa harus pendidikan berbasis internet? Cekidot guys :
1.      Internet dapat memfasilitasi pertukaran informasi antar individu tidak hanya dalam satu negara bahkan dengan seluruh pengguna internet di seluruh dunia.
2.      Internet juga memberikan akses kepada banyak konten-konten penting yang tersedia dalam bahasa asing dari seluruh dunia sehingga menambah dinamika berpikir pelajar.
3.      Pendidikan formal dalam ruang kelas dinding empat tergantikan dengan internet yang menjadikan seluruh dunia tanpa batas-batas dinding.
4.      30 sampai 45 pelajar dalam satu kelas di sekolah menjadi 2,4 miliar pengguna internet dunia.
5.      Buku-buku pustaka yang terbatas pengetahuannya serta mahal dan berat di pikul dengan ransel bisa didapatkan secara mudah, gratis dan berlimpah di pustaka-pustaka online.
6.      Internet menjadikan para pengajar sebagai fasilitator ilmu ketimbang menjadi penyedia ilmu.
Nah, sudah jelas kan mengapa pendidikan berbasis internet lebih unggul dibandingkan dengan pendidikan tradisional. Internet jelas telah terbukti dapat menutupi kekurangan fisik yang dimiliki pendidikan formal.
Nantinya guys, pendidikan Indonesia akan memiliki sebuah metode pendidikan baru yang terbuka, fleksibel, up to date, dan interaktif. Teknologi dan alat komunikasi berbasis website yang menunjang kolaborasi dan partisipasi aktif para pelajar membuat batasan-batasan antara pendidikan formal dan non-formal akan terhapus. Hal-hal yang tidak mungkin selama ini seperti halnya pendidikan jarak jauh, kerjasama virtual, komunitas belajar online dan akses ke sumber daya dan database yang luas tak terbatas akan terwujudkan. Itulah beberapa kemungkinan yang ditawarkan internet untuk perkembangan pendidikan di Indonesia.Asyik bener khan ...
Model pendidikan ini akan memberikan akses tidak terbatas tanpa membedakan jenis kelamin, tak terbatas ruang, tak terhalang status sosial-ekonomi dan latar belakang etnis serta tidak menghalangi Mereka yang sakit ataupun cacat untuk mengecap pendidikan tingkat tinggi.
           
Pendidikan dan Smartphone
Dengan perkembangan budaya internet dan meledaknya animo masyarakat Indonesia terhadap smartphone, Indonesia dengan mudah dapat mengawinkan keduanya untuk keperluan pendidikan. Hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil mengingat beberapa negara juga sudah berhasil melakukannya.
Berikut adalah beberapa contoh penunjang pendidikan berbasis smartphone yang terhubung dengan internet maupun tidak yang sudah pernah diterapkan oleh negara-negara di dunia :
1.      Pakistan memanfaatkan SMS atau pesan singkat untuk memerangi buta aksara di negara Mereka.
2.      Program Dr. Math On Mxit yang mengajarkan matematika kepada pelajar Afrika melalui pesan singkat pula.
3.      Republik Korea Selatan mencanangkan program 5 tahun semenjak 2011 hingga 2016 untuk mengubah semua pelajaran yang tertera di buku cetak menjadi buku elektronik agar para pelajar yang tidak memiliki cukup dana dapat mendapat buku elektronik yang murah bahkan gratis.
4.      Di Ghana, sebuah aplikasi berbasis sistem operasi android dikembangkan untuk menangkap dan menampilkan data-data yang berkaitan dengan sekolah dan fasilitas-fasiltas di sekitarnya. Aplikasi ini dapat menunjang perencanaan pendidikan di tempat-tempat terpencil di seluruh negeri.
5.      Nigeria baru-baru ini telah meluncurkan salahsatu kampanye proyek pengentasan kemiskinan ter ambisius di dunia. Proyek ini melibatkan website dan aplikasi berbasis sistem operasi Android guna mengumpulkan, mengolah dan menampilkan kumpulan data dari profil seluruh sekolah di negara tersebut seperti kondisi fisik sekolah, kelengkapan infrastruktur, jumlah guru, ketersediaan alat bantu ajar serta buku pada setiap sekolah hingga sampai data tentang ketersediaan air minum bersih terdekat  di sekitar sekolah.

Merdeka Informasi
            Untuk mendukung kemerdekaan informasi yang memudahkan pendidikan bagi 240 juta masyarakat Indonesia, pemerintah Indonesia melalui perusahaan telekomunikasi terbesarnya yaitu Telkomsel memiliki cita-citanya tersendiri yaitu broadbanding the country. Artinya adalah menghubungkan Indonesia yang luas ini melalui jaringan internet berkecepatan tingkat tinggi yang dapat di akses melalui perangkat teknologi dimana saja di setiap jengkal kepulauan Indonesia.
            Namun, jalan terjal menghubungkan seluruh Indonesia melalui internet masih sangatlah jauh. Tengok saja laporan komisi broadband internasional, Indonesia menduduki peringkat ke 110 dengan penetrasi broadband sebesar hanya 1,1 persen saja. Ini membuat Kita ketinggalan lima tahun ke belakang dengan negara-negara lainnya di dunia.
Tapi jangan bersedih guys, karena usaha itu semakin hari semakin ditingkatkan. Salahsatu keseriusan pemerintah adalah dengan menggelar program Indonesia Digital Network atau disingkat IDN. IDN ini sendiri terbagi lagi menjadi beberapa program yaitu Indonesia Digital Ring, Indonesia Digital Acces serta Indonesia Digital Convergence. Nantinya program yang diharapkan rampung pada tahun 2015 ini akan menghubungkan Indonesia mulai dari Sumatera sampai Papua sejauh lebih dari 26 ribu kilometer.
Dengan berbagai upaya ini, semoga pendidikan Indonesia dapat merdeka dari kungkungan model pembelajaran tradisional yang bermasalah dan terlalu mahal bagi masyarakat kelas bawah. Dengan begitu, pendidikan Indonesia akan kembali ke fungsi dasarnya selama ini yaitu memerdekakan manusia. Semoga Indonesia dapat maju dan bangkit berdiri sejajar dengan negara-negara maju lainnya di dunia ini dan dapat ber konstribusi memperbaiki dunia menjadi tempat yang lebih baik lagi. Amiiinnn ...
Wassalam ...