Showing posts with label Darussalam to 'Darussalam'. Show all posts

(8) Darussalam to 'Darussalam' : Payung Listrik dan Persatuan Kita

    Sejak bulan September 2017 yang lalu, saya sudah menetap di Banda Aceh selama dua bulan. Saat pulang, proyek mega perluasan dan pengembangan Masjid Raya Baiturrahman yang sangat ditunggu-tunggu masyarakat Aceh baru saja selesai. Tentu saja banyak yang mengajak untuk ke masjid raya untuk sekedar mengabadikan momen di bawah payung listrik baru yang fenomenal itu. Namun, baru satu hari setelah pengumuman kelulusan LPDP pada tanggal 26 Oktober 2017, saya sempat mengunjunginya.
   Ada perasaan haru yang menusuk dalam, yang saya rasakan saat pertama kali menginjakkan kaki melihat pelataran parkir underground yang rapi. Kemudian memasuki toilet dan tempat wudhu yang bersih dan nyaman. Berjalan disepanjang koridor indah, menaiki eskalator dan tentu saja berteduh dibawah payung elektrik yang megah. Sejenak saya merasakan atmosfir masjid-masjid di Malaysia dan sekelebat lagi membandingkannya dengan kemegahan masjid raya Istiqlal di Jakarta. Haru, bukan karena kemegahannya, tapi karena baru kali ini rakyat Aceh baru bisa menikmati ini. Padahal sungguh negeri sangat subur, masyarakatnya sangat baik tapi dunia sangat kejam, bahkan saudara sendiripun tak sanggup menahan nafsunya menggerogoti tanah indah nan subur ini.
   Saya adalah generasi yang pernah merasakan haru biru berkumpul dengan sanak keluarga di taman depan masjid raya itu, sambil menyantap makanan lalu sesekali memberikan potongan-potongan kecil makanan itu kepada ikan-ikan besar yang berenang meloncat-loncat di dalam kolam. Dan perasaan haru itu kembali lagi menjadi-jadi ketika saya melihat ibu-ibu dengan keluarganya melakukan hal yang sama, namun kali ini bukan duduk ditaman melainkan di bawah keteduhan payung elektrik yang berharga puluhan milyar rupiah itu. Bukan dimasa lalu yang dimana nanggroe masih dicabik-cabik oleh konflik dan ketidakmenentuan masa depan, melainkan di masa sekarang saat dana otsus (otonomi khusus) membanjiri Aceh dan optimisme terpancar di wajah-wajah masyarakat Aceh sekarang. Haru sekali rasanya.
   Saya membayangkan, seandainya kami tidak pernah terseret dalam arus konflik di tahun 1970-an atau sejak pemberontakan DI/TII atau bahkan sejak Belanda menyatakan perang pada tahun 1873, bisa jadi masjid yang megah seperti ini tidak berdiri hanya satu saja. Melainkan puluhan, 30 puluhan lebih di seluruh Aceh. Jika saja sumber gas terbesar di dunia yang ditemukan di Arun pada tahun 1972 dulu itu benar-benar dikembalikan kepada rakyat Aceh, maka masjid ini akan lebih mewah dari ini. Bahkan fasilitas dan amenitas yang menunjang kesejahteraan masyarakat akan lebih daripada ini. Perang benar-benar telah membuat bangsa Aceh terpuruk, mundur puluhan tahun kebelakang.
#   #   #
  Lalu saya menemukan jawaban mengapa bangsa Aceh bisa seperti ini. Tidak jauh dari payung elektrik yang viral itu, tepatnya di dalam masjid raya baiturrahman ini sendiri, faktor yang menyebabkan kemunduran kami tampak jelas sekali dalam satu keteledoran kecil yang detil sekali : kerapatan shaf.
     Saat melihat bapak-bapak dengan baju lusuh (mungkin mereka adalah masyarakat Aceh di kampung yang ingin datang melihat kemegahan masjid raya), anak-anak muda dengan wajah sumringah ingin menjalankan ketaatan beribadah dalam negeri syariat serta kaum hawa yang anggun berkelompok di shaf belakang, saya tetiba teringat dengan foto para pemimpin kami yang dalam shalat idul adha 1437 H beberapa waktu lalu, mempertontonkan ketidakakraban mereka yang tampak dari kerenggangan shaf shalat mereka. Sepanjang shalat, saya tidak bisa mencapai derajat khusyuk  paripurna dikarenakan asyik menggerutu  setelah mengetahui mengapa dana otsus terbesar di Indonesia yang digelontorkan sejak 12 tahun lalu masih belum mampu melengserkan rangking kemiskinan kita dari peringkat nomor satu di Sumatera dan nomor dua di Indonesia adalah dikarenakan pemimpin-pemimpin kami yang tidak bisa menyampingkan egonya masing-masing yang berakibat meulhoo keudroe-droe (saling berkelahi), padahal musuh nyata kita adalah kemiskinan dan ketidakadilan. Dan perilaku itu berimbas kepada masyarakat karena pemimpin adalah role model bagi masyarakat.


Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2016/09/14/netizen-kritik-shaf-shalat-pemimpin-aceh-yang-saling-berjauhan
   "Rapikan shaf-shaf kalian ... ", begitu salah satu sabda beliau yang sangat terpuji tentang keutamaan shaf dalam Hr. Abu Dawud no.662, "Demi Allah, kalian merapikan shaf kalian, atau kalau tidak maka Allah akan menjadikan perselisihan diantara hati kalian."
   Senada dengan itu pula, rasul juga menekankan pesan persatuan yang sangat penting dalam tubuh umat muslim melalui shalat berjamaah. Beliau bersabda,
"Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan shalat berjamaah di lingkungan mereka, melainkan setan telah menguasai mereka. Karena itu tetaplah kalian (shalat) berjamaah, karena sesungguhnya srigala itu hanya akan menerkam kambing yang sendirian (jauh dari kawan-kawannya).” (HR. Abu Daud no. 547, An-Nasai no. 838, dan sanadnya dinyatakan hasan oleh An-Nawawi dalam Riyadh Ash-Shalihin no. 344).
   Berbicara tentang persatuan di Aceh memang sulit karena Aceh telah terkoyak oleh perang sejak seratus tahun yang lalu. Tapi dari sejarah pula kita belajar bahwa setiap upaya untuk bersatu melawan segala bentuk penjajahan, disitu kita melihat secercah cahaya. Pun kita bisa saja tidak dapat menikmati indahnya cahaya persatuan tersebut dengan mata kepala kita sendiri, namun semoga dapat menjadi hadiah terbaik bagi anak-anak dan cucu-cucu kita nantinya. Sama seperti payung elektrik dan kemegahan masjid raya baiturrahman ini yang tidak sempat disaksikan oleh para pahlawan kita. Sejatinya ini semua berangkat dari pekikan Teuku Umar, disambung heroisme Cut Nyak Dhien, disambut oleh seruan Tengku Daud Beureueh dan diakhiri oleh ijtihad Hasan Tiro. Mereka semua adalah pahlawan yang melawan penjajahan dan penyeru persatuan demi tegaknya syariat islam di Aceh, tapi tak pernah sempat melihat masyarakat Aceh yang kini teduh duduk dibawah payung elektrik.
   Sekarang mari bertanya pada diri, apakah payung elektrik ini hanya pantas digunakan untuk berteduh diri, atau sebagai simbol persatuan kita yang berteduh bersama dibawahnya untuk melaksanakan perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan yang masih saja merajalela. Untuk menjawab ini, mari melihat gambar dibawah ini :
Sumber : http://portalsatu.com/read/ekbis/penduduk-miskin-aceh-tertinggi-di-sumatera-31903

(6) Darussalam to 'Darussalam' : Ekonomi Kreatif

Sudah menjadi salahsatu kebiasaan, bagi seorang anak perantauan setelah atau ketika waktu kelulusannya sudah semakin mendekati, mereka merasakan keresahan. Terutama keresahan bagaimana akan mengarungi derasnya arus tantangan lautan dunia yang luas dengan terputusnya beasiswa dari orangtua. Sebagai keturunan bangsa Aceh, keresahan itu menjadi berlipat ganda pada angka eksponensial karena kualitas sumber daya manusia Aceh yang sangat rendah sehingga sulit ketika bersaing dengan orang lain pada tingkat nasional. Satu-satunya cara lain adalah dengan pulang kembali ke Aceh dan berkarir disana. Namun, masalah lain telah menunggu, tidak adanya lapangan pekerjaan.
Ternyata fakta mengiriskan ini belum berubah sejak puluhan tahun yang lalu. Setidaknya itu yang tergambar ketika Saya beberapa kali mengunjungi rumah salahsatu orangtua Aceh di Yogyakarta bernama pak Adrian. Beliau adalah seorang sarjana ahli kulit yang telah lama tinggal, bekerja dan bahkan menikah dengan wanita Yogyakarta. Beliau bercerita, dulu saat pertama lulus kuliah, seperti kebanyakan mahasiswa asal Aceh di luar daerah beliau langsung pulang ke tanoh indatu untuk bekerja dan memberi kontribusi untuk Aceh. 







Namun, pak Adrian harus dikecewakan karena keahlian beliau belum bisa berbuat banyak di Aceh. Yang beliau dengar adalah lagu lama : tidak ada lapangan pekerjaan. Lantas beliau pun memutuskan untuk kembali ke Jogja dan sampai saat ini berkarir sebagai ahli kulit di kota Malioboro.
Pengalaman yang berbeda di alami oleh beberapa teman saya yang setelah lulus dari studi di Jogja ataupun di daerah lain di pulau Jawa, harus dipaksa oleh waktu untuk pulang ke Aceh. Alsannya biasa : daripada terluntang-lantung di negeri orang, lebih baik menangis darah di tanah kelahiran sendiri meniti karir melakukan apa saja yang bisa dilakukan.
Ketersediaan lapangan pekerjaan, kualitas

(5) Darussalam to 'Darussalam' : Samadiah

31 Desember 2014
                Sudah sejak tanggal 26 desember 2014 kemarin Aku pulang ke Aceh. Banyak teman-teman bertanya, untuk apa? Padahal Aku belum selesai kuliah. Well, abang pertama ku yang bernama Ikhwanushafa Djailani akhirnya menikah juga, dan sebagai adiknya, Aku harus pulang.
                Ada banyak kalimat yang dapat kurangkai agar menjadi cerita-cerita yang kudapat dalam perjalanan ini. Minggu-minggu ini memang meenyimpan banyak sekali kisah yang patut kutuliskan mulai dari peringatan 10 tahun Tsunami Aceh, behind the story pernikahan abang Iwan, sampai dengan cerita-cerita musibah yang Kami alami sepanjang dua pekan belakangan seperti pengalaman berjalan sepanjang pesisir timur wlayah Aceh dan menyaksikan langsung salahsatu banjir  terparah dalam beberapa tahun terakhir ini, meninggalnya nenek(Makteuk) Kami satu-satunya di malam pernikahan abang Iwan, kemudian di susul dengan meninggalnya nenek mertua abang Iwan di beberapa hari berikutnya hingga tabrakan kecil iringan mobil Kami di perjalanan menuju tempat pernikahan di Peureulak.
Namun, ada satu hal kuamati selama berada di kampung tepatnya di desa Pu Lo Tu, keude Kampong Blang Mangki, kecamatan Simpang Tiga, kabupaten Pidie. Hal tersebut adalah sesuatu yang selama ini Aku tolak konsepnya. Baiklah, hal tersebut yang kuamati adalah sebuah budaya di Aceh yang disebut dengan Samadiah.
Seorang gadis cilik berpose di depan gapura gampong Pulo Tu

Secara singkat, Samadiah ini adalah budaya zikir bersama yang diperuntukkan kepada orang meninggal selama tujuh malam berturut-turut. Setelah zikir, biasanya keluarga yang ditinggalkan akan menyediakan kue serta minum kepada orang-orang yang datang dan berzikir di rumah penyelenggara. Bahkan, di malam terakhir, atau disebut dengan malam seunujoh(malam ke tujuh),


 peserta zikir di sediakan makanan nasi dan daging serta diberi uang saku secukupnya kepada setiap orang yang datang pada malam terakhir tersebut.
Tentu saja itu adalah budaya, dan bukanlah sebuah ibadah yang dicontohkan oleh nabi. Sebagai seorang terpelajar yang datang dari keluarga yang terpengaruh ideologi Islam modern, tentu saja Aku menolaknya. Namun, ada banyak alasan yang membuatku ragu akan penolakanku selama ini kalau tidak mampu dikatakan bahwa Aku menerima budaya tersebut tetap berkembang dan dilaksanakan di Aceh.
Selama tujuh hari tujuh malam itulah Aku menyaksikan sebuah sistem kekerabatan masyarakat yang sangat ganjil namun mampu membuatku takjub. Bayangkan, selama tujuh hari tujuh malam itu, Aku menyaksikan sekelompok orang dengan menaiki motor atau mobil bak terbuka beramai-ramai datang silih berganti melakukan Samadiah di rumah nenek Kami. Bapak-bapak, ibu-ibu bahkan sampai yang muda-muda dan anak kecil sekalipun.
Aku penasaran, lalu bertanya pada beberapa orang desa Kami yang mengerti. Pertanyaanku kurang lebih :
“Desa Kita kecil, mengapa sepertinya sudah tiga hari tiga malam ini orang yang datang Samadiah kok banyak sekali, Mereka juga datang dengan motor dan mobil, padahal desa Kita kecil sekali”
Jawaban yang kuterima adalah Mereka datang dari desa lain. Bukan hanya desa tetangga, namun dari desa yang sangat jauh. Umumnya Mereka yang datang adalah keluarga yang masih memiliki ikatan saudara dengan keluarga yang ditinggalkan walaupun ikatan tersebut sudah samar dan tak dapat dikenali lagi.
Hal lain yang membuatku takjub adalah Mereka yang datang ‘jauh-jauh’ rela datang berpeluh-peluh padahal waktu yang Mereka habiskan di rumah nenek Kami hanya sebentar saja. Setelah melakukan zikir, Mereka akan menyantap kue penganan secara cepat, tidak berleha-leha dan tidak sempat menikmati semua makanan dan minuman yang disediakan. Itu dibuktikan saat Aku melihat idang(tempat diletakkannya berbagai macam kue yang ukuran diameternya sebesar tangan orang dewasa) masih menyisakan banyak sekali kue dan minuman. Hanya tiga menit, kira-kira sesingkat itu kesempatan Mereka untuk makan.
Sementara, rombongan desa terjauh yang pernah kutanyakan adalah dari salahsatu desa di kecamatan Tijue. Bagi warga Yogyakarta, jarak antara desa Kami dengan desa tersebut adalah seperti jarak antara jalan Malioboro ke jalan Seturan Raya(UPN Pusat). Bagi warga Banda Aceh, jarak tersebut seperti antara masjid raya Baiturrahman ke Darussalam.
Kekerabatan di Gampong Pulo Tu

Jarak tersebut jika di kota memang tidak terlalu jauh apalagi jika menggunakan motor ataupun mobil pribadi. Namun beda situasinya di desa, dengan keterbatasan dana, tingkat kemiskinan yang tinggi dan dengan mengingat kegiatan yang dilakukan hanyalah berdo’a serta untuk mengisi perut dengan waktu yang singkat, jarak tersebut dapat dikategorikan sebagai sebuah aktifitas yang berat.
Di desa Kami, dan juga di tempat-tempat kegiatan Samadiah lain, pemuda-pemudi desa datang secara sukarelawan untuk membantu. Bagi gadis-gadis, Mereka datang untuk memasak dan mengatur idang. Sementara bagi laki-laki, Mereka mengatur tempat duduk para pezikir dan mendistribusikan idang dengan rapi dan memastikan semua tamu mendapatkan makanan dan minuman secara adil. Sikap sukarelawan ini pula yang kuanggap menakjubkan yang datang dari sistem Samadiah ini.
Kekerabatan ini lah yang membuatku ragu akan ‘keharaman’ Samadiah ini. Apalagi Aku mendengar bahwa ada sebuah keluarga di desa Kami yang kehabisan berasnya tepat sehari sebelum Samadiah di rumah nenek Kami di selenggarakan. Keluarga itu datang dari keluarga miskin. Beras yang digunakan beberapa waktu yang lalu juga adalah hasil dari pinjaman uang kepada orang-orang

(4) Darussalam to 'Darussalam' : Enakan mana? Aceh atau Jogja

21 Agustus 2014
    Saya sedang di Banda Aceh. Ada sebuah pertanyaan yang ditanyakan kepada Saya oleh bang Pandi. Pertanyaan ini muncul dari pernyataan Saya bahwa Saya tidak betah tinggal di Aceh. Memangnya, apa yang membuat tidak betah disini sementara disana betah? Apa hebatnya Jogja? Begitu kira-kira jika pertanyaannya di singkat.
    Well, Saya juga merasa bingung pada awalnya sehingga membuat Saya tergagap tidak tahu harus menjawab apa.
    Mati lampu? Ucap saya dalam hati. Di Aceh mmang sering mati lampu. Tapi hati Saya urung memerintahkan mulut untuk melontarkan pendapat itu karena setelah beberapa saat disini, wilayah tempat rumah Kami berada tidak begitu sering di usik oleh PLN dengan masalah energi Mereka di Sumatera.
    Motor terus melaju. Abang Pandi duduk di belakangku menjulurkan sedikit kepalanya kedepan meminta jawaban atas pertanyaannya.

    Hmmm ... Aku terdesak dan hampir saja ku ucapkan argumen terkenal tentang Yogya, makanan yang murah. Itu bukan alasan yang logis mengingat di Banda Aceh Aku makan secara gratis dan rasanya enak setinggi langit karena itu adalah makanan Ibu Kami yang sudah mendoktrin lidah Kami sejak kecil.
    Waduh. Abang Pandi masih menunggu di belakang. Ku tancap gas motorku sebagai bentuk pengalihan isu. Kami melaju berbelok ke arah kiri setelah melewati jembatan Lamnyong dan menuruni jalan menurun di samping sungai Aceh yang indah. Abang Pandi akhirnya teralihkan. Kepalanya tidak lagi mendongak kedepan. Tapi diamnya menunjukkan kekalahan ku karena tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut padahal Aku sudah hampir empat tahun tinggal di Jogja namun belum bisa menjabarkan pesona antara tanah rencong dan Yogya. Lihatlah, bahkan untuk tulisan kotanya saja Saya bingung yang mana yang benar, apakah Jogja atau Yogya itu sendiri.
    Ramah? Aku terus berpikir walau abang Pandi sudah teralihkan. Nah, itu dia. Orang Jogja ramah-ramah. Beda dengan orang Aceh yang temperamental, curigaku karena pengaruh makanan Aceh yang banyak menggunakan rempah-rempah yang rajin mengusik emosi manusia. Pernah suatu ketika saat Aku sedang buru-buru dan harus ngebut di jalanan Jogja dengan motor, ternyata Aku tersenggol motor seorang ibu-ibu berjilbab dan berbaju jubah. Cuma tersenggol sedikit, tidak parah. Pun begitu, lazimnya orang akan marah mengingat secara umum, tingkat stress paling tinggi terdapat selama Kita di dalam perjalanan saat mengendarai motor. Tapi tidak dengan ibu ini. Beliau hanya tersenyum saja padaku. Sesaat Aku lupa akan keperluanku yang mendesak dan pada hari itu cintaku terhadap kota Jogja semakin merebak di hati melalui senyum wajah teduh ibu tersebut dan motor yang beliau kendarai.
    Berbeda dengan di Aceh. Terutama perilaku zigzag anak-anak muda di jalanan, belum lagi jalanan compang-camping serta perilaku-perilaku para pengendara motor dan mobil yang sangat mengesalkan.
    Mungkin salahsatu faktor lain yang pantas untuk aku utarakan adalah suasana kota yang tentram. Yogyakarta sendiri telah menjadi semacam destinasi akhir bagi pensiunan-pensiunan yang ingin menghabiskan waktu tua Mereka di Yogyakarta.
    Banyaknya acara atau hiburan juga menjadi faktor penting. Hampir setiap bulan ada saja acara-acara dalam berbagai level serta dalam berbagai jenis yang ada.  Salahsatu yang Aku suka adalah acara diskusi yang bertebaran dimana-mana. Diantara nya adalah Akademi Berbagi Jogja. Di akber ini, diskusi dihadiri oleh orang-orang hebat dalam bidangnya masing-masing dalam setiap topiknya. Yang paling menarik, semua acaranya tidak berbayar. Belum lagi tempat perhelatan acaranya yang diadakan di tempat-tempat yang sangat nyaman dan mewah.

    Ada lagi kajian islam yang diadakan rutin hampir setiap hari tersebar di masjid-masjid di yogyakarta. Bahkan, dalam sehari itu ada sampai 4 kajian di masjid-masjid berbeda. Bagi mahasiswa sepertiku, kajian Islam ini menarik tidak hanya karena menambah wawasan agama serta membuat hati tenang. Namun juga membuat perut kenyang dan dompet mengalami penghematan. Soalnya, setiap senin dan kamis, ada takjilan gratis pada akhir waktu kajian sore. Hehe.
    Pun begitu, hati ini tetap terpaut ke nanggroe tercinta. Suatu saat nanti, Aku berharap dapat membuat aceh senyaman hidup di jogja. Semoga Aceh dapat ramai dengan kegiatan-kegiatan positif. Semoga

(3)3000 km aceh jogja : Gajah Terbang

19 juli
    Dimana ada gula disitu ada semut. Beberapa waktu lalu Saya mengikuti sebuah seminar dengan tema keliling dunia menggunakan beasiswa. Pada satu bagian slide presentasi, pemateri meletakkan dua buah emoticon ekspresi tersenyum sementara ekspresi yang satu lagi adalah ekspresi sedih untuk menggambarkan bagaimana bersekolah dengan beasiswa di luar negeri ada senangnya dan tentu ada tantangan dan sedihnya juga. Pemateri menceritakan, saat dilain kesempatan Ia mempresentasikan slide itu di depan salahseorang peserta yang juga temannya yang pernah bersama-sama kuliah dengan beasiswa di Australia, temannya tersebut memprotes beliau dan menyarankan untuk meletakkan seharusnya 6 buah emoticon ekspresi sedih di slidenya dibanding 1 buah emoticon ekspresi senang.  
   Selama ini Kita kerap merasa iri melihat bagaimana teman-teman yang kuliah diluar negeri memposting foto Mereka yang sedang berdiri bahagia di tengah hamparan salju yang luas membentang di sekitarnya. Setelah itu, Kita pun beramai-ramai menggantungkan mimpi setinggi langit untuk bersekolah di luar negeri. Walaupun tak kesampaian, paling tidak Kita akan jatuh di peluk bintang-gemintang, begitu sabda beberapa teman yang over optimistis tanpa dibarengi dengan usaha keras. Kuliah di luar negeri pun menjadi gula yang kemudian di kerumuni oleh semut-semut. Namun tidak banyak yang sadar bahwasanya momen kesenangan yang tampak pada Kita itu hanya beberapa menit saja dibandingkan dengan jutaan menit yang Mereka habiskan pada review jurnal, laporan tugas, komunikasi dengan native speaker yang sulit, hingga shock culture yang sangat melelahkan batin.

    Yogya pun seperti gula. Terkadang sering terlihat di sosial media bagaimana hidup dalam perantauan kelihatannya asyik dan bahkan terasa seperti hebat, karena bisa hidup mandiri jauh dari orangtua. Namun di belakang itu semua tersimpan rapi cerita-cerita sedih yang dirasakan karena tidak bisa bersama dengan orang yang kita sayangi selama hidup Kita. Belum lagi kendala komunikasi yang agak berbeda dengan orang Aceh pada umumnya.
    Satu hal yang Saya sarankan kepada Mereka yang ingin mengambil keputusan seumur hidup untuk kuliah jauh dari kampung halaman : Teori Gajah Terbang. Silahkan lihat di google apa itu teori gajah terbang.

(2) Darussalam to 'Darussalam' : Aceh dan Amerika Latin

8 juni 2014. Asrama mahasiswa aceh Sabena Yogyakarta. 

   Seorang bule berkunjung. Yogya terkenal sebagai salahsatu destinasi wisata yang paling ramai dikunjungi di Indonesia selain Bandung, Jakarta dan Bali. Sudah bukan barang langka jika melihat wisatawan asing wara wiri di Yogya. Bahkan disini juga ada kampung khusus bagi orang-orang dari negara lain. Praworirataman namanya.
   Kembali ke Sabena, teman-teman berkumpul tanpa di komando. Bule itu seorang gadis. Dari Amerika Latin. Puerto Rico nama negaranya.
    Ada banyak kesamaan budaya antara Kita dengan Mereka. Terutama Kita 'Aceh' dan Kita 'Indonesia' pada umumnya. Seperti halnya Aceh, bangsa-bangsa di Amerika Selatan, yang berarti termasuk Puerto Rico, tempat asal bule ini, juga terkena dampak imperialisme 3G(Gold, Glory, Gospel) nya kebangkitan Eropa. Jika di Aceh, pernah singgah penjajah Portugis dan kompeni Belanda, maka disana kedatangan Spanyol.

    Namun ada perbedaan besar. Di Aceh, Portugis harus angkat sauh dari selat Melaka diusir oleh laksamana wanita terhebat pertama di dunia(Malahayati). Sementara Belanda, walau berhasil mempertahankan kedudukannya 'hanya' di beberapa tempat di Aceh, Mereka tetap harus menahan malu karena dari seluruh daerah penjajahan di Indonesia, hanya di Aceh kompeni Belanda ditipu habis-habisan oleh Teuku Umar. Bukan sekali, bahkan dua kali. Kontras, karena Belanda berhasil memainkan politik tipu-tipuan(devide et impera) di wilayah jajahan di seluruh Indonesia, eh di Aceh Mereka justru kena tipu. Belum lagi jika menyebutkan bagaimana seluruh kekayaan jarahan Belanda di seluruh nusantara habis tergunakan untuk meredam semangat jihad prang sabi di Nanggroe Aceh Darussalam.
    Sebaliknya di Amerika Latin, adalah gadis-gadis seperti bule ini yang kini mendiami negeri Amerika Selatan itu. Dia sendiri mengaku bahwa dia bukan keturunan asli dari suku bangsa Puerto Rico yang menetap disana sejak dahulu. Bahasa asli Puerto Rico pun sudah punah di telan zaman. Gadis bule ini, bersama dengan sebagian besar warga lain menyandang gelar warga naturalisasi paling berhasil sepanjang zaman.
    Terkadang, Aku sangat bersyukur dapat hidup di tengah-tengah bangsa yang memegang kuat ajaran agama Islam yang menentang keras segala bentuk penjajahan. Seandainya saja Amerika Latin, seandainya saja Puerto Rico dan seandainya saja bagi orang-orang Indian, suku Inca serta Aborigin telah mengenal Islam yang kokoh bukan hanya sebagai agama saja melainkan juga sebagai instrumen pertahanan dari segala bentuk penjajahan, maka sekarang Mereka mungkin sedang bercanda tawa dengan keluarga Mereka, keluarga asli keturunan nenek moyang Mereka.

(1) Darussalam to 'Darussalam' : keterpaksaan?

   Saat pertama sekali abangku, bang Pandi, datang ke jogja, ada satu pertanyaan yang masih terngiang-ngiang dalam pikirnku bahkan sampai saat ini, disaat pertanyaan itu sudah terjawab. Saat itu kami berdua sedang susuri jalanan kota Jogja yang dipenuhi oleh anak SMA hendak pulang ke rumah. Saat lihat gadis-gadis sekolah Muhammadiyah ber jilbab ria berpeluh menunggu bis, pertanyaan itu pun muncul :

"Kenapa orang-orang disini memakai jilbab?"
Aku heran. Pertanyaan macam apa itu.
"Iya, kalau di Aceh kan, berjilbab itu aturan. Jilbab juga adalah budaya islami yang kalau tidak dilaksanakan akan di pandang aneh. Kalau disini kan nggak?", tapi setelah dipikir-pikir ada benarnya juga pertanyaan abangku ini. Suatu hal yang belum sempat hinggap di kepalaku selama dua tahun di Jogja.
    Mungkin beliau tidak tahu, kalau Jogja adalah tempat lahirnya salahsatu dari dua organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia : Muhammadiyah. Salahsatu prestasi terbesar dari ormas ini adalah meng-islam-kan kembali masyarakat pribumi yang telah termakan ajaran islam kejawen yang konon katanya di lancarkan oleh kaphe Belanda saat itu.
    Lalu lahirlah Muhammadiyah, sebagai organisasi yang jadi penyelamat akidah umat islam di tanah jawa. Tokoh pendiri nya adalah K.H. Ahmad Dahlan. Bahkan kisah hidup beliau sudah di film kan oleh sutradara terkenal, salahsatu alumni sekolah Muhammadiyah : Hanung Bramantyo.
Dari kemunculan hingga sekarang, Muhammadiyah terus berkembang bahkan sampai ke seluruh Indonesia dengan ideologi nya yang konon dipinjam dari Ikhwanul Muslimin di Mesir : Tarbiyah.
***---***---***---***
    Sejak saat itu, aku selalu berpikir tentang Aceh, tentang Islam orang Aceh saat ini, yang dulu meng Islam kan seluruh Asia Tenggara, kini rasanya seperti hanya simbol belaka, keterpaksaan, tidak dari hati. Penuh kemunafikan. Ber jilbab agar tidak kena tangkap petugas syari'ah.
    Mendidih darah rasanya jika melihat statement-statement semacam itu, begitu pula dengan Saya. Tapi, akuilah, keadaan memang berbicara seperti itu. Saya sendiri yang tinggal di Yogya di tengah-tengah masyarakat Aceh, kerap sekali melihat sikap pesimis bahkan anak-anak muda Aceh yang kelak akan memimpin Nanggroe akan sistem syari'at islam : sistem yang pernah membawa nama Aceh ke dalam satu dari lima kerajaan adidaya di dunia di masanya.
    Tidak hanya di dalam masyarakat Aceh di perantauan, di Aceh juga begitu, kerap terdengar ejekan-ejekan terhadap syari'at islam dari mulut-mulut pemuda-pemudi Aceh yang mengaku mengagumi Cut Nyak Dhien, Teuku Umar, Tgk. Cik Di Tiro dan Tgk Daud Beureueh. Mereka tidak sadar yang dikagumi dulu berjuang berlumuran darah dengan satu tujuan : Syari'at Islam tetap tegak di ujung Sumatera, memberi cahaya kebenaran kepada dunia.

    Di lesehan kota Jogja, saat menikmati nasi kucing, Aku kagum pada pedagang angkringan yang memakai Blangkon (penutup kepala khas Yogya) dengan bangga walau Blangkon sedianya adalah simbol kampungan. Aku berharap suatu saat nanti Kita akan bangga menggunakan simbol-simbol Islam yang pernah berjaya di Aceh dulu, bukan karena keterpaksaan, namun dengan niat yang tulus.
http://m.kompasiana.com/post/read/660060/2/13000-km-aceh-jogja-keterpaksaan.html