Showing posts with label banda aceh. Show all posts

(8) Darussalam to 'Darussalam' : Payung Listrik dan Persatuan Kita

    Sejak bulan September 2017 yang lalu, saya sudah menetap di Banda Aceh selama dua bulan. Saat pulang, proyek mega perluasan dan pengembangan Masjid Raya Baiturrahman yang sangat ditunggu-tunggu masyarakat Aceh baru saja selesai. Tentu saja banyak yang mengajak untuk ke masjid raya untuk sekedar mengabadikan momen di bawah payung listrik baru yang fenomenal itu. Namun, baru satu hari setelah pengumuman kelulusan LPDP pada tanggal 26 Oktober 2017, saya sempat mengunjunginya.
   Ada perasaan haru yang menusuk dalam, yang saya rasakan saat pertama kali menginjakkan kaki melihat pelataran parkir underground yang rapi. Kemudian memasuki toilet dan tempat wudhu yang bersih dan nyaman. Berjalan disepanjang koridor indah, menaiki eskalator dan tentu saja berteduh dibawah payung elektrik yang megah. Sejenak saya merasakan atmosfir masjid-masjid di Malaysia dan sekelebat lagi membandingkannya dengan kemegahan masjid raya Istiqlal di Jakarta. Haru, bukan karena kemegahannya, tapi karena baru kali ini rakyat Aceh baru bisa menikmati ini. Padahal sungguh negeri sangat subur, masyarakatnya sangat baik tapi dunia sangat kejam, bahkan saudara sendiripun tak sanggup menahan nafsunya menggerogoti tanah indah nan subur ini.
   Saya adalah generasi yang pernah merasakan haru biru berkumpul dengan sanak keluarga di taman depan masjid raya itu, sambil menyantap makanan lalu sesekali memberikan potongan-potongan kecil makanan itu kepada ikan-ikan besar yang berenang meloncat-loncat di dalam kolam. Dan perasaan haru itu kembali lagi menjadi-jadi ketika saya melihat ibu-ibu dengan keluarganya melakukan hal yang sama, namun kali ini bukan duduk ditaman melainkan di bawah keteduhan payung elektrik yang berharga puluhan milyar rupiah itu. Bukan dimasa lalu yang dimana nanggroe masih dicabik-cabik oleh konflik dan ketidakmenentuan masa depan, melainkan di masa sekarang saat dana otsus (otonomi khusus) membanjiri Aceh dan optimisme terpancar di wajah-wajah masyarakat Aceh sekarang. Haru sekali rasanya.
   Saya membayangkan, seandainya kami tidak pernah terseret dalam arus konflik di tahun 1970-an atau sejak pemberontakan DI/TII atau bahkan sejak Belanda menyatakan perang pada tahun 1873, bisa jadi masjid yang megah seperti ini tidak berdiri hanya satu saja. Melainkan puluhan, 30 puluhan lebih di seluruh Aceh. Jika saja sumber gas terbesar di dunia yang ditemukan di Arun pada tahun 1972 dulu itu benar-benar dikembalikan kepada rakyat Aceh, maka masjid ini akan lebih mewah dari ini. Bahkan fasilitas dan amenitas yang menunjang kesejahteraan masyarakat akan lebih daripada ini. Perang benar-benar telah membuat bangsa Aceh terpuruk, mundur puluhan tahun kebelakang.
#   #   #
  Lalu saya menemukan jawaban mengapa bangsa Aceh bisa seperti ini. Tidak jauh dari payung elektrik yang viral itu, tepatnya di dalam masjid raya baiturrahman ini sendiri, faktor yang menyebabkan kemunduran kami tampak jelas sekali dalam satu keteledoran kecil yang detil sekali : kerapatan shaf.
     Saat melihat bapak-bapak dengan baju lusuh (mungkin mereka adalah masyarakat Aceh di kampung yang ingin datang melihat kemegahan masjid raya), anak-anak muda dengan wajah sumringah ingin menjalankan ketaatan beribadah dalam negeri syariat serta kaum hawa yang anggun berkelompok di shaf belakang, saya tetiba teringat dengan foto para pemimpin kami yang dalam shalat idul adha 1437 H beberapa waktu lalu, mempertontonkan ketidakakraban mereka yang tampak dari kerenggangan shaf shalat mereka. Sepanjang shalat, saya tidak bisa mencapai derajat khusyuk  paripurna dikarenakan asyik menggerutu  setelah mengetahui mengapa dana otsus terbesar di Indonesia yang digelontorkan sejak 12 tahun lalu masih belum mampu melengserkan rangking kemiskinan kita dari peringkat nomor satu di Sumatera dan nomor dua di Indonesia adalah dikarenakan pemimpin-pemimpin kami yang tidak bisa menyampingkan egonya masing-masing yang berakibat meulhoo keudroe-droe (saling berkelahi), padahal musuh nyata kita adalah kemiskinan dan ketidakadilan. Dan perilaku itu berimbas kepada masyarakat karena pemimpin adalah role model bagi masyarakat.


Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2016/09/14/netizen-kritik-shaf-shalat-pemimpin-aceh-yang-saling-berjauhan
   "Rapikan shaf-shaf kalian ... ", begitu salah satu sabda beliau yang sangat terpuji tentang keutamaan shaf dalam Hr. Abu Dawud no.662, "Demi Allah, kalian merapikan shaf kalian, atau kalau tidak maka Allah akan menjadikan perselisihan diantara hati kalian."
   Senada dengan itu pula, rasul juga menekankan pesan persatuan yang sangat penting dalam tubuh umat muslim melalui shalat berjamaah. Beliau bersabda,
"Tidaklah tiga orang di suatu desa atau lembah yang tidak didirikan shalat berjamaah di lingkungan mereka, melainkan setan telah menguasai mereka. Karena itu tetaplah kalian (shalat) berjamaah, karena sesungguhnya srigala itu hanya akan menerkam kambing yang sendirian (jauh dari kawan-kawannya).” (HR. Abu Daud no. 547, An-Nasai no. 838, dan sanadnya dinyatakan hasan oleh An-Nawawi dalam Riyadh Ash-Shalihin no. 344).
   Berbicara tentang persatuan di Aceh memang sulit karena Aceh telah terkoyak oleh perang sejak seratus tahun yang lalu. Tapi dari sejarah pula kita belajar bahwa setiap upaya untuk bersatu melawan segala bentuk penjajahan, disitu kita melihat secercah cahaya. Pun kita bisa saja tidak dapat menikmati indahnya cahaya persatuan tersebut dengan mata kepala kita sendiri, namun semoga dapat menjadi hadiah terbaik bagi anak-anak dan cucu-cucu kita nantinya. Sama seperti payung elektrik dan kemegahan masjid raya baiturrahman ini yang tidak sempat disaksikan oleh para pahlawan kita. Sejatinya ini semua berangkat dari pekikan Teuku Umar, disambung heroisme Cut Nyak Dhien, disambut oleh seruan Tengku Daud Beureueh dan diakhiri oleh ijtihad Hasan Tiro. Mereka semua adalah pahlawan yang melawan penjajahan dan penyeru persatuan demi tegaknya syariat islam di Aceh, tapi tak pernah sempat melihat masyarakat Aceh yang kini teduh duduk dibawah payung elektrik.
   Sekarang mari bertanya pada diri, apakah payung elektrik ini hanya pantas digunakan untuk berteduh diri, atau sebagai simbol persatuan kita yang berteduh bersama dibawahnya untuk melaksanakan perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan yang masih saja merajalela. Untuk menjawab ini, mari melihat gambar dibawah ini :
Sumber : http://portalsatu.com/read/ekbis/penduduk-miskin-aceh-tertinggi-di-sumatera-31903

SABANG MAU SAMPAI KAPAN?



Tau gak guys
di tahun 2000 yang lampau, cuma ada 674 juta wisatawan di seluruh dunia. Bayangin nih, tahun 2015 angka ini naik jadi 1,2 miliarrrrrr. Figur ini akan terus naik menjadi 1,8 miliar jiwa pada 2030 nanti. Sekarang aja nih ya, satu dari tujuh orang di dunia adalah pelancong internasional.
Untuk Sabang yang dikenal eksotis nan gemulai, ini merupakan angka cantik yang dinanti-nantikan kedatangannya. Pasti banyak deh yang mau ke Sabang, apalagi setelah enam negara membentuk Coral Triangle Initiatives (CTI) atau lebih dikenal dengan nama Kawasan Segitiga Terumbu Karang Dunia. CTI sendiri katanya, punya potensi keuntungan sebesar 58 miliar dolar Amerika dengan 5,3 juta pekerjaan terpenuhi. Wowww! Angka ini diperkirakan akan meningkat tajam dalam 10 tahun mendatang.
                Masalahnya, pariwisata ibarat dua sisi mata pisau. Di satu sisi ia memberikan pemasukan yang gede buanget untuk negara dan daerah. Di sisi lain, pariwisata mengancam nilai-nilai kultur serta ekosistem setempat. Nah, oleh karena itu Sabang harus punya visi yang jelas untuk menjadi destinasi wisata bahari internasional tapi berkelanjutan hingga 100 tahun mendatang.

Pariwisata Bahari Berkelanjutan
                Pariwisata gak selalu ninggalin bekas yang destruktif kok. Sustainable tourism (pariwisata berkelanjutan) contohnya, adalah salah satu model pariwisata yang ngajakin turis turut andil terlibat dalam konservasi lingkungan. Misalkan ya, turis diajak untuk ikut terlibat dalam penanaman 1000 pohon. Bule-bule itu juga bisa diajak untuk terlibat dalam pelepasan kura-kura dan penyu ke pantai. Inilah sustainable tourism yang dibutuhkan Sabang saat ini.
Memang banyak sih yang skeptis dengan model pariwisata seperti ini. Itu karena model kayak gini butuh dana yang gak sedikit, perlu usaha besar dan melalui proses yang panjang. Tapi ya gak juga sih. Awareness terhadap gerakan pariwisata yang ramah lingkungan seperti ini semakin tenar dikalangan para pelancong internasional. Mereka gak segan merogoh kocek dalam-dalam asalkan tetap bisa menikmati perjalanan kelas wahid tanpa menyakiti bumi. Hal ini diperkuat dengan keputusan PBB yang memprioritaskan pola konservasi dalam aktivitas pariwisata dunia di tahun 2017. So, jangan takut deh memperkenalkan Sabang sebagai destinasi wisata bahari dunia yang ramah lingkungan.
                Mungkin banyak yang gak tau ya, kalo Aceh itu punya keistimewaan untuk memproduksi undang-undangnya sendiri. Namanya bukan undang-undang, tapi Qanun. Ini apa namanya kalo bukan sebuah kesempatan besar bagi kita untuk ‘merdeka’ menentukan sikap dalam mengembangkan industri pariwisata kita sendiri? Benar kan?
                Bikin aja semacam Qanun yang memerintahkan penggunaan plastik seminimal mungkin. Sekalian juga larang pembangunan fisik pariwisata yang merusak alam dan situs-situs bersejarah. Jangan lupa berdayakan komunitas lokal dengan mempekerjakan mereka dalam posisi-posisi strategis di daerah mereka sendiri serta kedepankan produk-produk lokal untuk dibeli oleh para pelancong. Mudah kan?
                Kalo ada kapal pesiar yang mau merapat ke Sabang, jangan beri izin untuk kapal-kapal yang tidak ada scrubber di kapalnya. Scrubber adalah sebuah mesin yang melenyapkan hampir semua sulfur dioxide yang merusak lingkungan laut yang keluar dari pembuangan kapal-kapal pesiar tersebut. Dengan begitu, kapal siar dari seluruh dunia dapat berlabuh ke Sabang tanpa meninggalkan jejak destruktif yang kita takutkan tadi. Pokoke, Jangan sampai terumbu karang di Sabang rusak oleh kapal-kapal pesiar ini seperti yang terjadi baru-baru ini di Raja Ampat. Ribet urusannya nanti.
                Dengan keistimewaan Qanun ini, Sabang harus punya kesadaran penuh bahwa yang memiliki kewenangan penuh untuk memberi kapal-kapal pesiar itu adalah kita sendiri. Akan lebih baik jika Sabang hanya memberi lampu hijau bagi kapal pesiar yang telah tersertifikasi sustainable saja. Sertifikat ini penting banget karena kita bisa tau kapal mana saja yang hanya menggunakan bahan makanan dari pemasok ikan yang tidak menggunakan ikan-ikan yang terancam punah. Ini adalah bentuk sempurna dari model pariwisata yang berkelanjutan.
                Untuk hotel, selain harus ramah terhadap muslim dan sesuai iklim syariat islam Aceh, Sabang juga perlu menekankan peraturan ramah lingkungan bagi hotel-hotel di Sabang. Misalkan pihak manajemen hotel harus memasang kepala shower yang aliran airnya tidak boros, penggunaan barang-barang yang bisa di recycle dan kebijakan-kebijakan lainnya yang pro lingkungan.
Untuk program tur, Sabang bisa menawarkan program conservation travel dalam setiap trip ke Sabang. Program ini menitikberatkan pada pelestarian habitat laut Sabang, sehingga setiap turis yang datang diberi kesadaran untuk memberi insentif lebih untuk perawatan lingkungan sekitar.
                Sabang juga bisa menjadi destinasi ekowisata dengan menawarkan destinasi wisata di dalam Hutan Lindung Gapang dan sekitarnya. Dengan keragaman hayati dan ekosistem yang besar, ekowisata juga bisa menarik minat para akademisi dan ahli biologi seluruh dunia. Wisata semacam ini juga dapat menarik minat ahli kupu-kupu atau yang lazim disebut sebagai lepidoperist karena keanekaragaman kupu-kupu yang cukup menarik di dalam hutan lindung ini.

Sail Sabang 2017
                Sustainable tourism dapat berfungsi dua arah. Ia dapat memberi kesadaran tentang perlunya melestarikan lingkungan sekitar bagi para wisatawan. Dilain pihak, ia juga dapat mengetuk hati pemerintah untuk lebih memperhatikan aspek kelangsungan makhluk hidup di alam liar dibandingkan perkembangan fisik dan profit semata.
                Dengan agenda Sail Sabang 2017 yang merupakan bagian dari serial Sail Indonesia yang sudah berlangsung sejak tahun 2001, maka ini adalah satu momen penting untuk membangun kesadaran bersama tentang pentingnya keberlangsungan Sabang sebagai destinasi wisata bahari internasional. Sebelum menentukan arah model pariwisata kita melalui Sail Sabang 2017 ini, mari bersama-sama kita bertanya dulu : Sabang mau sampai kapan?