(3) School for Nation Leader : Diagram Venn bernama SNL

Ada satu kebiasaan yang tidak bisa tidak dihindarkan selama dalam acara penggemblengan ini. Ada 50 orang yang ikut dalam pelatihan ini dan hampir mustahil mampu mengingat nama setiap peserta hanya dalam waktu satu malam saja. Maka, jangan heran jika ada orang yang sudah berkenalan lalu melakukan ritual itu beberapa kali lagi selama acara. Baru setelah beberapa kali itulah semua nama peserta akan bisa diingat. Aku pun demikian, jika sudah lupa, maka berusaha sebisa mungkin untuk tidak canggung bersalaman dan bertanya lagi siapa namanya, nama panggilannya, berasal dari mana dan informasi unik lain yang melekat padanya.

Jika anda pembaca merasa bosan dengan kehidupan sekitar anda yang di kelilingi oleh orang-orang dan rutinitas yang malas tak bersemangat, maka ya, SNL ini adalah tempat yang cocok buat anda merasakan atmosfir yang berbeda. Aku sendiri baru sadar ketika aku bangun di pagi hari ternyata aku benar-benar sedang berada di tengah para aktifis dari seluruh Indonesia. Nama aktifis yang tersemat di dada mereka bukan hanya kebetulan, karena di hari kedua ini, tanpa harus diingatkan seperti anak kecil lagi, mereka bangun shalat shubuh, mandi, olahraga, berangkat ke aula utama dengan tepat waktu. Artinya, mereka sudah mengerti arti dari disiplin itu sendiri. Beda dengan beberapa organisasi dan komunitas yang aku ikuti selama ini. Lamat-lamat aku mengingat, sebenarnya ini adalah salahsatu yang selama ini aku rindukan sejak aku masih di Aceh dulu : berada bersama dan bekerjsama dengan orang-orang profesional yang menghargai waktu.
   Aku sangat bersyukur dapat mengikuti acara ini dan dikelilingi oleh orang-orang hebat seperti mereka. Sama seperti diagram Venn, mahasiswa-mahasiswi hebat ini ibarat lingkaran-lingkaran berwarna yang berkumpul dalam satu pertemuan (intersection) bernama School for Nation Leader 1.
Celakanya, semalam, ketika pembagian kelompok, lingkaran paling kecil dalam diagram Venn itu terpilih untuk menjadi salahsatu dari lima ‘kage’ alias ketua kelompok. Hoegeng, nama kelompok itu, yang diusulkan oleh Syakir Daulay, mahasiswa dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Sesuai dengan nama dari pelatihan ini : School for Nation Leader, maka menolak menjadi pemimpin dalam rangkaian acara ini sama juga seperti menciderai memukul habis-habisan nama itu sendiri bukan.


COKROAMINOTO
   Kabar gembiranya, malamnya kami akan nonton film ke bioskop bersama-sama. Ini juga kabar gembira bagi beberapa orang yang tertangkap basah tidak pernah ke bioskop sama sekali sebelumnya dan pengalaman pertama masuk bioskop ini apalagi dengan tiket gratis adalah sesuatu yang patut dirayakan dengan teriakan histeris beberapa peserta akhwat ketika menerima kabar tersebut. Bioskop tersebut katanya terletak di Botani Square, sebuah mall di kota bogor. Jadi sorenya, setelah shalat ashar kami berangkat bersama-sama ke lokasi menggunakan bis yang disewa panitia. Di dalam bis, layaknya mahasiswa pada umumnya, teman-teman semakin rajin merajut tali persahabatan dengan berfoto riang dan bercanda bersama. Bis yang kecil dan panas ini tak terasa menyusahkan kami sedikitpun karena ada payung keteduhan bernama kebersamaan dan canda tawa yang membuat kami merasa adem-adem saja di dalam bis ini.

   Kami makan snack bersama-sama dan makan nasi lagi sesampai di lokasi agar setelah maghrib kami bisa langsung masuk theater. Panitia sengaja mengambil jadwal tayang setelah maghrib karena film ini panjang beud. Durasinya hampir mencapai 3 jam. Masih kurang panjang menurutku, untuk sebuah film tokoh besar sekaliber beliau. Film ini boleh jadi wajib di tonton oleh mahasiswa dan pemuda apalagi mereka yang mengaku berasal dari dalam ruh pergerakan. Pun begitu, aku juga tidak terlalu mengerti mengapa sutradara sekelas Garin Nugroho dan produser ternama Chrisitne Hakim berani-beraninya menempatkan film mereka satu slot penayangannya berbarengan dengan film franchise blockbuster Fast Furious 7. Ini sama saja dengan bunuh diri sehingga jelas saja film yang sangat penting ini sepi peminat. Bagi yang belum nonton, ayo ditonton ya.
   Mengapa film ini penting? Karena film berjudul Guru Bangsa : Tjokroaminoto ini adalah film yang menjelaskan kunci sejarah bagaimana isme-isme besar di indonesia lahir dari seorang Cokroaminoto melalui penggemblengan di rumahnya yang dijadikan kontrakan. Dan dari laporan yang beredar, film ini sepi peminat kalah pamor dari aksi Vin Diesel melawan Jason Statham ditambah dengan nostalgia bersama Paul Walker yang saat ini entah bagaimana dia mampu menjawab malaikat atas pertanyaan : 'man nabiyyuka?'.
   Back to us, untuk menambah keseriusan kami menonton film tersebut, panitia melalui pak Eibisono memberi tugas untuk membuat resume film tersebut dengan ancaman tulisan ini akan menjadi prasyarat untuk bisa mengikuti kelas esok paginya. Dasar seorang aktifis, ya angguk-angguk saja deh. Untuk panitia, dalam hati kami berkata : hanya satu lembar resume dengan waktu terbatas bukan satu dua kali kami lakoni pak. ^__^
   Namun yang terpenting adalah akhirnya kami tahu siapa guru nya Soekarnoe si tokoh nasionalis pertama Indonesia ini. Bapak Cokroaminoto ini memang kurang terkenal namanya dalam buku-buku sejarah negeri kita. Tapi banyak yang tidak tahu ternyata bapak Cokroaminoto ini yang dalam film tersebut diperankan oleh Reza Rahardian itu, adalah juga guru dari para tokoh-tokoh pergerakan lainnya dalam sejarah Indonesia. Bagi yang ketika di sekolah dasar dulu nilai sejarahnya tinggi pasti ingat atau pernah membaca sekilas nama-nama semacam Semaoen, Kartosoewiryo dan Agus salim. Konco-konco ini adalah anak murid daripada pak Cokroaminoto. Lebih tepatnya jika dikatakan beliau adalah bapak kos mereka karena Mereka hidup bersama dalam satu ruangan besar, saling bertukar pikiran, dan tidur satu bantal bersama sepert sahabat di rumah sang guru bangsa yang salahsatu kamarnya disewakan bagi Mereka.
   Nama-nama diatas kemudian mewarnai sejarah perpolitikan indonesia. Semaoen adalah tokoh Sarekat Islam Merah yang ia pecah dari organisasi Sarekat Islam, pimpinan sang guru bangsa sendiri. Sarekat Islam Merah ini kemudian ber metamorfosis menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Konon, ideologi Semaoen ini terbentuk setelah ia membaca buku karangan pak Cokroaminoto yang berjudul Islam dan Sosialisme.
   Kemudian ada Kartosoewiryoe. Pasca kemerdekaan indonesia, beliau merupakan pendiri Negara Islam Indonesia (NII) yang kemudian dianggap sebagai organisasi pemerintahan tandingan (baca : pemberontak). Kartosoewiryoe kemudian di jatuhi hukuman mati oleh presiden pertama Indonesia yaitu Soekarnoe yang notabene adalah teman satu bantal tidurnya dulu. Oh iya, jika dua temannya cenderung pada ideologi Sosialisme dan Islamisme, maka Soekarnoe pada awal-awal cenderung pada ideologi Nasionalisme walau pada akhirnya nanti bung Karno berusaha untuk menggabungkannya dalam satu ideologi yang ia beri nama sendiri menjadi NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis). Kabarnya, Soekarnoe saat itu menghabiskan waktu yang sangat lama untuk menandatangani surat keputusan hukuman mati terhadap sahabatnya sendiri. Sejenak aku berpikir, jika tidak berkaca pada sejarah, maka para peserta SNL 1 2015 ini pun bisa jadi nanti akan mengalami nasib yang sama : saling lempar senyum di dalam paviliun di tahun 2015 ini tapi nanti akan saling lempar granat di tahun 2045. Na’udzubillah.
   Dari ketiga tokoh diatas, bisa kita simpulkan pada awalnya Mereka masing-masing seperti sebuah lingkaran kecil kosong dalam diagram Venn sama seperti penjelasan diatas tadi, Mereka bertemu dalam satu irisan dan lambat laun lingkaran-lingkaran itu membesar dengan corak warnanya sendiri. Namun walau Mereka berguru pada satu orang yang sama, bergurau canda dibawah satu atap yang sama dan Mereka adalah sahabat satu sama lainnya, pada akhirnya Mereka harus terlerai dan bahkan saling berbenturan.
   Sekilas SNL 1 ini juga merupakan sebuah upaya meniru apa yang telah dilakukan oleh pak Cokroaminoto dahulu kala. Apalagi, salahsatu bagian lirik dari hymne Negarawan Muda Indonesia menggubah petikan dari kalimat pamungkas dari sang guru bangsa :
Setinggi-tinggi ilmu,
Semurni keyakinan,
Seluas cita-cita,
Sebaik-baik strategi

  Namun bedanya, irisan dalam semesta ini lebih banyak yang diwakili oleh 50 lingkaran dari seluruh Indonesia. Kemudian Kami hidup di dalam paviliun-paviliun nyaman, mendapat fasilitas makan yang enak, sibuk berfoto groufie, terkantuk-kantuk menunggu coffe break kesayangan dan hanya memiliki waktu satu minggu saja untuk bertatap muka satu sama lain. Tapi dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi sekarang, apa yang dikatakan Soekarnoe dengan 10 orang pemuda mampu mengguncangkan dunia bukan suatu hal yang mustahil lagi saat ini. Tapi ya itu, asalkan generasi muda saat ini tidak disibukkan menjadi buruh pendidikan, korban teknologi, hamba hedonisme dan alpa melihat dinamika sosial disekitarnya.
            Pak Cokroaminoto dulu pernah menerbangkan pesawat kebangsaan yang berpenumpang orang-orang hebat pada zamannya. Namun karena satu dan lain hal, pesawat itu oleng dan menabrak gunung walau pada akhirnya Indonesia tetap berdiri sebagai satu negara. Kini Dompet Dhuafa --- yang di akhir sesi nanti Aku baru tahu bahwa lembaga ini dilahirkan oleh Republika, Republika dilahirkan oleh ICMI, ICMI dilahirkan oleh Habibie atas dukungan Soeharto dan kedua nama tersebut sudah pasti memiliki hubungan yang erat dengan Soekarnoe yang berguru pada perintis pertama pesawat peradaban bernama Indonesia ini --- melalui program School for Nation Leader 1 berusaha menerbangkan kembali pesawat kebangsaan itu dan berharap pesawat ini mendarat di landasan pacu Indonesia Emas pada tahun 2045 (Tepat 100 tahun kemerdekaan Indonesia). Namun yang musti diingat adalah, jika Kita tidak mempelajari blackbox pesawat kebangsaan Cokroaminoto, maka tanpa ragu Saya mengatakan : Prepare for Impact!!!
            Seperti Diagram Venn, Kita bisa jadi adalah lingkaran yang berbeda-beda warna dan ukurannya, namun hingga akhir hayat, keraskan usaha untuk tetap berada dalam irisan (Intersection) walau apapun kondisinya. Dan semoga tulisan yang ditulis oleh lingkaran terkecil dalam Diagram Venn ini bisa menjadi pengingat bahwa ada badai besar dihadapan Kita : Bersatu dalam pesawat yang sama akan selamat, membuka pintu karena takut sama artinya dengan bunuh diri.

Yogyakarta 30 April 2015

Belanda, Sang Penakluk Alam

 BELANDA SANG PENAKLUK ALAM
By : Zakiul Fahmi Jailani
                Alohaaa ... Pada tau gak ternyata Belanda juga pernah dijajah lho. Namun bedanya, Belanda dijajah oleh alam. Serius guys, faktanya 50% dari total wilayah negara kompeni ini terletak satu meter di bawah permukaan laut. Sebagian besar wilayahnya ‘dicaplok’ dan terjajah oleh air. Sehingga, banjir di Belanda berpotensi menghapus eksistensi kehidupan masyarakat Belanda dan memakan korban jiwa yang banyak sekali. Waduw, ngeri ya.
                Nah karena itulah bangsa Belanda tahu sekali cara mengatasi air. Jika ada yang bertanya siapa orang yang mampu melawan keganasan alam, maka jawabannya adalah : Dutch!!! alias orang-orang Belanda.

PERJALANAN PANJANG MELAWAN ALAM
                Guys, wilayah daratan Belanda berada di ujung utara benua Eropa yang disana bersemayam seorang dewa yang telah terkenal akan temperamennya. Hehe. Namanya : laut utara. Nenek moyang orang Belanda tidak punya pilihan lain karena laut ini terletak di daerah strategis dan hasil perikanan nya sangat melimpah. Mau tidak mau Mereka pun menetap disana dan mulai pedekate dengan laut utara yang ganas.
                Singkatnya, akhirnya nenek moyang orang Belanda membangun ini :




Sumber gambar : http://www.jqjacobs.net/archaeo/images/seip_t.jpg
 






               
Itu adalah sistem pertahanan pertama Belanda terhadap air berupa gundukan tanah. Disini Mereka tinggal dan beraktifitas tanpa takut disentuh oleh air pasang. Namun, air laut utara yang pasang yang merangsek diantara celah-celah gundukan tanah tersebut sedikit demi sedikit mengikis gundukan-gundukan tanah kecil dan pada akhirnya pertahanan itu roboh juga oleh erosi.
 Orang Belanda memikirkan cara lain dan pada akhirnya lahirlah sistem pertahanan air generasi kedua yang lebih efektif yaitu : tanggul. Ini adalah tanggul primitif pertama dan kira-kira gambarnya seperti ini :

Sumber Gambar : http://www.citg.tudelft.nl/uploads/RTEmagicC_VanDerPal_PolderConcept.jpg.jpg
     Tanggul ini dibangun dengan dinding-dinding sehingga mencegah air masuk kedalam wilayah Mereka dan menjaga tanah tetap kering. Daerah-daerah yang dapat Mereka lindungi dari serangan air laut utara semakin luas dengan tanggul ini. Seiring berjalannya waktu, benteng ini jebol juga oleh kekuatan air yang meresap dan membuat lemah struktur dasarnya. Sehingga, lambat laun air kembali menggenangi wilayah yang Mereka proteksi dan mau tidak mau bangsa Belanda harus mencari cara untuk mengusir genangan air tersebut.
                Di masa itulah Belanda memperkenalkan sebuah penemuan terbesar Mereka sepanjang sejarah : kincir angin. Fungsinya adalah mengangkat keluar air yang ada didalam wilayah pertahanan dengan cara memanfaatkan keganasan hembusan ganas angin laut utara kemudian ditangkap oleh kincir angin yang menggerakkan gerigi-gerigi besar di dalamnya dan tenaganya di gunakan untuk memompa air laut resapan kembali keluar dari tanah Mereka. Tapi satu kincir angin hanya mampu memompa air keluar dari wilayah yang dekat dan kecil sementara air yang masuk sangat deras dan jauh ke sisi terdalam. Tapi tenang saja, nenek moyang Belanda pun sudah memikirkan jalan keluarnya. Solusinya persis seperti gambar dibawah ini:


Sumber Gambar : http://www.iamexpat.nl/app/webroot/upload/files/Topics/Expat-page/Survival-kit/windmill_23.png
 
               
Untuk mengusir air laut dari daerah-daerah pelosok dan jauh, beberapa kincir angin di bangun berderetan untuk mengeringkan air di seluruh wilayah Mereka secara beruntun. Kini di era modern, kincir angin digantikan oleh mesin pompa air yang lebih efektif dan efisien seperti gambar di bawah ini :


Sumber Gambar : http://www.burnham-on-sea.com/news/2014/flood-pumps-dunball-1.jpg
 














ZUIDERZEEWERKEN
Ternyata duet tanggul dan kincir angin tidak juga mampu mengatasi keganasan laut utara. Apalagi jika marahnya sedang memuncak, tanggul-tanggul itu jebol dan air bah tidak segan-segan mengubah wajah kota-kota besar Belanda sekelas Amsterdam dan Rotterdam  hanya dalam waktu satu malam saja. Contohnya adalah banjir St. Lucia pada tanggal 14 Desember 1287 yang menyisakan korban hingga 80.000 orang dan banjir tanggal 1 Februari 1953 dengan korban berjumlah 1.836. Oleh karena itulah Belanda membangun mega proyeknya yang disebut dengan Zuiderzee yang dicetuskan oleh bapak Cornelis Lely. Ini adalah rangkaian proyek yang mencakup sistem bendungan, saluran air dan reklamasi tanah.
                Pada tau Zuiderzee gak sih? Ini nih salahsatu keajaiban dunia modern. Bendungan Zuiderzee ini menahan laju air laut utara yang dibangun sepanjang 32 km, sehingga mampu menahan keganasan air laut di sebelah utara sementara laut di sisi dalam bendungan menjadi jauh lebih ‘kalem’. Hehe. Pokoknya udah kayak mukjizat nabi Musa aja : membelah lautan. Tidak hanya menahan laju air laut yang ganas, Zuiderzee ini juga merupakan proyek untuk membuat pulau-pulau baru yang berada di bagian laut yang ‘kalem’ tadi.
                Dengan berhasilnya proyek Zuiderzee ini, pada tahun-tahun berikutnya Belanda membangun lebih banyak lagi bendungan diantara pulau-pulau Mereka yang terpisah-pisah. Hingga menyisakan tinggal satu lagi ruang besar sepanjang 9 kilometer diantara pulau Schouwen-Duiveland dan Noord-Beveland. Seperti biasa, Belanda berencana memakai cara lama dengan membangun bendungan besar tertutup untuk menahan laju air laut.
Tapi untuk pertama kalinya dalam sejarah, masyarakat Belanda tidak setuju dengan insinyur Mereka dan menolak pembangunan bendungan ini. Alasannya, karena dengan pembangunan bendungan ini, maka akan mencegah masuknya ikan dari laut lepas dan pada akhirnya memukul industri perikanan lokal . Pembangunan yang sedang berjalan dihentikan sementara dan akhirnya muncul para insinyur-insinyur Belanda generasi baru memberi satu solusi bernama yaitu Bendungan berpintu bernama : Oosterscheldekering. Bendungan ini pada waktu biasa akan selalu terbuka dan hanya akan ditutup ketika badai datang dan tinggi air laut meningkat yang dianggap membahayakan penduduk Belanda.


               









Sumber Gambar : http://imtech.com/NL/ICT/Technical-Systems/TS-Referenties/Oosterscheldekering/TS-Oosterscheldekering.jpg?hid=img;mxw=470;mxh=300
 









                Masalah yang sama juga terjadi dekat lalu lalang kapal laut tersibuk di Eropa : pelabuhan Rotterdam. Insinyur Belanda harus memikirkan cara bagaimana air laut utara yang ganas dapat dibendung ketika waktunya namun juga dapat dilalui oleh kapal laut ketika cuaca cerah. Mereka kemudian membangun sebuah bendungan yang dapat bergeser yang diberi nama :  Maeslantkering.

Sumber Gambar : http://oceans.mit.edu/wp-content/uploads/Maeslantkering-Barrier.jpg
                Seiring berjalannya waktu dan berubahnya iklim dunia, Belanda khawatir air masih akan tetap keras kepala berusaha menaklukkan Belanda. Oleh karena itulah para insinyur Belanda sudah mempersiapkan skenario terburuk di masa depan. Salahsatu strategi perang Belanda melawan air yang paling terkini adalah sebuah rencana yang disebut dengan Room for the River. Inti dari rencana ini adalah mengizinkan air laut masuk dan menggenangi beberapa daerah yang telah di siapkan ketika air bah memuncak namun air ini tetap tidak akan membahayakan. Walau sempat ditentang oleh masyarakat karena melawan paradigma perlawanan terhadap air selama ribuan tahun, namun proyek ini berjalan juga pada akhirnya.

http://www.waterfrontcenter.org/Awards/Awards2011/RiverWaal4.jpg
                Bisa jadi Belanda hanya tinggal nama suatu hari di masa depan nanti karena disapu gelombang air, tapi insinyur-insinyur Belanda pasti tidak akan tinggal diam. Mereka adalah penantang sejati alam dan selama ini Mereka tidak pernah terkalahkan.

(1) School for Nation Leader : Efek Kupu-Kupu

Efek kupu-kupu. Aku berkenalan dengan teori ini dari karya tangan seorang penulis bernama Herry Nurdi di kolom majalah Sabili, dulu saat Aku masih di bangku SMP. Saat itu Aku terkagum-kagum membaca tulisan beliau tersebut dan di banyak kesempatan teori ini benar-benar berlaku padaku. Teori ini juga yang membuatku selalu bersyukur pada ilahi : Aku bersekolah di pesantren Dayah Jeumala Amal di kabupaten pidie jaya yang baru terbentuk, Aku adalah seorang anak SMP kurus yang hidup di daerah yang baru saja di terjang Tsunami dan nyaris tidak bisa keluar dari konflik kemanusiaan berkepanjangan selama 30 tahun bahkan lebih. Hanya mimpi dan harapan serta bantuan Allah, yang membuatku tetap hidup dan bermimpi menapaki jalan yang jauh meski keadaan sekitar yang tidak menyetujui.
  Efek kupu-kupu, sama miripnya dengan efek domino dimana dengan sentuhan kecil saja pada batu pertama, maka akan membuat kekacauan yang luar biasa kepada batu-batu lain yang berdiri berjejer didekatnya. Efek kupu-kupu pun bunyinya persis seperti itu, satu kepak sayap kecil kupu-kupu di hutan Amazon jauh di pedalaman Brazil, mampu menciptakan sebuah tornado besar di New York, Amerika.
Perjalananku menuju Bogor pun begitu. Aku tak akan mendapatkan info tentang acara School for Nation Leader (SNL) ini jika tanpa ada kepakan sayap kupu-kupu yang dihembuskan sukarela oleh teman-temanku dan dari berbagai usaha serta kejadian lain yang mengiringi. Aku bisa saja menolak posisi-posisi yang diberikan, sehingga aku tidak akan berkenalan dengan orang-orang aktif progressif dan inspirasional. Aku bisa saja memilih untuk tidak berani bermimpi jauh, berjalan di jalanan para mahasiswa umumnya, namun aku memilih sebaliknya. Aku bertanya-tanya benarkah keputusanku selama ini, dan SNL adalah salahsatu jawabannya. # # # Forum Indonesia Muda, KAMMI, HMI, BEM SI, adalah beberapa nama forum pergerakan mahasiswa di Indonesia yang Aku selalu ingin menjadi bagian darinya, maka tambahkan satu lagi : School for Nation Leader, sebuah forum mahasiswa yang memiliki visi apa pupuk terbaik yang akan diberikan pada ide dan usaha ini lalu kemudian akan Kami petik bunganya pada tahun 2045 nanti, tepat pada peringatan seabad kemerdekaan Indonesia. Kesan pertama ku terhadap SNL ini jika ku rangkum dalam satu kalimat adalah : calon keluarga baru yang hangat. Maka saat pertama kali panitia meminta Kami yang lolos pada pelatihan ini untuk mengirimkan sms kesediaan apakah bisa mengikuti acara full selama 7 hari, maka Aku pun langsung membalas sms tersebut dengan antusias.
Sejak aku sekolah di pesantren Dayah Jeumala Amal Lueng Putu Pidie Jaya, aku mendapat banyak sekali teman-teman baru yang terangkum dalam sebuah keluarga baru. Tapi calon keluarga baru di SNL ini berbeda. Kita tidak pernah bertemu sebelumnya tapi kita sudah akrab duluan. Hal tersebut sangat mungkin terjadi di zaman informasi seperti ini yang mampu mendekatkan yang jauh, merapatkan yang dekat. Terutama melalui alat sosial media bernama WhatsApp, jauh hari sebelum waktu pertemuan, kami sudah saling memperkenalkan diri, mendo'akan teman yang ujian dan sidang, mak comblang-mak comblangan, menagih makanan daerah masing-masing, hingga mendo'akan anggota keluarga dari peserta lain yang sedang sakit. Aku pun ikut berkontribusi positif dengan menghubungi empat orang peserta asal Jogja melalui WhatsApp. Aku mengajak Mereka untuk berangkat bersama-sama ke Bogor dan respon Mereka sangat positif dan tentu saja mau. Hasilnya, kami bertiga dari jogja ditambah satu peserta dari Solo berangkat bersama-sama naik Kereta Api ekonomi gajahwong jurusan Lempuyangan dan turun di Jatinegara, Jakarta.
Aku mungkin bukan orang yang mudah berkomunikasi dengan orang baru, tapi dengan satu usaha kecil ini, semoga bisa menjadi satu kontribusi untuk merekatkan ukhuwwah kami keluarga baru SNL. Dan tentu saja, melalui acara ini akan ada kepakan-kepakan kecil sayap kupu-kupu lainnya yang akan mengubah hidupku membawaku keliling dunia. Ammiinnn

(6) Darussalam to 'Darussalam' : Ekonomi Kreatif

Sudah menjadi salahsatu kebiasaan, bagi seorang anak perantauan setelah atau ketika waktu kelulusannya sudah semakin mendekati, mereka merasakan keresahan. Terutama keresahan bagaimana akan mengarungi derasnya arus tantangan lautan dunia yang luas dengan terputusnya beasiswa dari orangtua. Sebagai keturunan bangsa Aceh, keresahan itu menjadi berlipat ganda pada angka eksponensial karena kualitas sumber daya manusia Aceh yang sangat rendah sehingga sulit ketika bersaing dengan orang lain pada tingkat nasional. Satu-satunya cara lain adalah dengan pulang kembali ke Aceh dan berkarir disana. Namun, masalah lain telah menunggu, tidak adanya lapangan pekerjaan.
Ternyata fakta mengiriskan ini belum berubah sejak puluhan tahun yang lalu. Setidaknya itu yang tergambar ketika Saya beberapa kali mengunjungi rumah salahsatu orangtua Aceh di Yogyakarta bernama pak Adrian. Beliau adalah seorang sarjana ahli kulit yang telah lama tinggal, bekerja dan bahkan menikah dengan wanita Yogyakarta. Beliau bercerita, dulu saat pertama lulus kuliah, seperti kebanyakan mahasiswa asal Aceh di luar daerah beliau langsung pulang ke tanoh indatu untuk bekerja dan memberi kontribusi untuk Aceh. 







Namun, pak Adrian harus dikecewakan karena keahlian beliau belum bisa berbuat banyak di Aceh. Yang beliau dengar adalah lagu lama : tidak ada lapangan pekerjaan. Lantas beliau pun memutuskan untuk kembali ke Jogja dan sampai saat ini berkarir sebagai ahli kulit di kota Malioboro.
Pengalaman yang berbeda di alami oleh beberapa teman saya yang setelah lulus dari studi di Jogja ataupun di daerah lain di pulau Jawa, harus dipaksa oleh waktu untuk pulang ke Aceh. Alsannya biasa : daripada terluntang-lantung di negeri orang, lebih baik menangis darah di tanah kelahiran sendiri meniti karir melakukan apa saja yang bisa dilakukan.
Ketersediaan lapangan pekerjaan, kualitas

Dissimilar Home

I stood among the debris falling apart on Peunayong, a Chinatown in Aceh, Indonesia's western most province. Half my body covered in black water came out from the deep sea flooded the city. On the right and left sides people try to pull out the bodies lying on the rubble and cars were stuck on top of power pole. Cries endlessly sounded from the corners of the remnants of life in the city of the dead. Helicopters and airplanes passing busy. Trucks transporting corpses from and to mass burial sites. Animals also took part. Elephants came down the mountain try to help lifting large wooden logs spread across the main streets of the city. Aceh and the tsunami, December 26th 2014. Story will run to tens of years on our homeland, my father whispered in between sobs next to me.

June 6, 2010, i began my resolution. I arrived in Yogyakarta, 

another special region in Indonesia. But for an Acehnese like me, staying in Jogja is an irony. I am a native Acehnese who was genuine and raised in the land of Aceh while now I decided to settle migrate to Yogyakarta, home to three of the five former president of Indonesia, which in its history has a bad impression to conflict in Aceh because all the three presidents were Sukarno, Suharto and Megawati had held military operations in Aceh with a variety reasons.
But it is undeniable that Jogja, and whole of Java island is the lighthouse of knowledge in Indonesia. That’s the main reason i came here. Like it or not, I should be able to adapt, even to love my new environment.

(5) Darussalam to 'Darussalam' : Samadiah

31 Desember 2014
                Sudah sejak tanggal 26 desember 2014 kemarin Aku pulang ke Aceh. Banyak teman-teman bertanya, untuk apa? Padahal Aku belum selesai kuliah. Well, abang pertama ku yang bernama Ikhwanushafa Djailani akhirnya menikah juga, dan sebagai adiknya, Aku harus pulang.
                Ada banyak kalimat yang dapat kurangkai agar menjadi cerita-cerita yang kudapat dalam perjalanan ini. Minggu-minggu ini memang meenyimpan banyak sekali kisah yang patut kutuliskan mulai dari peringatan 10 tahun Tsunami Aceh, behind the story pernikahan abang Iwan, sampai dengan cerita-cerita musibah yang Kami alami sepanjang dua pekan belakangan seperti pengalaman berjalan sepanjang pesisir timur wlayah Aceh dan menyaksikan langsung salahsatu banjir  terparah dalam beberapa tahun terakhir ini, meninggalnya nenek(Makteuk) Kami satu-satunya di malam pernikahan abang Iwan, kemudian di susul dengan meninggalnya nenek mertua abang Iwan di beberapa hari berikutnya hingga tabrakan kecil iringan mobil Kami di perjalanan menuju tempat pernikahan di Peureulak.
Namun, ada satu hal kuamati selama berada di kampung tepatnya di desa Pu Lo Tu, keude Kampong Blang Mangki, kecamatan Simpang Tiga, kabupaten Pidie. Hal tersebut adalah sesuatu yang selama ini Aku tolak konsepnya. Baiklah, hal tersebut yang kuamati adalah sebuah budaya di Aceh yang disebut dengan Samadiah.
Seorang gadis cilik berpose di depan gapura gampong Pulo Tu

Secara singkat, Samadiah ini adalah budaya zikir bersama yang diperuntukkan kepada orang meninggal selama tujuh malam berturut-turut. Setelah zikir, biasanya keluarga yang ditinggalkan akan menyediakan kue serta minum kepada orang-orang yang datang dan berzikir di rumah penyelenggara. Bahkan, di malam terakhir, atau disebut dengan malam seunujoh(malam ke tujuh),


 peserta zikir di sediakan makanan nasi dan daging serta diberi uang saku secukupnya kepada setiap orang yang datang pada malam terakhir tersebut.
Tentu saja itu adalah budaya, dan bukanlah sebuah ibadah yang dicontohkan oleh nabi. Sebagai seorang terpelajar yang datang dari keluarga yang terpengaruh ideologi Islam modern, tentu saja Aku menolaknya. Namun, ada banyak alasan yang membuatku ragu akan penolakanku selama ini kalau tidak mampu dikatakan bahwa Aku menerima budaya tersebut tetap berkembang dan dilaksanakan di Aceh.
Selama tujuh hari tujuh malam itulah Aku menyaksikan sebuah sistem kekerabatan masyarakat yang sangat ganjil namun mampu membuatku takjub. Bayangkan, selama tujuh hari tujuh malam itu, Aku menyaksikan sekelompok orang dengan menaiki motor atau mobil bak terbuka beramai-ramai datang silih berganti melakukan Samadiah di rumah nenek Kami. Bapak-bapak, ibu-ibu bahkan sampai yang muda-muda dan anak kecil sekalipun.
Aku penasaran, lalu bertanya pada beberapa orang desa Kami yang mengerti. Pertanyaanku kurang lebih :
“Desa Kita kecil, mengapa sepertinya sudah tiga hari tiga malam ini orang yang datang Samadiah kok banyak sekali, Mereka juga datang dengan motor dan mobil, padahal desa Kita kecil sekali”
Jawaban yang kuterima adalah Mereka datang dari desa lain. Bukan hanya desa tetangga, namun dari desa yang sangat jauh. Umumnya Mereka yang datang adalah keluarga yang masih memiliki ikatan saudara dengan keluarga yang ditinggalkan walaupun ikatan tersebut sudah samar dan tak dapat dikenali lagi.
Hal lain yang membuatku takjub adalah Mereka yang datang ‘jauh-jauh’ rela datang berpeluh-peluh padahal waktu yang Mereka habiskan di rumah nenek Kami hanya sebentar saja. Setelah melakukan zikir, Mereka akan menyantap kue penganan secara cepat, tidak berleha-leha dan tidak sempat menikmati semua makanan dan minuman yang disediakan. Itu dibuktikan saat Aku melihat idang(tempat diletakkannya berbagai macam kue yang ukuran diameternya sebesar tangan orang dewasa) masih menyisakan banyak sekali kue dan minuman. Hanya tiga menit, kira-kira sesingkat itu kesempatan Mereka untuk makan.
Sementara, rombongan desa terjauh yang pernah kutanyakan adalah dari salahsatu desa di kecamatan Tijue. Bagi warga Yogyakarta, jarak antara desa Kami dengan desa tersebut adalah seperti jarak antara jalan Malioboro ke jalan Seturan Raya(UPN Pusat). Bagi warga Banda Aceh, jarak tersebut seperti antara masjid raya Baiturrahman ke Darussalam.
Kekerabatan di Gampong Pulo Tu

Jarak tersebut jika di kota memang tidak terlalu jauh apalagi jika menggunakan motor ataupun mobil pribadi. Namun beda situasinya di desa, dengan keterbatasan dana, tingkat kemiskinan yang tinggi dan dengan mengingat kegiatan yang dilakukan hanyalah berdo’a serta untuk mengisi perut dengan waktu yang singkat, jarak tersebut dapat dikategorikan sebagai sebuah aktifitas yang berat.
Di desa Kami, dan juga di tempat-tempat kegiatan Samadiah lain, pemuda-pemudi desa datang secara sukarelawan untuk membantu. Bagi gadis-gadis, Mereka datang untuk memasak dan mengatur idang. Sementara bagi laki-laki, Mereka mengatur tempat duduk para pezikir dan mendistribusikan idang dengan rapi dan memastikan semua tamu mendapatkan makanan dan minuman secara adil. Sikap sukarelawan ini pula yang kuanggap menakjubkan yang datang dari sistem Samadiah ini.
Kekerabatan ini lah yang membuatku ragu akan ‘keharaman’ Samadiah ini. Apalagi Aku mendengar bahwa ada sebuah keluarga di desa Kami yang kehabisan berasnya tepat sehari sebelum Samadiah di rumah nenek Kami di selenggarakan. Keluarga itu datang dari keluarga miskin. Beras yang digunakan beberapa waktu yang lalu juga adalah hasil dari pinjaman uang kepada orang-orang

(4) Darussalam to 'Darussalam' : Enakan mana? Aceh atau Jogja

21 Agustus 2014
    Saya sedang di Banda Aceh. Ada sebuah pertanyaan yang ditanyakan kepada Saya oleh bang Pandi. Pertanyaan ini muncul dari pernyataan Saya bahwa Saya tidak betah tinggal di Aceh. Memangnya, apa yang membuat tidak betah disini sementara disana betah? Apa hebatnya Jogja? Begitu kira-kira jika pertanyaannya di singkat.
    Well, Saya juga merasa bingung pada awalnya sehingga membuat Saya tergagap tidak tahu harus menjawab apa.
    Mati lampu? Ucap saya dalam hati. Di Aceh mmang sering mati lampu. Tapi hati Saya urung memerintahkan mulut untuk melontarkan pendapat itu karena setelah beberapa saat disini, wilayah tempat rumah Kami berada tidak begitu sering di usik oleh PLN dengan masalah energi Mereka di Sumatera.
    Motor terus melaju. Abang Pandi duduk di belakangku menjulurkan sedikit kepalanya kedepan meminta jawaban atas pertanyaannya.

    Hmmm ... Aku terdesak dan hampir saja ku ucapkan argumen terkenal tentang Yogya, makanan yang murah. Itu bukan alasan yang logis mengingat di Banda Aceh Aku makan secara gratis dan rasanya enak setinggi langit karena itu adalah makanan Ibu Kami yang sudah mendoktrin lidah Kami sejak kecil.
    Waduh. Abang Pandi masih menunggu di belakang. Ku tancap gas motorku sebagai bentuk pengalihan isu. Kami melaju berbelok ke arah kiri setelah melewati jembatan Lamnyong dan menuruni jalan menurun di samping sungai Aceh yang indah. Abang Pandi akhirnya teralihkan. Kepalanya tidak lagi mendongak kedepan. Tapi diamnya menunjukkan kekalahan ku karena tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut padahal Aku sudah hampir empat tahun tinggal di Jogja namun belum bisa menjabarkan pesona antara tanah rencong dan Yogya. Lihatlah, bahkan untuk tulisan kotanya saja Saya bingung yang mana yang benar, apakah Jogja atau Yogya itu sendiri.
    Ramah? Aku terus berpikir walau abang Pandi sudah teralihkan. Nah, itu dia. Orang Jogja ramah-ramah. Beda dengan orang Aceh yang temperamental, curigaku karena pengaruh makanan Aceh yang banyak menggunakan rempah-rempah yang rajin mengusik emosi manusia. Pernah suatu ketika saat Aku sedang buru-buru dan harus ngebut di jalanan Jogja dengan motor, ternyata Aku tersenggol motor seorang ibu-ibu berjilbab dan berbaju jubah. Cuma tersenggol sedikit, tidak parah. Pun begitu, lazimnya orang akan marah mengingat secara umum, tingkat stress paling tinggi terdapat selama Kita di dalam perjalanan saat mengendarai motor. Tapi tidak dengan ibu ini. Beliau hanya tersenyum saja padaku. Sesaat Aku lupa akan keperluanku yang mendesak dan pada hari itu cintaku terhadap kota Jogja semakin merebak di hati melalui senyum wajah teduh ibu tersebut dan motor yang beliau kendarai.
    Berbeda dengan di Aceh. Terutama perilaku zigzag anak-anak muda di jalanan, belum lagi jalanan compang-camping serta perilaku-perilaku para pengendara motor dan mobil yang sangat mengesalkan.
    Mungkin salahsatu faktor lain yang pantas untuk aku utarakan adalah suasana kota yang tentram. Yogyakarta sendiri telah menjadi semacam destinasi akhir bagi pensiunan-pensiunan yang ingin menghabiskan waktu tua Mereka di Yogyakarta.
    Banyaknya acara atau hiburan juga menjadi faktor penting. Hampir setiap bulan ada saja acara-acara dalam berbagai level serta dalam berbagai jenis yang ada.  Salahsatu yang Aku suka adalah acara diskusi yang bertebaran dimana-mana. Diantara nya adalah Akademi Berbagi Jogja. Di akber ini, diskusi dihadiri oleh orang-orang hebat dalam bidangnya masing-masing dalam setiap topiknya. Yang paling menarik, semua acaranya tidak berbayar. Belum lagi tempat perhelatan acaranya yang diadakan di tempat-tempat yang sangat nyaman dan mewah.

    Ada lagi kajian islam yang diadakan rutin hampir setiap hari tersebar di masjid-masjid di yogyakarta. Bahkan, dalam sehari itu ada sampai 4 kajian di masjid-masjid berbeda. Bagi mahasiswa sepertiku, kajian Islam ini menarik tidak hanya karena menambah wawasan agama serta membuat hati tenang. Namun juga membuat perut kenyang dan dompet mengalami penghematan. Soalnya, setiap senin dan kamis, ada takjilan gratis pada akhir waktu kajian sore. Hehe.
    Pun begitu, hati ini tetap terpaut ke nanggroe tercinta. Suatu saat nanti, Aku berharap dapat membuat aceh senyaman hidup di jogja. Semoga Aceh dapat ramai dengan kegiatan-kegiatan positif. Semoga

(3)3000 km aceh jogja : Gajah Terbang

19 juli
    Dimana ada gula disitu ada semut. Beberapa waktu lalu Saya mengikuti sebuah seminar dengan tema keliling dunia menggunakan beasiswa. Pada satu bagian slide presentasi, pemateri meletakkan dua buah emoticon ekspresi tersenyum sementara ekspresi yang satu lagi adalah ekspresi sedih untuk menggambarkan bagaimana bersekolah dengan beasiswa di luar negeri ada senangnya dan tentu ada tantangan dan sedihnya juga. Pemateri menceritakan, saat dilain kesempatan Ia mempresentasikan slide itu di depan salahseorang peserta yang juga temannya yang pernah bersama-sama kuliah dengan beasiswa di Australia, temannya tersebut memprotes beliau dan menyarankan untuk meletakkan seharusnya 6 buah emoticon ekspresi sedih di slidenya dibanding 1 buah emoticon ekspresi senang.  
   Selama ini Kita kerap merasa iri melihat bagaimana teman-teman yang kuliah diluar negeri memposting foto Mereka yang sedang berdiri bahagia di tengah hamparan salju yang luas membentang di sekitarnya. Setelah itu, Kita pun beramai-ramai menggantungkan mimpi setinggi langit untuk bersekolah di luar negeri. Walaupun tak kesampaian, paling tidak Kita akan jatuh di peluk bintang-gemintang, begitu sabda beberapa teman yang over optimistis tanpa dibarengi dengan usaha keras. Kuliah di luar negeri pun menjadi gula yang kemudian di kerumuni oleh semut-semut. Namun tidak banyak yang sadar bahwasanya momen kesenangan yang tampak pada Kita itu hanya beberapa menit saja dibandingkan dengan jutaan menit yang Mereka habiskan pada review jurnal, laporan tugas, komunikasi dengan native speaker yang sulit, hingga shock culture yang sangat melelahkan batin.

    Yogya pun seperti gula. Terkadang sering terlihat di sosial media bagaimana hidup dalam perantauan kelihatannya asyik dan bahkan terasa seperti hebat, karena bisa hidup mandiri jauh dari orangtua. Namun di belakang itu semua tersimpan rapi cerita-cerita sedih yang dirasakan karena tidak bisa bersama dengan orang yang kita sayangi selama hidup Kita. Belum lagi kendala komunikasi yang agak berbeda dengan orang Aceh pada umumnya.
    Satu hal yang Saya sarankan kepada Mereka yang ingin mengambil keputusan seumur hidup untuk kuliah jauh dari kampung halaman : Teori Gajah Terbang. Silahkan lihat di google apa itu teori gajah terbang.