(6) Darussalam to 'Darussalam' : Ekonomi Kreatif

Sudah menjadi salahsatu kebiasaan, bagi seorang anak perantauan setelah atau ketika waktu kelulusannya sudah semakin mendekati, mereka merasakan keresahan. Terutama keresahan bagaimana akan mengarungi derasnya arus tantangan lautan dunia yang luas dengan terputusnya beasiswa dari orangtua. Sebagai keturunan bangsa Aceh, keresahan itu menjadi berlipat ganda pada angka eksponensial karena kualitas sumber daya manusia Aceh yang sangat rendah sehingga sulit ketika bersaing dengan orang lain pada tingkat nasional. Satu-satunya cara lain adalah dengan pulang kembali ke Aceh dan berkarir disana. Namun, masalah lain telah menunggu, tidak adanya lapangan pekerjaan.
Ternyata fakta mengiriskan ini belum berubah sejak puluhan tahun yang lalu. Setidaknya itu yang tergambar ketika Saya beberapa kali mengunjungi rumah salahsatu orangtua Aceh di Yogyakarta bernama pak Adrian. Beliau adalah seorang sarjana ahli kulit yang telah lama tinggal, bekerja dan bahkan menikah dengan wanita Yogyakarta. Beliau bercerita, dulu saat pertama lulus kuliah, seperti kebanyakan mahasiswa asal Aceh di luar daerah beliau langsung pulang ke tanoh indatu untuk bekerja dan memberi kontribusi untuk Aceh. 







Namun, pak Adrian harus dikecewakan karena keahlian beliau belum bisa berbuat banyak di Aceh. Yang beliau dengar adalah lagu lama : tidak ada lapangan pekerjaan. Lantas beliau pun memutuskan untuk kembali ke Jogja dan sampai saat ini berkarir sebagai ahli kulit di kota Malioboro.
Pengalaman yang berbeda di alami oleh beberapa teman saya yang setelah lulus dari studi di Jogja ataupun di daerah lain di pulau Jawa, harus dipaksa oleh waktu untuk pulang ke Aceh. Alsannya biasa : daripada terluntang-lantung di negeri orang, lebih baik menangis darah di tanah kelahiran sendiri meniti karir melakukan apa saja yang bisa dilakukan.
Ketersediaan lapangan pekerjaan, kualitas

Dissimilar Home

I stood among the debris falling apart on Peunayong, a Chinatown in Aceh, Indonesia's western most province. Half my body covered in black water came out from the deep sea flooded the city. On the right and left sides people try to pull out the bodies lying on the rubble and cars were stuck on top of power pole. Cries endlessly sounded from the corners of the remnants of life in the city of the dead. Helicopters and airplanes passing busy. Trucks transporting corpses from and to mass burial sites. Animals also took part. Elephants came down the mountain try to help lifting large wooden logs spread across the main streets of the city. Aceh and the tsunami, December 26th 2014. Story will run to tens of years on our homeland, my father whispered in between sobs next to me.

June 6, 2010, i began my resolution. I arrived in Yogyakarta, 

another special region in Indonesia. But for an Acehnese like me, staying in Jogja is an irony. I am a native Acehnese who was genuine and raised in the land of Aceh while now I decided to settle migrate to Yogyakarta, home to three of the five former president of Indonesia, which in its history has a bad impression to conflict in Aceh because all the three presidents were Sukarno, Suharto and Megawati had held military operations in Aceh with a variety reasons.
But it is undeniable that Jogja, and whole of Java island is the lighthouse of knowledge in Indonesia. That’s the main reason i came here. Like it or not, I should be able to adapt, even to love my new environment.

(5) Darussalam to 'Darussalam' : Samadiah

31 Desember 2014
                Sudah sejak tanggal 26 desember 2014 kemarin Aku pulang ke Aceh. Banyak teman-teman bertanya, untuk apa? Padahal Aku belum selesai kuliah. Well, abang pertama ku yang bernama Ikhwanushafa Djailani akhirnya menikah juga, dan sebagai adiknya, Aku harus pulang.
                Ada banyak kalimat yang dapat kurangkai agar menjadi cerita-cerita yang kudapat dalam perjalanan ini. Minggu-minggu ini memang meenyimpan banyak sekali kisah yang patut kutuliskan mulai dari peringatan 10 tahun Tsunami Aceh, behind the story pernikahan abang Iwan, sampai dengan cerita-cerita musibah yang Kami alami sepanjang dua pekan belakangan seperti pengalaman berjalan sepanjang pesisir timur wlayah Aceh dan menyaksikan langsung salahsatu banjir  terparah dalam beberapa tahun terakhir ini, meninggalnya nenek(Makteuk) Kami satu-satunya di malam pernikahan abang Iwan, kemudian di susul dengan meninggalnya nenek mertua abang Iwan di beberapa hari berikutnya hingga tabrakan kecil iringan mobil Kami di perjalanan menuju tempat pernikahan di Peureulak.
Namun, ada satu hal kuamati selama berada di kampung tepatnya di desa Pu Lo Tu, keude Kampong Blang Mangki, kecamatan Simpang Tiga, kabupaten Pidie. Hal tersebut adalah sesuatu yang selama ini Aku tolak konsepnya. Baiklah, hal tersebut yang kuamati adalah sebuah budaya di Aceh yang disebut dengan Samadiah.
Seorang gadis cilik berpose di depan gapura gampong Pulo Tu

Secara singkat, Samadiah ini adalah budaya zikir bersama yang diperuntukkan kepada orang meninggal selama tujuh malam berturut-turut. Setelah zikir, biasanya keluarga yang ditinggalkan akan menyediakan kue serta minum kepada orang-orang yang datang dan berzikir di rumah penyelenggara. Bahkan, di malam terakhir, atau disebut dengan malam seunujoh(malam ke tujuh),


 peserta zikir di sediakan makanan nasi dan daging serta diberi uang saku secukupnya kepada setiap orang yang datang pada malam terakhir tersebut.
Tentu saja itu adalah budaya, dan bukanlah sebuah ibadah yang dicontohkan oleh nabi. Sebagai seorang terpelajar yang datang dari keluarga yang terpengaruh ideologi Islam modern, tentu saja Aku menolaknya. Namun, ada banyak alasan yang membuatku ragu akan penolakanku selama ini kalau tidak mampu dikatakan bahwa Aku menerima budaya tersebut tetap berkembang dan dilaksanakan di Aceh.
Selama tujuh hari tujuh malam itulah Aku menyaksikan sebuah sistem kekerabatan masyarakat yang sangat ganjil namun mampu membuatku takjub. Bayangkan, selama tujuh hari tujuh malam itu, Aku menyaksikan sekelompok orang dengan menaiki motor atau mobil bak terbuka beramai-ramai datang silih berganti melakukan Samadiah di rumah nenek Kami. Bapak-bapak, ibu-ibu bahkan sampai yang muda-muda dan anak kecil sekalipun.
Aku penasaran, lalu bertanya pada beberapa orang desa Kami yang mengerti. Pertanyaanku kurang lebih :
“Desa Kita kecil, mengapa sepertinya sudah tiga hari tiga malam ini orang yang datang Samadiah kok banyak sekali, Mereka juga datang dengan motor dan mobil, padahal desa Kita kecil sekali”
Jawaban yang kuterima adalah Mereka datang dari desa lain. Bukan hanya desa tetangga, namun dari desa yang sangat jauh. Umumnya Mereka yang datang adalah keluarga yang masih memiliki ikatan saudara dengan keluarga yang ditinggalkan walaupun ikatan tersebut sudah samar dan tak dapat dikenali lagi.
Hal lain yang membuatku takjub adalah Mereka yang datang ‘jauh-jauh’ rela datang berpeluh-peluh padahal waktu yang Mereka habiskan di rumah nenek Kami hanya sebentar saja. Setelah melakukan zikir, Mereka akan menyantap kue penganan secara cepat, tidak berleha-leha dan tidak sempat menikmati semua makanan dan minuman yang disediakan. Itu dibuktikan saat Aku melihat idang(tempat diletakkannya berbagai macam kue yang ukuran diameternya sebesar tangan orang dewasa) masih menyisakan banyak sekali kue dan minuman. Hanya tiga menit, kira-kira sesingkat itu kesempatan Mereka untuk makan.
Sementara, rombongan desa terjauh yang pernah kutanyakan adalah dari salahsatu desa di kecamatan Tijue. Bagi warga Yogyakarta, jarak antara desa Kami dengan desa tersebut adalah seperti jarak antara jalan Malioboro ke jalan Seturan Raya(UPN Pusat). Bagi warga Banda Aceh, jarak tersebut seperti antara masjid raya Baiturrahman ke Darussalam.
Kekerabatan di Gampong Pulo Tu

Jarak tersebut jika di kota memang tidak terlalu jauh apalagi jika menggunakan motor ataupun mobil pribadi. Namun beda situasinya di desa, dengan keterbatasan dana, tingkat kemiskinan yang tinggi dan dengan mengingat kegiatan yang dilakukan hanyalah berdo’a serta untuk mengisi perut dengan waktu yang singkat, jarak tersebut dapat dikategorikan sebagai sebuah aktifitas yang berat.
Di desa Kami, dan juga di tempat-tempat kegiatan Samadiah lain, pemuda-pemudi desa datang secara sukarelawan untuk membantu. Bagi gadis-gadis, Mereka datang untuk memasak dan mengatur idang. Sementara bagi laki-laki, Mereka mengatur tempat duduk para pezikir dan mendistribusikan idang dengan rapi dan memastikan semua tamu mendapatkan makanan dan minuman secara adil. Sikap sukarelawan ini pula yang kuanggap menakjubkan yang datang dari sistem Samadiah ini.
Kekerabatan ini lah yang membuatku ragu akan ‘keharaman’ Samadiah ini. Apalagi Aku mendengar bahwa ada sebuah keluarga di desa Kami yang kehabisan berasnya tepat sehari sebelum Samadiah di rumah nenek Kami di selenggarakan. Keluarga itu datang dari keluarga miskin. Beras yang digunakan beberapa waktu yang lalu juga adalah hasil dari pinjaman uang kepada orang-orang

(4) Darussalam to 'Darussalam' : Enakan mana? Aceh atau Jogja

21 Agustus 2014
    Saya sedang di Banda Aceh. Ada sebuah pertanyaan yang ditanyakan kepada Saya oleh bang Pandi. Pertanyaan ini muncul dari pernyataan Saya bahwa Saya tidak betah tinggal di Aceh. Memangnya, apa yang membuat tidak betah disini sementara disana betah? Apa hebatnya Jogja? Begitu kira-kira jika pertanyaannya di singkat.
    Well, Saya juga merasa bingung pada awalnya sehingga membuat Saya tergagap tidak tahu harus menjawab apa.
    Mati lampu? Ucap saya dalam hati. Di Aceh mmang sering mati lampu. Tapi hati Saya urung memerintahkan mulut untuk melontarkan pendapat itu karena setelah beberapa saat disini, wilayah tempat rumah Kami berada tidak begitu sering di usik oleh PLN dengan masalah energi Mereka di Sumatera.
    Motor terus melaju. Abang Pandi duduk di belakangku menjulurkan sedikit kepalanya kedepan meminta jawaban atas pertanyaannya.

    Hmmm ... Aku terdesak dan hampir saja ku ucapkan argumen terkenal tentang Yogya, makanan yang murah. Itu bukan alasan yang logis mengingat di Banda Aceh Aku makan secara gratis dan rasanya enak setinggi langit karena itu adalah makanan Ibu Kami yang sudah mendoktrin lidah Kami sejak kecil.
    Waduh. Abang Pandi masih menunggu di belakang. Ku tancap gas motorku sebagai bentuk pengalihan isu. Kami melaju berbelok ke arah kiri setelah melewati jembatan Lamnyong dan menuruni jalan menurun di samping sungai Aceh yang indah. Abang Pandi akhirnya teralihkan. Kepalanya tidak lagi mendongak kedepan. Tapi diamnya menunjukkan kekalahan ku karena tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut padahal Aku sudah hampir empat tahun tinggal di Jogja namun belum bisa menjabarkan pesona antara tanah rencong dan Yogya. Lihatlah, bahkan untuk tulisan kotanya saja Saya bingung yang mana yang benar, apakah Jogja atau Yogya itu sendiri.
    Ramah? Aku terus berpikir walau abang Pandi sudah teralihkan. Nah, itu dia. Orang Jogja ramah-ramah. Beda dengan orang Aceh yang temperamental, curigaku karena pengaruh makanan Aceh yang banyak menggunakan rempah-rempah yang rajin mengusik emosi manusia. Pernah suatu ketika saat Aku sedang buru-buru dan harus ngebut di jalanan Jogja dengan motor, ternyata Aku tersenggol motor seorang ibu-ibu berjilbab dan berbaju jubah. Cuma tersenggol sedikit, tidak parah. Pun begitu, lazimnya orang akan marah mengingat secara umum, tingkat stress paling tinggi terdapat selama Kita di dalam perjalanan saat mengendarai motor. Tapi tidak dengan ibu ini. Beliau hanya tersenyum saja padaku. Sesaat Aku lupa akan keperluanku yang mendesak dan pada hari itu cintaku terhadap kota Jogja semakin merebak di hati melalui senyum wajah teduh ibu tersebut dan motor yang beliau kendarai.
    Berbeda dengan di Aceh. Terutama perilaku zigzag anak-anak muda di jalanan, belum lagi jalanan compang-camping serta perilaku-perilaku para pengendara motor dan mobil yang sangat mengesalkan.
    Mungkin salahsatu faktor lain yang pantas untuk aku utarakan adalah suasana kota yang tentram. Yogyakarta sendiri telah menjadi semacam destinasi akhir bagi pensiunan-pensiunan yang ingin menghabiskan waktu tua Mereka di Yogyakarta.
    Banyaknya acara atau hiburan juga menjadi faktor penting. Hampir setiap bulan ada saja acara-acara dalam berbagai level serta dalam berbagai jenis yang ada.  Salahsatu yang Aku suka adalah acara diskusi yang bertebaran dimana-mana. Diantara nya adalah Akademi Berbagi Jogja. Di akber ini, diskusi dihadiri oleh orang-orang hebat dalam bidangnya masing-masing dalam setiap topiknya. Yang paling menarik, semua acaranya tidak berbayar. Belum lagi tempat perhelatan acaranya yang diadakan di tempat-tempat yang sangat nyaman dan mewah.

    Ada lagi kajian islam yang diadakan rutin hampir setiap hari tersebar di masjid-masjid di yogyakarta. Bahkan, dalam sehari itu ada sampai 4 kajian di masjid-masjid berbeda. Bagi mahasiswa sepertiku, kajian Islam ini menarik tidak hanya karena menambah wawasan agama serta membuat hati tenang. Namun juga membuat perut kenyang dan dompet mengalami penghematan. Soalnya, setiap senin dan kamis, ada takjilan gratis pada akhir waktu kajian sore. Hehe.
    Pun begitu, hati ini tetap terpaut ke nanggroe tercinta. Suatu saat nanti, Aku berharap dapat membuat aceh senyaman hidup di jogja. Semoga Aceh dapat ramai dengan kegiatan-kegiatan positif. Semoga

(3)3000 km aceh jogja : Gajah Terbang

19 juli
    Dimana ada gula disitu ada semut. Beberapa waktu lalu Saya mengikuti sebuah seminar dengan tema keliling dunia menggunakan beasiswa. Pada satu bagian slide presentasi, pemateri meletakkan dua buah emoticon ekspresi tersenyum sementara ekspresi yang satu lagi adalah ekspresi sedih untuk menggambarkan bagaimana bersekolah dengan beasiswa di luar negeri ada senangnya dan tentu ada tantangan dan sedihnya juga. Pemateri menceritakan, saat dilain kesempatan Ia mempresentasikan slide itu di depan salahseorang peserta yang juga temannya yang pernah bersama-sama kuliah dengan beasiswa di Australia, temannya tersebut memprotes beliau dan menyarankan untuk meletakkan seharusnya 6 buah emoticon ekspresi sedih di slidenya dibanding 1 buah emoticon ekspresi senang.  
   Selama ini Kita kerap merasa iri melihat bagaimana teman-teman yang kuliah diluar negeri memposting foto Mereka yang sedang berdiri bahagia di tengah hamparan salju yang luas membentang di sekitarnya. Setelah itu, Kita pun beramai-ramai menggantungkan mimpi setinggi langit untuk bersekolah di luar negeri. Walaupun tak kesampaian, paling tidak Kita akan jatuh di peluk bintang-gemintang, begitu sabda beberapa teman yang over optimistis tanpa dibarengi dengan usaha keras. Kuliah di luar negeri pun menjadi gula yang kemudian di kerumuni oleh semut-semut. Namun tidak banyak yang sadar bahwasanya momen kesenangan yang tampak pada Kita itu hanya beberapa menit saja dibandingkan dengan jutaan menit yang Mereka habiskan pada review jurnal, laporan tugas, komunikasi dengan native speaker yang sulit, hingga shock culture yang sangat melelahkan batin.

    Yogya pun seperti gula. Terkadang sering terlihat di sosial media bagaimana hidup dalam perantauan kelihatannya asyik dan bahkan terasa seperti hebat, karena bisa hidup mandiri jauh dari orangtua. Namun di belakang itu semua tersimpan rapi cerita-cerita sedih yang dirasakan karena tidak bisa bersama dengan orang yang kita sayangi selama hidup Kita. Belum lagi kendala komunikasi yang agak berbeda dengan orang Aceh pada umumnya.
    Satu hal yang Saya sarankan kepada Mereka yang ingin mengambil keputusan seumur hidup untuk kuliah jauh dari kampung halaman : Teori Gajah Terbang. Silahkan lihat di google apa itu teori gajah terbang.

(2) Darussalam to 'Darussalam' : Aceh dan Amerika Latin

8 juni 2014. Asrama mahasiswa aceh Sabena Yogyakarta. 

   Seorang bule berkunjung. Yogya terkenal sebagai salahsatu destinasi wisata yang paling ramai dikunjungi di Indonesia selain Bandung, Jakarta dan Bali. Sudah bukan barang langka jika melihat wisatawan asing wara wiri di Yogya. Bahkan disini juga ada kampung khusus bagi orang-orang dari negara lain. Praworirataman namanya.
   Kembali ke Sabena, teman-teman berkumpul tanpa di komando. Bule itu seorang gadis. Dari Amerika Latin. Puerto Rico nama negaranya.
    Ada banyak kesamaan budaya antara Kita dengan Mereka. Terutama Kita 'Aceh' dan Kita 'Indonesia' pada umumnya. Seperti halnya Aceh, bangsa-bangsa di Amerika Selatan, yang berarti termasuk Puerto Rico, tempat asal bule ini, juga terkena dampak imperialisme 3G(Gold, Glory, Gospel) nya kebangkitan Eropa. Jika di Aceh, pernah singgah penjajah Portugis dan kompeni Belanda, maka disana kedatangan Spanyol.

    Namun ada perbedaan besar. Di Aceh, Portugis harus angkat sauh dari selat Melaka diusir oleh laksamana wanita terhebat pertama di dunia(Malahayati). Sementara Belanda, walau berhasil mempertahankan kedudukannya 'hanya' di beberapa tempat di Aceh, Mereka tetap harus menahan malu karena dari seluruh daerah penjajahan di Indonesia, hanya di Aceh kompeni Belanda ditipu habis-habisan oleh Teuku Umar. Bukan sekali, bahkan dua kali. Kontras, karena Belanda berhasil memainkan politik tipu-tipuan(devide et impera) di wilayah jajahan di seluruh Indonesia, eh di Aceh Mereka justru kena tipu. Belum lagi jika menyebutkan bagaimana seluruh kekayaan jarahan Belanda di seluruh nusantara habis tergunakan untuk meredam semangat jihad prang sabi di Nanggroe Aceh Darussalam.
    Sebaliknya di Amerika Latin, adalah gadis-gadis seperti bule ini yang kini mendiami negeri Amerika Selatan itu. Dia sendiri mengaku bahwa dia bukan keturunan asli dari suku bangsa Puerto Rico yang menetap disana sejak dahulu. Bahasa asli Puerto Rico pun sudah punah di telan zaman. Gadis bule ini, bersama dengan sebagian besar warga lain menyandang gelar warga naturalisasi paling berhasil sepanjang zaman.
    Terkadang, Aku sangat bersyukur dapat hidup di tengah-tengah bangsa yang memegang kuat ajaran agama Islam yang menentang keras segala bentuk penjajahan. Seandainya saja Amerika Latin, seandainya saja Puerto Rico dan seandainya saja bagi orang-orang Indian, suku Inca serta Aborigin telah mengenal Islam yang kokoh bukan hanya sebagai agama saja melainkan juga sebagai instrumen pertahanan dari segala bentuk penjajahan, maka sekarang Mereka mungkin sedang bercanda tawa dengan keluarga Mereka, keluarga asli keturunan nenek moyang Mereka.

(1) Darussalam to 'Darussalam' : keterpaksaan?

   Saat pertama sekali abangku, bang Pandi, datang ke jogja, ada satu pertanyaan yang masih terngiang-ngiang dalam pikirnku bahkan sampai saat ini, disaat pertanyaan itu sudah terjawab. Saat itu kami berdua sedang susuri jalanan kota Jogja yang dipenuhi oleh anak SMA hendak pulang ke rumah. Saat lihat gadis-gadis sekolah Muhammadiyah ber jilbab ria berpeluh menunggu bis, pertanyaan itu pun muncul :

"Kenapa orang-orang disini memakai jilbab?"
Aku heran. Pertanyaan macam apa itu.
"Iya, kalau di Aceh kan, berjilbab itu aturan. Jilbab juga adalah budaya islami yang kalau tidak dilaksanakan akan di pandang aneh. Kalau disini kan nggak?", tapi setelah dipikir-pikir ada benarnya juga pertanyaan abangku ini. Suatu hal yang belum sempat hinggap di kepalaku selama dua tahun di Jogja.
    Mungkin beliau tidak tahu, kalau Jogja adalah tempat lahirnya salahsatu dari dua organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia : Muhammadiyah. Salahsatu prestasi terbesar dari ormas ini adalah meng-islam-kan kembali masyarakat pribumi yang telah termakan ajaran islam kejawen yang konon katanya di lancarkan oleh kaphe Belanda saat itu.
    Lalu lahirlah Muhammadiyah, sebagai organisasi yang jadi penyelamat akidah umat islam di tanah jawa. Tokoh pendiri nya adalah K.H. Ahmad Dahlan. Bahkan kisah hidup beliau sudah di film kan oleh sutradara terkenal, salahsatu alumni sekolah Muhammadiyah : Hanung Bramantyo.
Dari kemunculan hingga sekarang, Muhammadiyah terus berkembang bahkan sampai ke seluruh Indonesia dengan ideologi nya yang konon dipinjam dari Ikhwanul Muslimin di Mesir : Tarbiyah.
***---***---***---***
    Sejak saat itu, aku selalu berpikir tentang Aceh, tentang Islam orang Aceh saat ini, yang dulu meng Islam kan seluruh Asia Tenggara, kini rasanya seperti hanya simbol belaka, keterpaksaan, tidak dari hati. Penuh kemunafikan. Ber jilbab agar tidak kena tangkap petugas syari'ah.
    Mendidih darah rasanya jika melihat statement-statement semacam itu, begitu pula dengan Saya. Tapi, akuilah, keadaan memang berbicara seperti itu. Saya sendiri yang tinggal di Yogya di tengah-tengah masyarakat Aceh, kerap sekali melihat sikap pesimis bahkan anak-anak muda Aceh yang kelak akan memimpin Nanggroe akan sistem syari'at islam : sistem yang pernah membawa nama Aceh ke dalam satu dari lima kerajaan adidaya di dunia di masanya.
    Tidak hanya di dalam masyarakat Aceh di perantauan, di Aceh juga begitu, kerap terdengar ejekan-ejekan terhadap syari'at islam dari mulut-mulut pemuda-pemudi Aceh yang mengaku mengagumi Cut Nyak Dhien, Teuku Umar, Tgk. Cik Di Tiro dan Tgk Daud Beureueh. Mereka tidak sadar yang dikagumi dulu berjuang berlumuran darah dengan satu tujuan : Syari'at Islam tetap tegak di ujung Sumatera, memberi cahaya kebenaran kepada dunia.

    Di lesehan kota Jogja, saat menikmati nasi kucing, Aku kagum pada pedagang angkringan yang memakai Blangkon (penutup kepala khas Yogya) dengan bangga walau Blangkon sedianya adalah simbol kampungan. Aku berharap suatu saat nanti Kita akan bangga menggunakan simbol-simbol Islam yang pernah berjaya di Aceh dulu, bukan karena keterpaksaan, namun dengan niat yang tulus.
http://m.kompasiana.com/post/read/660060/2/13000-km-aceh-jogja-keterpaksaan.html

Merdeka Informasi

Sebagai pengguna smartphone, saya seringkali terheran-heran. Mengapa ya orang-orang pada gila dengan alat canggih yang satu ini? Sampai-sampai Saya yang baru beberapa bulan lalu mengalami musibah kejatuhan hape di jalan, tidak beberapa lama kemudian entah darimana pokoknya harus ada uang secepat mungkin untuk mengganti hape yang hilang tersebut. Padahal, jika harga hape pertama dan hape yang sekarang digabungkan, nilainya bisa mencapai 4 juta lho. Kok bisa ya?
Mungkin teman-teman yang lain juga pernah merasakan hal yang serupa. Selama ini Anda tidak punya cukup uang untuk bahkan jalan-jalan keluar kota dengan teman-teman (Ini khusus untuk kasus mahasiswa dengan orang tua berpenghasilan pas-pasan ya ...). Tapi jika sudah kepincut dengan iklan sebuah merek hape, dukun pun bertindak.
Iya kaleee ...
Yang pasti tidak perlu ditanya lagi, pasti Anda akan berusaha sekeras mungkin mengumpulkan uang demi membeli hape itu. Apakah itu harus menyisihkan uang jajan dari orangtua, atau harus bekerja lembur setiap malam jaga warnet di samping kos-kosan (SemangKa ... Semangat Kakak ... ).
Ternyata guys, (Mulai serius ne ... -___- ) tingkat konsumtif Kita masyarakat Indonesia terhadap perangkat canggih seperti hape itu berasal dari perpaduan antara budaya internet Kita yang juga lagi booming di Indonesia terutama budaya ber internet ria di situs sosial media berbanding lurus dengan kesejahteraan ekonomi kalangan menengah yang juga lagi meledak. Jadi, kalo rumusnya disederhanakan :
(Gila gadget) = (Budaya ber internet di sosmed) X (Kesejahteraan ekonomi)
Sekarang coba lihat datanya guys, biar jangan dikira Saya bohong gitu khan. Dalam laporan NIELSEN(tanya sama mbah google ya siapa mas NIELSEN itu), diantara negara Asia Tenggara, hanya Indonesia yang empat dari lima aktivitas online – nya semuanya berhubungan dengan sosial media. Terus dari data SEMIOCAST (tanya sama mbah google lagi ya ... hehehe ... Sori mbah ditanyain terus ...), Jakarta ibukota negara Kita yang tercinta itu adalah kota paling ribut di Twitter se dunia. Kemudian Bandung juga termasuk yang paling ribut di Twitter tepatnya duduk manis di peringkat 6. Jangan berpikiran aneh dulu, Ini hal yang positif lho guys. Bayangkan jika Indonesia itu paling ribut di salahsatu dari dua situs sosial media terbesar di dunia, Kita dapat dengan mudah mempromosikan Indonesia mulai dari budaya seni, film, hingga produk buatan dalam negeri ke seluruh dunia tanpa harus mengeluarkan biaya keliling dunia. (Horeeee ... Plok ... Plok ... Plok ...).
Ini serius lho guys. (Coba deh serius dulu) Dalam laporan Uni Telekomunikasi Internasional, pengguna telepon genggam dengan akses internet mencakup 29,5% dari seluruh penduduk dunia. Jika seluruh penduduk bumi saat ini semuanya berjumlah 7,1 miliar jiwa, itu berarti sepertiga penduduk bumi atau 2 miliar jiwa mengakses informasi melalui telepon genggam (Beuh ...). Tau gak itu artinya apa? Itu artinya ada 2 miliar pasang mata yang dapat Kita promosikan barang-barang buatan Indonesia bro. Kalo mau jual kerupuk seharga Rp.100 per bungkus saja, terus di promosikan melalui sosial media. Terus kalau saja setengah dari 2 miliar pasang mata itu tertarik terus mau membeli kerupuk Kita, kalian dijamin kaya mendadak guys. Tinggal di hitung aja :
Rp. 100.000.000.000 = Rp.100 x 1.000.000.000 pengguna internet melalui hape
Tau gak cara baca angka diatas? Seratus miliar rupiah. Benar? Pinter ... Selamat...  Anda telah menjadi juragan kerupuk dunia. Go Internasional nih yeee ... hehehe. Kayak AgnesMo aja lu.

Awan Hitam Bernama Internet
            Guys, di atas langit budaya internet di Indonesia, ternyata ada awan hitam berarak-arak yang menggelayuti. Tentu semua tahu khan kalau internet disebut juga dengan dunia virtual. Nah itu artinya, dunia virtual adalah dunia yang tidak nyata dan dibangun atas dasar angan-angan dan imajinasi manusia. Jika di dunia nyata Kita ada yang namanya negara, kemudian muncul batas-batas negara, diterapkannya aturan-aturan dan undang-undang. Maka di dunia virtual hal semacam itu nyaris tidak ada. Setiap individu ber status pengguna internet bebas melakukan apa saja di internet. Hampir semua hal yang ingin di perlihatkan maka sah-sah saja untuk di tampakkan di internet. Makanya, internet itu nilainya juga sama seperti pisau bermata dua. Ia akan berguna jika digunakan dengan tepat, namun tidak sungkan juga bisa membunuh penggunanya. Membunuh karakter, adab, nilai-nilai, hingga pandangan seseorang terhadap dunia.
            Kabar baiknya guys, masyarakat Indonesia patut bangga dengan pemerintah Kita karena di bawah kementrian Departemen Komunikasi dan Informasi, Mereka telah bersusah payah memblokir situs pornografi. Dan pornografi itu merupakan salahsatu wujud dari penggunaan pisau yang salah di internet yang berdampak buruk. Pun begitu, filterisasi oleh Depkominfo dibawah pimpinan menteri Tifatul Sembiring ini tidak lah cukup mengingat manusia memiliki seribu jalan untuk mencapai tujuannya. Istilahnya ya guys : banyak jalan menuju Roma. Hehehe. Maka oleh itu memang filter yang paling sempurna itu adalah dari diri manusia itu sendiri. Sehingga walau berjuta-juta konten yang merusak terpampang di depan Kita, tapi jika batin Kita menolak, ya konten itu tidak akan pernah ter akses.
            Selain pornografi dan konten lain yang merusak, ada juga wilayah abu-abu yang berada diantara konten-konten yang merusak dan yang berguna. Wilayah abu-abu ini menyediakan konten-konten netral yang tidak merusak juga tidak terlalu berguna. Misalkan saja sosial media. Namun jika digunakan tidak berimbang dan berlebihan, konten yang berada di dalam wilayah abu-abu ini menjurus kepada hal yang sia-sia.
Masyarakat indonesia terutama remaja sebagai pengakses internet terbanyak di Indonesia masih belum bisa memilah aktivitas mana saja yang bermanfaat dilakukan di internet. Aktivitas internet yang seharusnya dipergunakan sebaik-baiknya untuk menunjang aktivitas akademik berganti dengan aktivitas membuang-buang waktu seperti chatting dan lain sebagainya. Tidak ada yang salah dengan chatting dan sosial media. Namun, penggunaanya sering tidak berimbang sehingga kegiatan sia-sia lebih sering dilakukan. Nah sekarang, mari Kita mulai dari diri Kita sendiri untuk menggunakan internet sebaik-baiknya ya guys. Jangan asyik chatting-an mulu.

Internet Bagi Pendidikan
Sebenarnya, ada hal lain yang bisa Kita manfaatkan dari fenomena budaya internet di Indonesia yang lagi marak saat ini. Sebut saja pendidikan. Apalagi guys, pendidikan selama ini kan kesannya mahal tuh. Terus, pendidikan juga biasanya adalah barang mewah yang hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang berpenghasilan saja. Kemudian, pendidikan lebih banyak tersedia di perkotaan dan jarang bisa diakses oleh masyarakat pelosok. Nah, dengan internet, terlebih internet yang dapat diakses melalui perangkat portable seperti telepon genggam atau smartphone, wajah pendidikan Indonesia bisa di operasi plastik guys. Hehehe ... Bukan di make up lho ... seperti yang biasa dilakukan oleh pejabat pemerintah Kita selama ini.
            Pendidikan sendiri, berperan sangat penting bagi kemajuan bangsa dan negara yang baik dan modal utama penggerak ekonomi bangsa. Sering familiar gak sih dengan istilah knowledge based economy? Istilah ini sering muncul di media berita dan menjadi perhatian khusus dari pemimpin bangsa ini. Selain itu, kesuksesan sebuah negara saat bersaing dalam ekonomi global yang ketat itu bergantung sekali kepada level pendidikan pekerjanya. Intinya nih teman-teman sekalian, pendidikan itu sangat penting.
Nah, karena pendidikan itu sangat penting tapi pendidikan di Indonesia sendiri masih memiliki banyak rapor merah, internet bisa menjadi alternatif untuk menciptakan pendidikan gratis, mudah didapat, serta berpihak pada masyarakat kelas bawah. Kenapa harus pendidikan berbasis internet? Cekidot guys :
1.      Internet dapat memfasilitasi pertukaran informasi antar individu tidak hanya dalam satu negara bahkan dengan seluruh pengguna internet di seluruh dunia.
2.      Internet juga memberikan akses kepada banyak konten-konten penting yang tersedia dalam bahasa asing dari seluruh dunia sehingga menambah dinamika berpikir pelajar.
3.      Pendidikan formal dalam ruang kelas dinding empat tergantikan dengan internet yang menjadikan seluruh dunia tanpa batas-batas dinding.
4.      30 sampai 45 pelajar dalam satu kelas di sekolah menjadi 2,4 miliar pengguna internet dunia.
5.      Buku-buku pustaka yang terbatas pengetahuannya serta mahal dan berat di pikul dengan ransel bisa didapatkan secara mudah, gratis dan berlimpah di pustaka-pustaka online.
6.      Internet menjadikan para pengajar sebagai fasilitator ilmu ketimbang menjadi penyedia ilmu.
Nah, sudah jelas kan mengapa pendidikan berbasis internet lebih unggul dibandingkan dengan pendidikan tradisional. Internet jelas telah terbukti dapat menutupi kekurangan fisik yang dimiliki pendidikan formal.
Nantinya guys, pendidikan Indonesia akan memiliki sebuah metode pendidikan baru yang terbuka, fleksibel, up to date, dan interaktif. Teknologi dan alat komunikasi berbasis website yang menunjang kolaborasi dan partisipasi aktif para pelajar membuat batasan-batasan antara pendidikan formal dan non-formal akan terhapus. Hal-hal yang tidak mungkin selama ini seperti halnya pendidikan jarak jauh, kerjasama virtual, komunitas belajar online dan akses ke sumber daya dan database yang luas tak terbatas akan terwujudkan. Itulah beberapa kemungkinan yang ditawarkan internet untuk perkembangan pendidikan di Indonesia.Asyik bener khan ...
Model pendidikan ini akan memberikan akses tidak terbatas tanpa membedakan jenis kelamin, tak terbatas ruang, tak terhalang status sosial-ekonomi dan latar belakang etnis serta tidak menghalangi Mereka yang sakit ataupun cacat untuk mengecap pendidikan tingkat tinggi.
           
Pendidikan dan Smartphone
Dengan perkembangan budaya internet dan meledaknya animo masyarakat Indonesia terhadap smartphone, Indonesia dengan mudah dapat mengawinkan keduanya untuk keperluan pendidikan. Hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil mengingat beberapa negara juga sudah berhasil melakukannya.
Berikut adalah beberapa contoh penunjang pendidikan berbasis smartphone yang terhubung dengan internet maupun tidak yang sudah pernah diterapkan oleh negara-negara di dunia :
1.      Pakistan memanfaatkan SMS atau pesan singkat untuk memerangi buta aksara di negara Mereka.
2.      Program Dr. Math On Mxit yang mengajarkan matematika kepada pelajar Afrika melalui pesan singkat pula.
3.      Republik Korea Selatan mencanangkan program 5 tahun semenjak 2011 hingga 2016 untuk mengubah semua pelajaran yang tertera di buku cetak menjadi buku elektronik agar para pelajar yang tidak memiliki cukup dana dapat mendapat buku elektronik yang murah bahkan gratis.
4.      Di Ghana, sebuah aplikasi berbasis sistem operasi android dikembangkan untuk menangkap dan menampilkan data-data yang berkaitan dengan sekolah dan fasilitas-fasiltas di sekitarnya. Aplikasi ini dapat menunjang perencanaan pendidikan di tempat-tempat terpencil di seluruh negeri.
5.      Nigeria baru-baru ini telah meluncurkan salahsatu kampanye proyek pengentasan kemiskinan ter ambisius di dunia. Proyek ini melibatkan website dan aplikasi berbasis sistem operasi Android guna mengumpulkan, mengolah dan menampilkan kumpulan data dari profil seluruh sekolah di negara tersebut seperti kondisi fisik sekolah, kelengkapan infrastruktur, jumlah guru, ketersediaan alat bantu ajar serta buku pada setiap sekolah hingga sampai data tentang ketersediaan air minum bersih terdekat  di sekitar sekolah.

Merdeka Informasi
            Untuk mendukung kemerdekaan informasi yang memudahkan pendidikan bagi 240 juta masyarakat Indonesia, pemerintah Indonesia melalui perusahaan telekomunikasi terbesarnya yaitu Telkomsel memiliki cita-citanya tersendiri yaitu broadbanding the country. Artinya adalah menghubungkan Indonesia yang luas ini melalui jaringan internet berkecepatan tingkat tinggi yang dapat di akses melalui perangkat teknologi dimana saja di setiap jengkal kepulauan Indonesia.
            Namun, jalan terjal menghubungkan seluruh Indonesia melalui internet masih sangatlah jauh. Tengok saja laporan komisi broadband internasional, Indonesia menduduki peringkat ke 110 dengan penetrasi broadband sebesar hanya 1,1 persen saja. Ini membuat Kita ketinggalan lima tahun ke belakang dengan negara-negara lainnya di dunia.
Tapi jangan bersedih guys, karena usaha itu semakin hari semakin ditingkatkan. Salahsatu keseriusan pemerintah adalah dengan menggelar program Indonesia Digital Network atau disingkat IDN. IDN ini sendiri terbagi lagi menjadi beberapa program yaitu Indonesia Digital Ring, Indonesia Digital Acces serta Indonesia Digital Convergence. Nantinya program yang diharapkan rampung pada tahun 2015 ini akan menghubungkan Indonesia mulai dari Sumatera sampai Papua sejauh lebih dari 26 ribu kilometer.
Dengan berbagai upaya ini, semoga pendidikan Indonesia dapat merdeka dari kungkungan model pembelajaran tradisional yang bermasalah dan terlalu mahal bagi masyarakat kelas bawah. Dengan begitu, pendidikan Indonesia akan kembali ke fungsi dasarnya selama ini yaitu memerdekakan manusia. Semoga Indonesia dapat maju dan bangkit berdiri sejajar dengan negara-negara maju lainnya di dunia ini dan dapat ber konstribusi memperbaiki dunia menjadi tempat yang lebih baik lagi. Amiiinnn ...
Wassalam ...
Bagi Anda yang mau memesan baju. silahkan klik disini : www.salimasa.blogspot.com

Cut Nyak Dhien di perantauan Jogja

Wamulè//
Allah ngoen Bismillah//
Lah e jinoe//
Lon lah lon lah lon peuphon

    Alunan syair hikayat Wamule membuka acara Balee Seni yang diadakan oleh Seniman Perantauan Atjeh atau SePat pada Sabtu malam, 10 November 2012. Diiringi tepukan dasar rapai oleh Aulia yang mengajak para penonton yang masih berada di luar ruangan untuk bergegas masuk ke dalam Balee Gadeng, untuk memulai acara memperingati saat Cut Nyak Dhien ditangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa.
     Penonton pun satu persatu masuk dan duduk melingkari panggung seperti mengitari Kabah. Semua orang terdiam, hanyut dalam hikayat Aceh Wamule yang pernah dipopulerkan kembali oleh grup band etnik Aceh Cupa dalam dengan judul yang sama.

    

Internet Aceh dan Tantangan Global

    Menerawang dunia maya di Aceh bagai menyaksikan fenomena gunung es di Kutub Utara. Puncaknya kecil dan indah, namun menyimpan banyak rahasia dalam bongkahan besar es di bawah dasar laut. Ingin hasrat kita mendekatinya, namun sebelum sampai pada puncaknya kita telah tenggelam bersama karamnya kapal karena tertabrak karang es yang besar di bawahnya.

   Setidaknya perasaan itulah yang dirasakan oleh

Bata Peradaban

   Suatu ketika terdapat 3 orang sedang menyusun batu bata Mereka masing-masing. Ketika ditanya pada orang pertama, apa yang sedang Anda buat? Saya sedang menyusun batu bata, jawabnya. Pada orang kedua ditanya pula, sedang apa Anda? Dia kemudian menjawab : Sedang membuat rumah. Namun berbeda dengan orang ketiga ketika ditanya pada pertanyaan yang sama, maka jawabannya adalah : Saya sedang membangun sebuah peradaban.

   Menarik melihat visi dari ketiga orang tersebut. Ada yang hidup ini hanyalah untuk mencari kerja, makan dan berusaha untuk tidak mati kelaparan.

Wanita Karena Agama

   Ketika menyaksikan berita tentang konfrontasi Angelina Sondakh-Rosa, penulis menemukan sesutau yang sepertinya perlu untuk di share dengan semua pembaca.
   Dalam konfrontasi itu, ketika akan menghadiri persidangan, Angie diantar oleh Mudjie Massaid, yang tidak lain adalah adik iparnya sendiri dari almarhum suaminya, Media Indonesia yang terkenal 'lebay' seperti biasa menggambarkan bahwa Mereka telah menjadi sepasang kekasih.
   Terlepas dari gonjang-ganjing media, penulis teringat dengan satu nasihat Rasulullah Muhammad tentang panduan memilih wanita untuk dinikahi :

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita dinikahi karena empat hal, [pertama] karena hartanya, hasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Carilah yang agamanya baik, jika tidak maka kamu akan tersungkur fakir” (HR. Bukhori no. 5090, Muslim no. 1466)

  Seorang Muslim, dianjurkan untuk berlomba-lomba mencari wanita dengan latar belakang Agama Islam yang baik. Walau betapapun cantik seorang wanita, betapapun kayanya dia, namun jika tidak karena agamanya, maka Rasulullah telah 'mengingatkan' Kita akan kerugiannya.


KEBAHAGIAAN
   Manusia hidup di dunia cenderung mencari kebahagiaan. Dan titik tertinggi

DUDUK DISINI

Duduk disini, menatapmu, berbincang mengeluarkan gurauan-gurauan hangat dan kemudian tertawa kecil
adalah
lebih menyenangkan
dibandingkan keliling dunia,
menyusuri sungai nil, menemukan Machu Picchu, dipukau Sphinx Giza, naik Shinkansen Jepang, atau sakit perut di Barcelona.

Ini semua mungkin karena warna baju yang kau pilih spesial saat ini membuatmu lebih menarik dari Erika Sawajiri, lebih berwarna daripada milla jovovich.
atau mungkin karena
rasa hormatku padamu, dan kecintaanmu pada malam bertutup kan hujan ini.
atau mungkin karena
senyum kita yang menyimpan rahasia membuat penasaran orang dan dinding-dinding sekitar Kita.

:)
memang benar, duduk disini, mengundang senyummu, menghangatkan suasana
adalah
lebih menyenangkan
dibandingkan melihat seluruh dunia,
minum coca cola di puncak Eifel, terbalut jaket kulit supertebal di Kibber Village India, atau terkantuk-kantuk di dalam perjalanan menuju pintu keluar Grand Canyon...