Ringkasan Kuliah Umum oleh Dr. Zakir Naik di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada 3 April 2017

 
   Selama ini anggapan dunia terhadap Islam adalah agama yang baru saja hadir 1400 tahun yang lalu dan nabi Muhammad sebagai pendirinya. Namun yang tak tersingkap adalah bahwa nabi Muhammad adalah pembawa risalah terakhir, penyempurna, penutup dan jalan terakhir untuk pengampunan dosa-dosa kita kepada Allah. Sementara agama Islam sudah ada sejak pertama kali manusia menapakkan kaki di muka bumi ini.
   Lalu islam apa yang hadir sebelum nabi Muhammad diangkat menjadi rasul? Yaitu islam yang terbatas hanya pada suku, bangsa dan daerah tertentu saja. Risalah yang dibawa oleh nabi Muhammad diperuntukkan untuk semua bangsa dan menjadi pedoman hingga zaman tak mengenal lagi waktu.
   Islam adalah agama yang damai. Islam sendiri dalam bahasa arab bermakna 'damai'. Nilai-nilai yang diajarkan serta pondasi ajarannya merupakan manifestasi dasar dari kata damai itu sendiri. Namun mengapa Islam diidentikkan dengan kekerasan bahkan masuk dalam agenda keamanan internasional? Itu dikarenakan ada pihak-pihak, individu-individu, bangsa-bangsa dan berbagai entitas lainnya yang menginginkan dunia tidak damai. Yang paling kentara dari entitas itu adalah : MEDIA. Pihak-pihak ini pula yang mendapatkan keuntungan materil dari ketidakdamaian yang hadir di berbagai belahan dunia.
   Apa yang terjadi pada Islam begitupula terjadi pada terma 'Jihad' yang sengaja disalahartikan oleh media. Yang kemudian berimplikasi pada masyarakat dunia yang ramai-ramai menggigil mendengar kata Jihad. Jihad bukan bermakna 'perang suci', melainkan bermakna 'berjuang', 'berusaha keras' serta 'bekerja keras'.
   Jihad sendiri tidak hanya dilakukan oleh muslim saja. Bahkan non muslim pun melakukan jihad. Sila dibaca firman Allah dalam Lukman ayat 15 :


وَإِنْ جٰهَدَاكَ عَلٰىٓ أَنْ تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا  ۖ  وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوفًا  ۖ  وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ  ۚ  ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

"Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beri tahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
(QS. Luqman: Ayat 15).


Serta firman Allah dalam Al Ankabut ayat 8 :

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسٰنَ بِوٰلِدَيْهِ حُسْنًا  ۖ  وَإِنْ جٰهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَآ  ۚ  إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

"Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
(QS. Al-'Ankabut: Ayat 8)


   Kata 'Jaahadaaka' bermakna Jihad yang dilakukan oleh non muslim. Maka arti jihad seyogyanya tidak lagi diartikan sebagai perang suci yang berkonotasi menyeramkan dan terror.

Umat Terbaik
   Umat Islam ada umat terbaik yang dipilih oleh Allah SWT. Pemeluk agama Islam adalah pemeluk yang paling tidak berafiliasi dengan minuman alkohol, yang menurut laporan The Center of Disease Contol and Prevention (CDC) Amerika Serikat membunuh 88 ribu orang setiap tahun sejak 2006 sampai 2010. Lebih banyak dibanding korban akibat teroris yaitu hanya 10,537 korban sejak dari Januari 1970 sampai Desember 2015. Muslim juga merupakan pemeluk agama yang paling banyak memberikan bantuan dan sedekah. Mengapa Muslim? Sekali lagi karena Islam adalah agama damai. Perilaku ini didorong oleh ajaran agama yang adiluhung.
   Lalu siapa yang dimaksud dengan teroris yang sebenarnya? Sebagai informasi, di tahun 1775 Masehi, pemerintah Inggris menyatakan George Washington --founding father nya Amerika Serikat-- sebagai teroris. Dikemudian hari, Washington menjadi presiden pertama Amerika Serikat dan namanya menjadi ibukota negara adidaya tersebut. Hal yang sama juga berlaku pada Nelson Mandela yang disebut sebagai teroris oleh pemerintah Apartheid di Afrika Selatan. Ia mendekam selama 27 tahun dalam penjara dan ketika keluar ia menjadi presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan dan mendapatkan hadiah perdamaian Nobel di tahun 1993. Maka harus dipertanyakan bagaimana kata teroris sangat melekat pada komunitas Muslim dalam beberapa dekade belakang ini.
   Hal yang patut dipertanyakan pula adalah bagaimana ada orang yang mengatakan bahwa Islam disebarkan dengan pedang? Sementara menurut laporan tahunan Reader's Digest Almanac pemeluk agama Islam meningkat sebanyak 235 persen dari tahun 1934-191984. Kekuatan Islam mana diantara tahun itu yang cukup kuat menyebarkan Islam dengan paksa? Kekuatan mana yang menyebarkan Islam dengan pedang ke nusantara yang sekarang menjadi negara berpenduduk muslim terbesar dunia? Begitu juga dengan tanah Arab, tempat lahirnya agama Islam, yang saat ini memiliki lebih dari 80 juta pemeluk agama kristen koptik (kristen keturunan kuno).
   Lalu siapa yang layak disebut sebagai teroris yang sebenarnya? Dalam sebuah laporan, dikatakan bahwa Hillary Clinton dan Obama lah yang mendanai ISIS. Maka, terroris berkerah-putih yang sebenarnya adalah Amerika Serikat itu sendiri bersamaan dengan pemerintahan dunia barat yang membunuh jutaan masyarakat Irak dan Afghanistan.

(7) Darussalam to 'Darussalam' : Ustad Mizaj Iskandar

  Setiap pulang ke Aceh, selalu saja ada setangkup rindu yang membuncah dalam dada ini ingin pulang ke Jogja. Satu hal yang membuatku selalu rindu adalah atmosfir belajarnya yang sangat mendukung. Pustaka yang besar, toko buku murah dan yang paling dirindukan adalah majelis ilmu agama setiap sore. Khusus untuk majelis ilmu agama, rindunya semakin istimewa, lantaran setiap selesai pengajian, pihak masjid menyediakan makanan berbuka puasa atau snack biasa.  Hehe. Tidak jarang pula kami terpukau karena beberapa kali mendapatkan jatah makanan nasi kotak yang sangat mewah lauk pauknya. Nasi kotak itu di sponsori oleh pengusaha-pengusaha muslim yang dermawan.
   Hal ini belum berkembang di Banda Aceh dan detik-detik yang kebanyakan kuhabiskan disini yaitu di majelis warung kopi ketimbang di majelis ilmu, semakin membuatku ingin kembali ke Jogja.
   Namun rindu itu sedikit terobati sejak ayahku memperkenalkan suatu pengajian yang diampu oleh Ustad dr. Mizaj Iskandar, Lc. Sejak itu, aku tidak pernah absen mendengarkan pengajian rutin beliau setiap mingu pagi, senin malam, selasa malam, rabu malam, kamis malam dan jumat malam di berbagai tempat di Banda  Aceh. Ustad Mizaj memiliki pengetahuan yang luas tentang filsafat islam, tasawuf dan fikih. Tiga ilmu yang tidak pernah benar-bemar akur dalam sejarah umat islam.
   Shubuh hari ini, tanggal 15 januari 2017, saya seperti biasa menghadiri pengajian rutin yang diampu oleh ustad Mizaj Iskandar. Bakda shubuh setiap Ahad, ustad lulusan mesir ini memberi pencerahan kepada umat dengan tafsir Al-Munir. Yang seharusnya dikupas pagi ini adalah Al-Baqarah 97 dan seterusnya. Tapi, beliau justru mengupas lebih dalam Al-Baqarah 96 :


وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَىٰ حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا ۚ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

"dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, Padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan"

   Satu persatu bagian ayat di kupas oleh ustad Mizaj yang ternyata pernah satu kelas dengan abang saya di MIN 1 Banda Aceh dulu sekali. Seperti biasa, jika ada pelajaran yang menarik, saya akan mencatatnya di telepon pintar. Dalam pembahasan perbedaan umat islam dengan umat lainnya, ustad Mizaj menjelaskan bahwa dalam tradisi Islam, yang justru di rayakan adalah kewafatan seseorang, bukan kelahirannya. Jika merayakan hari lahir lazim populernya disebut ulang tahun atau maulid, maka merayakan kewafatan disebut dengan haul. Tradisi ini berlaku bagi tokoh, ulama, raja hingga masyarakat biasa. Namun tidak berlaku bagi nabi dan rasul karena mereka juga dianjurkan untuk merayakan kelahirannya.
   Mengapa demikian?
   Karena dalam tradisi Islam, merayakan kewafatan berarti merayakan berbagai keberhasilan yang pernah diraihnya di masa hidupnya. Tradisi ini begitu mengakar hingga-hingga Fakultas Kedokteran di Universitas Teheran alih-alih merayakan dies natalis seperti kebiasaan dunia akademik, mereka justru mengadakan haul memperingati wafatnya bapak dokter dunia yang merupakan seorang muslim yaitu Ibnu Sina.
   Penjelasan ini panjang lebar di paparkan oleh ustad Mizaj padahal hanya berangkat dari satu kata saja dalam ayat tersebut yaitu :
يُعَمَّرَ
yang artinya adalah usia, bukan umur. Apparently, umur dan usia berbeda arti dalam bahasa Arab. Tapi saya lupa penjelasan lebih detilnya. Menyesal baru datang kemudian, hehe.
Ustad Mizaj Iskandar


1000 dan Keimanan Kita
   Kemudian ustad Mizaj yang baru saja meraih gelar doktor nya baru-baru ini lagi-lagi menjelaskan panjang lebar ada apa dibalik sebuah kata dalam potongan ayat tersebut. Kali ini, potongan katanya adalah :
أَلْفَ
yang secara harfiah artinya adalah seribu.
   Begini penjelasannya yang sangat memukau membuat saya terinspirasi mengabadikan penjelasan tersebut dalam tulisan ini. Bahwa rentang pemahaman masyarakat Arab kuno saat itu terhadap angka hanya mencapai 1000 (baca : seribu) saja karena diatas angka tersebut, masyarakat Arab kuno tidak mengerti angka melebihi angka tersebut. Sebagai contoh, ustad Mizaj mengutip ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang umur nabi Nuh yang disebut dalam Al-Quran sebagai 1000 tahun 'illa'('illa' artinya kecuali) 50 tahun. Logika simpel dari ayat tersebut adalah umur nabi Nuh berjumlah 950 tahun. Lalu mengapa tidak langsung mengatakan 950 tahun? Itulah bagaimana Allah menyampaikan informasi kepada masyarakat Arab kuno dengan tingkat pemahaman mereka dan tradisi yang lebih dekat dengan mereka.
   Perlu diingat bahwa satuan nol (0) baru ditemukan dan dirumuskan pada abad kedua Hijriyah. Baru setelah itulah, perlahan-lahan pemahaman rentang angka semakin membesar dan lalu peradaban manusia merangkak hingga maju seperti yang kita rasakan saat ini. Nol (0) ternyata memiliki kekuatan yang sangat besar terhadap perkembangan pengetahuan manusia. Oleh karena nalar masyarakat Arab kuno hanya mencapai angka 1000 saja, maka dalam Al-Quran, pada umumnya Allah berbicara kepada masyarakat Arab kuno dengan menggunakan angka 1000 (seribu), lebih mendalam ustad Mizaj mengatakan, untuk mengatakan 'tak terhingga' dalam bahasa manusia modern saat ini.
   Majelis ilmu semakin menarik ketika seorang jamaah melontarkan beberapa pertanyaan kritis. Diantarnya adalah bahwa ada ayat yang menyebutkan angka 5000 (baca: lima ribu). Bagaimana penjelasannya ini?
  Dengan tenang tanpa berpikir berusaha mencari jawaban, ustad Mizaj ternyata telah memiliki jawabannya sendiri. Al-Quran itu abadi, merupakan mukjizat yang tidak hanya diperuntukkan untuk masyarakat saat diturunkan saja, melainkan juga diperuntukkan kepada masyarakat akhir zaman. Oleh karena itulah pengetahuan-pengetahuan yang diluar nalar saat itu pun sering disampaikan melalui Al-Qur'an. Pun begitu, umat Muslim saat itu tetap beriman walau mereka juga tidak mengerti apa yang disampaikan dalam Al-Qur'an.
   Setelah penjelasan tersebut, diskusi kembali berjalan. Lelaki yang sama yang tadi melontarkan pertanyaan kritis kali ini sekali lagi mempertanyakan mengapa nabi Muhammad disebut sebagai seorang nabi yang 'ummi' yang artinya beliau tidak bisa membaca dan menulis.
   Penjelasan dari pertanyaan ini sekali lagi memukau, betapa tidak rugi saya datang pagi-pagi sekali berangkat dari Lambhuk ke masjid Jami' UNSYIAH Darussalam ini untuk mengemis ilmu dari ustad Mizaj Iskandar, my new hero!
   Dari sekian banyak masyarakat Mekkah saat itu, ustad Mizaj memaparkan, hanya 12 orang yang tidak bisa membaca-menulis. Ya, hanya 12. Itu artinya tingkat buta aksara di masa itu lebih rendah daripada masyarakat manapun di masa sekarang di kota manapun di dunia? Benar. Tapi dalam masyarakat Arab kuno, orang yang bisa membaca-menulis justru dianggap sebagai orang bodoh. Mengejutkan sekali memang. Orang yang bisa membaca-menulis dianggap bodoh karena ingatannya tidak kuat sehingga harus mencatat dan membaca ulang informasi yang diberikan atau yang diproduksi oleh dirinya sendiri. Nah, dari 12 orang itu, salahsatunya adalah nabi Muhammad SAW yang berarti bahwa Rasulullah adalah salahsatu jenius saat itu. Namun dari 12 orang itu, bahkan dari seluruh makhluk lintas waktu, lintas zaman, lintas alam, nabi Muhammad adalah manusia tercerdas karena dikaruniai oleh Allah tingkat pemahaman yang sangat luar biasa. Sang Rahmatan lil 'Alamin bisa memahami alam semesta beserta isinya dan hukum-hukum yang berlaku didalamnya.
   Jika masyarakat Arab kuno saat itu hanya paham rentangan angka dibawah 1000 saja, maka Rasulullah paham rentangan angka jauh diatas itu hingga tak berhingga. Pun begitu, Rasullullah tetap berbicara, berinteraksi dan menyampaikan sesuai dengan tingkat nalar masyarakat saat itu.
   Salah satu yang membuat cinta dan rindu kita terhadap Rasulullah semakin membuncah adalah kisah bagaimana beliau shallallahu 'alaihi wassalam suatu hari bertanya pada seorang wanita usia lanjut dengan pertanyaan dimakah Allah? Saat itu beliau sedang berjalan bersama Ali bin Abi Thalib dan seorang sahabat lainnya. Mereka dikenal sebagai sahabat yang cerdas yang rentangan pemahaman angkanya lebih dari 1000. Nenek itu kemudian menunjuk keatas, yaitu kearah langit. Ali bin Abi Thalib kemudian tersinggung serta hendak meninju nenek tersebut, begitu papar ustad Mizaj Iskandar. Namun Rasulullah mencegah Ali dan justru tersenyum kepada nenek tersebut walaupun jawabannya salah karena Allah bukan bersemayam diatas, atau diatas langit, karena itu memiliki makna bias dan relatif.
   Begitulah cara Rasulullah berkomunikasi kepada umatnya. Betapa mengharukan mengingat beliau adalah orang tercerdas di zamannya bahkan di zaman manapun, tapi tidak sedikitpun beliau sombong ingin menunjukkan pengetahuannya yang sangat melimpah.
   Mari menelusuri warisan-warisan hebat lainnya dari Rasulullah dan agama Islam melalui keindahan bahasa Al-Qur'an. Khususan untuk anak-anak muda Aceh, mari ramaikan pengajian ustad Mizaj Iskandar dan serap ilmu sebanyak-banyaknya dari beliau.
   Berikut saya lampirkan jadwal kajian beliau yang saya dapatkan dari tautan http://masjidlovers.blogspot.co.id/2015/10/jadwal-pengajian-ustadz-mizaj-iskandar.html 

NO
PENGAJIAN
HARI
WAKTU
LOKASI
1
Kajian Islam
Minggu
Ba’da Shubuh
Masjid Jami’ Kopelma Darussalam
2
Kajian Islam
Senin
Ba’da Maghrib
Masjid Al-Hasyimiah Lamnyong
3
Kajian Islam
Selasa
Ba’da Isya
Balai Pengajian Kompleks Meusara Agung
4
Kajia Fiqh
Rabu
Ba’da Maghrib
Masjid Baiturrahim Ulee Kareng
5
Kajian Kitab Bidayah wa Nihayah
Kamis
Ba’da Maghrib
Masjid Agung Al-Makmur
6
Kajian Tauhid Al-Ihya Ulumuddin
Jum’at
Ba’da Maghrib
Masjid An-Nur Ie Masen Kaye Adang
7
Kajian Tafsir Al Munir
Sabtu
Ba’da Maghrib
Masjid Al Badar Lampineung (Di seberang kantor Gubernur Aceh. Di seberang islamic center baru)

(Week 2) Beastudi Indonesia Preparatory School Batch 4 : Critical Thinking

                “Jangan menganggap semua orang sebagai teman, sebelum mencoba tiga sifat ini kepadanya; pertama, lihatlah ketika dia marah apakah berpaling dari kebenaran kepada kebatilan. Kedua, terkait dirham dan dinar (harta). Ketiga, saat bepergian dengannya”
                Setelah lelah belajar selama satu minggu penuh, kami memutuskan untuk jalan-jalan. Sebenarnya, jadwal hari minggu pertama adalah sesi khusus yang akan diisi oleh petinggi LPDP. Unfortunately, LPDP mendadak mengatakan tidak bisa karena satu dan dua hal. Sampai program BIPS batch 4 ini berakhir nantinya, LPDP tetap tidak memberi jawaban yang pasti siapa orang terbaik dari LPDP dan kapan beliau bisa membersamai kami. Pihak Dompet Dhuafa memang sudah mewanti-wanti kepada LPDP siapa jajaran pentingnya yang bisa datang. Dompet Dhuafa tidak mau orang yang biasa yang datangm karena itu sama saja dengan seminar-seminar roadshow yang selama ini diadakan oleh LPDP. Disini, Dompet Dhuafa ingin sesuatu yang berbeda. Anyway, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Botani Square, mall-nya Institut Pertanian Bogor, yang terletak di pusat kota. Awalnya, aku ragu ikut karena sudah ernah kesana setahun yang lalu ketika nonton film “Cokroaminoto, Guru Bangsa” bersama dengan teman-teman School for Nation Leader, salah satu program Dompet Dhuafa juga. Tapi akhirnya aku setuju untuk ikut bersama dengan teman-teman yang beberapa juga pada awalnya tidak mau ikut.
                Keputusan yang kami ambil pada akhirnya tidak sia-sia karena kami menciptakan banyak sekali momen-momen indah yang tak terlupakan. Awalnya, kami hanya pergi ke Botani Square untuk makan-makan di Food Court – nya. Benar-benar kegiatan yang tidak berguna sama sekali. Tapi kemudian kami memutuskan untuk pergi ke rumah Herma, penanggungjawab program BIPS batch 4 ini yang sudah kami anggap seperti adik sendiri. Kami ketawa-ketiwi sepanjang perjalanan di angkot, salah naik bus, hujan-hujanan dan memori-memori yang tak terlupakan lainnya. Setiap detik kesenangan dan kesusahan yang kami lalui, tidak ada seorangpun yang marah bahkan mengeluh saja. Disinilah aku merasa bahwa teman-teman yang baru saja aku temui seminggu yang lalu ini adalah teman-teman terbaik di lingkungan asalnya. Setidaknya, dalam perjalanan ini kami bisa lebih akrab, mengetahui lebih dalam karakter-karakter setiap orang dan melepas topeng kecanggungan yang masih ada diantara kami. Ini penting, karena proses belajar bersama tidak akan berjalan efektif jika masih malu-malu dan ada dinding tidak terlihat di antara kami.
                Agenda acara di akhir pekan ini kami habisi dengan outbond di Kebun Raya Bogor. Lumayan, dapat baju dan slayer baru, serta bisa akhirnya menikmati keindahan Kebun Raya Bogor walaupun hanya di bagian kecilnya saja. Disini kami semakin akrab dan tentu saja semakin happy. Walaupun outbond diadakan dari pagi sampai siang tanpa henti, kami tidak merasa capek.

Metode Belajar
Poin pertama yang diajarkan oleh tim The Brighton Indonesia (TBI) kepada kami dalam menguasai IELTS adalah Critical thinking. Berpikir kritis. Ini dikarenakan soal-soal yang di tanyakan dalam tes IELTS adalah soal-soal nalar. Berbeda dengan soal yang selama ini kupelajari di TOEFL, yaitu structure, grammar dan serangkaian rules lainnya. Misalkan saja dalam Writing dan Speaking, yang dinilai tidak hanya aturan baku grammar dan spelling serta pronunciation nya saja, melainkan juga coherent dan cohesion nya. Jika kita tidak mampu menangkap pertanyaannya serta tidak mempunyai wawasan luas yang berbeda dengan ide orang lain, maka susah untuk memberikan jawaban. Oleh karena itulah, critical thinking merupakan hal pertama yang harus dibiasakan kepada murid.
                Salah satu hal yang sangat kukagumi dari teman-teman anggota BIPS Batch 4 ini adalah keunikan masing-masing yang dimiliki. Aku banyak belajar dari mereka terutama dari cara mereka meningkatkan kemampuan bahasa inggris dalam waktu lima minggu tersebut. Masing-masing memfokuskan diri pada titik lemahnya sendiri diantara empat bagian tes IELTS, yaitu Listening, Reading, Writing dan Speaking. Ada yang rajin mengunjungi The Jakarta Post untuk meningkatkan kemampuan reading nya, ada yang menulis secara terperinci rangkuman buku pegangan kami yaitu Focus on IELTS, ada yang kemana-mana nampaknya kerjaannya cuma dengerin musik dari smartphone padahal sedang mendengar materi BBC atau materi listening lainnya, ada yang masih belajar setelah kelas berakhir pada jam 10 malam, ada pula yang bangun satu jam sebelum jadwal shalat Shubuh untuk listening, bahkan ada yang sudah punya band score IELTS 6 padahal baru belajar bahasa inggris enam bulan yang lalu. Memang benar apa yang dikatakan bahwa orang-orang hebat itu, melakukan hal-hal yang unik dan berbeda.
                 Aku sendiri menyadari Speaking adalah titik lemahku. Sudah sejak SMP aku mengalaminya ditambah pengalaman buruk di SMA ketika tidak bisa menjawab pertanyaan seorang panelis dalam acara seleksi English Ambassador yang disiarkan oleh TVRI nasional. Alhamdulillah, berkat rahmat Allah, aku dipertemukan dengan jalan keluarnya. Beberapa teman yang sangat baik membuat inisiatif untuk practice speaking test setelah shalat shubuh. Demi mendengar ide itu, aku langsung setuju dan menjadi anggota yang paling rajin datang.

(Week 1) Beastudi Indonesia Preparatory School Batch 4 : Highest Score

“What is the maximum score you can achieve in IELTS?”,
adalah pertanyaan tricky dari seorang pengajar english tua di program BIPS Batch 4 ini. Dengan pronunciation british english nya sambil matanya berputar-putar mirip seperti mata bunglon. Rafiq Mahmud namanya. Kami ‘dipaksa’ olehnya untuk memanggilnya dengan nama panggilan ‘bung Rafiq’. Pertama kali kami bertemu dengannya, kami juga terkejut lantaran si bung ternyata adalah seorang lelaki tua dengan perawakan asli British pada umumnya. Dia bukan keturunan India yang sudah lama menetap di Inggris turun-temurun. Warna kulitnya bahkan tidak coklat, apalagi gelap pekat. Kalau Anda kebetulan kenal dengan Rowan Atkinson si ‘Mr. Bean’, maka bayangkan saja bung Rafiq adalah versi tua dari Mr.Bean. Bahkan ekspresinya pun sangat mirip dengan tokoh televisi Inggris yang sering kita lihat melakukan tindakan-tindakan konyol itu.
            So, tentu saja kami menjawab angka 9 (sembilan) untuk pertanyaan itu ketika bung Rafiq menanyakan kami satu per satu. Tentu saja. Karena memang maksimal skor IELTS itu adalah 9. Tapi bung Rafiq menggeleng sebanyak sebelas kali sesuai jumlah peserta BIPS Batch 4 ini. Jawabannya salah.
            “The maximum score you can achieve is to be able commuciate and speaking fluently in English with accent and to be able read and writing for academic purpose”.
            Sudah hampir seminggu aku berada di Zona Madina Dompet Dhuafa, Parung, Bogor. Selama itu pula aku terus mencari jawaban mengapa aku dulu iseng mendaftar program ini. Untuk tujuan yang sejalan dengan visi Dompet Dhuafa, aku sudah mendapatkannya di hari pertama ketika pembukaan acara. Namun, rasa-rasanya untuk tujuan yang sejalan dengan visi IELTS, justru aku mendapatkan jawabannya dari pertanyaan bung Rafiq diatas tadi.
            “Bahwa maksimal skor yang bisa didapatkan dari belajar IELTS adalah mampu berkomunikasi dan berbicara lancar dalam bahasa inggris serta mampu membaca dan menulis untuk tujuan akademik"
Done. Disaat itu juga aku tertohok dengan nilai filosofis yang hendak disampaikan oleh Rafiq. Selama 11 tahun sejak kelas 1 SMP di MTsS Jeumala Amal dulu, ternyata aku telah salah kaprah dalam belajar bahasa inggris. Balajar bahasa inggris untuk mendapatkan nilai bagus. Belajar bahasa inggris untuk mendapatkan band score yang bagus untuk digunakan dalam mendaftar ke universitas tujuan yang diimpikan. Lalu meraih gelar master, menikah dengan high-class girl, mendapatkan sophisticated job dan hidup happily ever after forever.
Seharusnya belajar bahasa inggris,sesuai dengan nilai filosofis bung Rafiq, adalah untuk mempersiapkan diri berenang sebebas-bebasnya dalam lautan ilmu tanpa batas yang tidak bisa kita pungkiri hanya sangat mungkin di akses dengan kemampuan bahasa inggris yang mumpuni. Itu adalah tujuan utamanya. Sementara yang lain hanyalah letupan-letupan manis yang dikecap sebentar dan nantinya akan hilang lagi.

Guru-Guru Hebat
Anyway, seminggu terakhir berada di Bogor bertemu dengan orang-orang baru benar-benar membuatku kembali berpikir : nikmat tuhan mana lagi yang ingin kau dustakan. Tapi, sebagai individu yang mengidap introvert stadium 4, bertemu dengan banyak warna sekaligus benar-benar membuatku kewalahan pada awalnya. Seiring berjalannya waktu, dengan bantuan dan kehangatan yang ditunjukkan oleh teman-teman lainnya, akhirnya aku pun bisa cair dan berani menunjukkan warna asliku juga. Terima kasih teman-teman.
Guru pertama yang kami temui dari tim The Brighton adalah ms. Zizi, a lovely lady yet a very bossy and sometimes menakutkan serta berbicara sangat cepat sekali. Kelasnya adalah kelas yang paling hidup dan paling banyak menghasilkan tawa berderai-derai di ruangan. Dia selalu membawa sekotak penuh berisi permen yang akan dibagikan berdasarkan grup-grup terbaik di setiap tugas.
Guru kedua adalah Simon, seorang ‘imported speaker’, kata ms.Zizi sebagai ganti dari terma yang sering kita sematkan kepada mereka : native speaker. Pertama kali bertemu dengannya di ruang Audio Visual Pusat Sumber Belajar Sekolah Smart Ekselensia Dompet Dhuafa, kesan pertamaku adalah seperti melihat seorang hipster. Kami sempat meragukan Simon pada awalnya karena setiap pertanyaan kritis yang kami lontarkan selalu dijawab dengan dia berpikir lama dan diakhiri dengan ‘i dont know’ darinya. Ditambah lagi penampilannya yang urakan. Rambutnya yang pirang panjang dan tubuh yang kurus tapi tinggi serta celana jeans usang ditambah baju kemeja yang tampaknya kebesaran menambah kesan yang sangat kuat bahwa Simon adalah seorang ekspatriat pelarian yang mencari nafkah di Indonesia lantaran biaya hidup di London mahal. Dan benar adanya. Sesuai dengan curhatannya di malam itu, dia memang berasal dari Bristol, sebuah daerah yang tidak jauh dari London. Disana biaya hidupnya mahal.

Tapi Simon baru menunjukkan kapasitasnya saat kami belajar di ruang komputer di bagian depan komplek Dompet Dhuafa. Dia mengerti akan struktur kalimat yang benar serta penggunaan vocabulary yang tepat dalam kalimat. After all, Simon is good lah.
Guru yang best of the best dalam pelatihan BIPS ini bernama Michael. Dari segi penampilan, Michael adalah seorang yang sangat rapi dan selalu klimis. Michael juga berperawakan tinggi seperti halnya orang Inggris pada umumnya. Pronunciation nya jelas dan sering sekali membuat joke melalui cara bicaranya. Misalnya memperpanjang huruf R menjadi rrrrrr. Atau melebih-lebihkan spelling words nya semisal menekankan cara mengucapkan kata ‘the’ menjadi ‘thhhhhhe’, ‘three’ menjadi ‘thhhhhre’.
Namun yang paling membuat kami kagum dari Michael adalah ketika Mike, nama panggilannya, mengajar dia tidak pernah duduk. Selalu berdiri. Dari pukul 8 pagi saat pelajaran dimulai sampai pukul 5 sore saat pelajaran selesai. Dia juga tidak pernah minta izin ke toilet. Pelajaran yang dia ampu selalu selesai tepat satu bab pada hari itu. Banyak sekali pelajaran yang kami dapatkan dari seorang Mike.
Guru terakhir adalah ms. Ami. Beliau mendapat jadwal mengajar setiap hari jum'at. Seorang guru yang memiliki metode megajar yang sangat fun dan punya banyak permen serta kue untuk dibagikan kepada kami. Setelah capek belajar di kelas selama lima hari sebelumnya, hari jum'at terkadang menjadi hari yang dinanti karena bisa tetap belajar tapi sambil bermain.
  Saat tulisan ini ditulis, kami baru saja menyelesaikan Mock Test pertama. Selama ini aku telah terbiasa dengan reading, listening dan writing. Tapi untuk speaking, yang di interview oleh bung rafiq, aku masih harus banyak latihan berbicara dengan Mike, bung Rafiq, Simon dan Ms. Zizi serta belajar melatih mental dengan teman-teman yang lain. Speaking masih menjadi masalah terbesarku. Mungkin karena aku masih belum terlalu menyerap nila filosofis dari nasehat bung Rafiq. Tidak apa-apa kukira, karena masih ada empat minggu lagi dan ketika pelatihan ini selesai aku akan mengenang ketidakmampuanku melalui tulisan ini.

HISENSE UNTUK INDONESIA

Mengutip rencana strategis kementrian komunikasi dan informasi republik Indonesia tahun 2015-2016, secara nasional penerapan teknologi 4G LTE berpotensi meningkatkan pertumbuhan PDB suatu negara sebanyak satu hingga dua persen. Teknologi yang mampu memberikan sensasi download hingga kecepatan 150 Mbps ini sangat dibutuhkan di Indonesia, terutama dalam menyediakan kerangka dan arah dalam mencapai tujuan di bidang bisnis, digitalisasi ekonomi dan komunitas TMT (Teknologi, Media, dan Telekomunikasi) yang cerdas. Indonesia sebagai negara dengan salah satu pengguna internet aktif terbesar di dunia memiliki pelanggan komunikasi mobile hingga mencapai 287 juta pengguna di tahun 2015. Dengan demikian, Indonesia menduduki peringkat ke-4 sebagai lahan basah industri telekomunikasi di dunia.
Jumlah ini akan terus bertambah ke depannya. Ini terlihat dari  kebutuhan akan layanan data di Indonesia yang semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Di wilayah perkotaan maupun pedesaan, layanan internet sudah menjadi sebuah kebutuhan yang kian membesar juga. Oleh karena itulah, selain penerapan teknologi dan persiapan payung hukum bagi penyedia layanan komunikasi tersebut, kebermanfaatan 4G LTE akan semakin cepat dirasakan masyarakat luas jika gadget yang mampu menangkap kecepatan teknologi komunikasi generasi keempat ini dapat dijangkau dengan harga yang murah.
            Hisense, adalah salah satu perusahaan produsen ponsel asal negeri tirai bambu yang membantu mendorong perkembangan ekosistem 4G LTE di Indonesia. Bahkan, Hisense adalah satu-satunya perusahaan di Indonesia yang menyediakan perangkat berkemampuan menjalankan teknologi 4G-LTE Advanced.



TEKNOLOGI, KONTRIBUSI dan STRATEGI
Coba tanyakan apa itu Hisense, pada seseorang temanmu. Bisa dipastikan banyak yang tidak bisa menjawab, lantas hanya mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti. Memang nama Hisense tidak lebih populer dibanding nama-nama seperti Samsung, Apple, LG dan lain sebagainya. Tapi untuk sahabat karibnya yang bernama Smartfren, masyarakat Indonesia sudah cukup kenal sebagai penyedia hape murah berkualitas mumpuni. Apalagi, pada tahun 2014 yang lalu, kolaborasi Hisense dan Smartfren berhasil membuat mereka sebagai produsen ponsel terbesar kedua di Indonesia, di bawah Samsung.
Hisense telah sejak lama bekerjasama dengan Smartfren. Kerjasama mereka berbuah penetrasi layanan 4G LTE Advanced yang luas didalam kehidupan digital masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah dengan penggunaan teknologi carrier agregation (CA). Carrier agregation merupakan penggabungan dua frekuensi berbeda agar dapat berjalan bersamaan. Teknologi ini memungkinkan operator untuk memperoleh coverage sinyal yang lebih luas dan juga kecepatan internet yang tinggi. Teknologi hybrid ini diterapkan dalam frekuensi 850 MHz (Frequency Division Duplex/FDD) dan/atau 2.300 MHz (Time Division Duplex/TDD). Dengan teknologi ini, Hisense menggebrak pasar handset Indonesia yang selama ini mendukung salah satu frekuensi saja. Jika hanya menggunakan salah satu frekuensi saja, kecepatan internet mungkin akan tinggi namun akan terasa putus-putus karena coverage-nya yang cenderung sempit. Namun itu tidak terjadi pada handset besutan Hisense karena dapat mendukung frekuensi 2.300 MHz dan 850 MHz. Sehingga handset mereka dapat berjalan secara maksimal. Bahkan smartphone produksi Hisense yaitu Hisense PureShot+ bisa berjalan dan mendukung band jaringan 4G LTE dari semua operator seluler Indonesia. Hisense PureShot+ mendukung FDD Band 2 (1.900 MHz), 3 (1.800 MHz), 5 (850 MHz), 8 (900 MHz); dan TDD band 40 (2.300 MHz).

Produk smartphone terbaru Hisense ini, yaitu Hisense PureShot Plus merupakan salah satu gawai yang ikut membantu terbentuknya ekosistem LTE di Indonesia karena harganya yang murah dan mudah dijangkau oleh masyarakat membuat penyebaran smartfren semakin merata dan luas.
Hisense memang dikenal sebagai vendor dengan produk-produk yang inovatif. Salah satunya yang dikenal luas adalah sebagai perintis ponsel dual SIM card GSM dan CDMA yang dirilis pertama pada tahun 2006 silam. Selain itu untuk mendukung ekosistem pasar smartphone yang sehat di Indonesia, Hisense bekerjasama dengan Smartfren menunjuk perusahaan lokal Indonesia, tepatnya di Batam untuk merakit smartphone 4G.
Sejauh ini, kontribusi Hisense sudah cukup terlihat di Indonesia. Namun, untuk dapat bertahan dan memberi kontribusi yang lebih terhadap perkembangan ekosistem 4G LTE, Hisense hendaknya sadar terhadap strategi pemerintah dalam optimalisasi teknologi 4G LTE di Indonesia. Sehingga nantinya, Hisense dapat menyamakan langkah dengan pemerintah. Optimalisasi teknologi ini, disebutkan oleh Setyanto P. Santosa selaku Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL), memiliki empat kunci :
1.      Penentuan kebijakan model berkelanjutan pengembangan pita besar (broadband) harus melibatkan partisipasi aktif sektor privat dan pengusaha.
2.      Menentukan cara yang ideal dalam menciptakan harmonisasi spektrum guna memperlancar penerapan teknologi 4G LTE secara publik dan komersil.
3.      Menemukan cara yang tepat agar pelaku industri lokal turut juga mendapat keuntungan sebagai akibat positif dari berkembangnya teknologi 4G LTE. Salah satu modelnya adalah dengan membuka kesempata akses dan penyediaan konten.
4.      Industri manufaktur lokal juga perlu dilibatkan agar bisa dan mau memproduksi perangkat 4G LTE berbiaya rendah.

Dengan memahami strategi ini, harapannya Hisense tetap menjadi pionir utama dalam pengembangan teknologi jaringan mobile di Indonesia. Semoga.
Zakiul Fahmi Jailani

(1) IOAA 2015 : Unexpected Journey

  “Bila kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan.”
-Imam Syafi’i-
 Mungkin benar apa yang dikatakan oleh imam Syafi'i bahwa Jika kamu tidak tahan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan. Ini pula yang aku rasakan di hari pertama menjadi Liasion Officer di IOAA 2015. IOAA 2015 sendiri adalah kepanjangan dari International Olympiad on Astronomyc and Astrophysics. Ini adalah perhelatan ke-9 dan Indonesia mendapat keistimewaan dengan mengadakannya untuk kedua kalinya setelah Bandung di tahun 2008 pernah menjadi tuan rumah.
     
   Pada awalnya, IOAA 2015 akan diadakan di Bangladesh. Namun, karena negara asal Muhammad Yunus ini tidak siap, maka kemudian di akhir 2014 diputuskan Indonesia lah yang akan mengambil alih perhelatan olimpiade internasional astronomi tingkat SMA ini. Proses perekrutan volunteer dilakukan jauh sebelum tanggal pelaksanaan yaitu tanggal 26 Juli hingga 4 Agustus 2015. Aku sendiri mendaftarkan diri di bulan April, ketika saat itu belum terlalu sibuk dengan skripsi. Alhamdulillah Aku diterima menjadi salah satu Volunteer setelah harus mengunggah video introduction ke Youtube dan wawancara via video call Skype, semua dalam bahasa inggris.
   Beberapa bulan setelah April, aku mendapat kabar bahwa aku lolos dan secara resmi dimasukkan dalam grup Whatsapp Volunteer. Tapi sayangnya, saat itu aku sedang kesusahan mengerjakan skripsi dan ketika tanggal acara sudah semakin dekat, aku antara ragu akan datang atau tidak ke acara tersebut. Setelah beberapa kali berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk tetap berangkat dan baru akan mulai mempelajari semua yang berkaitan dengan IOAA 2015 ini pada tanggal 25 Juli, sehari sebelum keberangkatan. Apalagi ini masih dalam suasana idul fitri. Aku dan teman-teman masih memiliki beberapa rumah lagi yang ingin dikunjungi untuk menyambung silaturahmi.

   Tapi, aku hampir saja tidak berangkat. Ketika itu, tanggal 24 Juli malam. Aku mendapat sebuah pesan whatsapp menanyakan perihal persiapan untuk keberangkatan ke IOAA 2015 besok.
"Besok?", Aku bertanya padanya. Sebut saja namanya tuyip.
"Bukannya tanggal 26?", aku tanya lagi.
"Besok!!!!", jawabnya lagi.
Aku tambah bingung. Besok, aku baru akan merangkum semua informasi IOAA 2015 melalui email dan pesan-pesan di Whatsapp Group. Malam itu, mengabaikan panggilan azan Isya, aku bergegas pulang dan menyiapkan segalanya yang diperlukan, dan yang terpenting adalah dresscode. Besok, aku berangkat. Terima kasih untuk tuyip, by the way. ^_____^
#                #                             #
   Persiapan yang mendadak, tidak pernah bercengkerama sesama volunteer di grup whatsapp semakin membenarkan perkataan imam Syafi'i seperti yang aku kutip diatas tadi. Sejak menginjakkan kaki di bandara Adisucipto, perjalanan ke hotel Puri Asri di Magelang hingga briefing di sore hari dan survei lapangan di Borobudur, tampaknya, hanya aku volunteer yang tidak tahu-menahu tentang detil acara IOAA 2015 ini. Aku belum melaksanakan hal yang paling krusial sekalipun, yaitu mengirimkan email perkenalan kepada para delegates yang akan aku layani selama sepuluh hari di Magelang. Sejujurnya, delegates mana saja yang ada dibawah pelayananku pun aku masih tidak tahu. Yang aku tahu cuma Iran doang, itupun setelah di beritahu oleh tuyip. Emangnya aku tugasnya seperti apa sih? Itu saja aku tidah tahu, benar-benar parah deh pokoknya.
   Pada akhirnya aku belajar sedikit demi sedikit dan bertanya kesana-sini. Akhirnya aku tahu bahwa tugasku di event internasional ini adalah menjadi LIASION OFFICER for OBSERVER untuk lima orang, yaitu 3 dari Iran, 1 dari Polandia dan 1 dari Portugal.
   Tapi tetap saja, aku merasa bersalah dan merasa bahwa aku tidak pantas berada disini, mengingat volunteer yang lain sudah berkontribusi banyak sementara skor untukku masih 0. Belum lagi fasilitas yang kami dapatkan di hotel ini sangat mewah : kamar hotel bintang 5 hingga makanan buffet yang mewah. Itulah mengapa, ketika pukul 02.00 Wib pagi seorang makhluk sebut saja haras membangunkanku tiba-tiba mengatakan bahwa aku ditugaskan oleh mbak inel ke Semarang.
   Tanpa banyak tanya, aku pun bangun cepat-cepat, mandi air hangat, dan bergegas menerima tantangan selanjutnya : SEMARANG, untuk menebus keteledoranku.

#       #         #
   Aku pernah mendapatkan oxford dictionary dari ustad/pak guru ku di dayah (pesantren) dulu di masa SMP, kemudian aku juga pernah menjadi juara 1 pidato bahasa inggris sekotamadya dulu di masa SMA. Tapi, itu semua hanyalah kemampuan bahasa inggris diatas kertas, tidak ada istimewanya, plus semua itu sudah berlalu di masa lampau. Sebelum berangkat ke IOAA 2015 ini, aku selalu khawatir dengan pengalamanku saat masih duduk di kelas satu SMA. Saat itu aku lolos menjadi salah satu dari 50 besar kontestan suatu acara English yang disiarkan oleh TVRI. Tapi aku tidak lolos ke tahap selanjutnya karena pada saat wawancara-yang disiarkan TVRI-aku tidak bisa menjawab. Pertanyaannya saja aku tidak mengerti, apalagi untuk menjawab. Sejak saat itu, aku menyadari bahwa listening and speaking ability ku masih jauh di bawah kemampuan rata-rata. Sejak saat itu pula, speaking becoming my arch-enemy, tapi sebaliknya film dan musik dalam bahasa inggris menemaniku menambah perbendaharaan vocabularies dan membantuku melatih pronunciaton.
   Setelah sekian tahun berlalu, sekarang, aku berdiri di depan arrival gate di bandara Ahmad Yani Semarang yang kecil dan sumpek ini menunggui kedatangan rombongan bulek dari berbagai negara. Dengan mata yang masih mengantuk karena kurang tidur semalam, jetlag perjalanan Magelang-Semarang, aku berdiri gugup akan berhadapan dengan ketakutanku selama ini. Tapi beruntung, aku tidak sendiri. Membersamaiku adalah sebut saja namanya affa. Calon dokter dari UNS Solo yang memiliki kemampuan manajemen yang mengagumkan. Dari dia, aku belajar banyak. Pertama-tama dia yang menyambut, aku hanya memperhatikan dan kemudian di kesempatan berikutnya, aku yang akan menyambut delegasi-delegasi yang datang pada jam-jam berikutnya. Jika dilihat dari kejauhan, kira-kira 500 meter gitu, aku hanya menjadi pengekornya saja. Berdiri diam di samping atau di belakangnya sesekali berbicara jika dianggap penting. Aku tidak terlalu banyak membantu juga kecuali melengkapi keberaniannya yang tidak lengkap. Oh iya, disini kami bertemu dengan beberapa orang dari lembaga pariwisata yang ditunjuk oleh pemerintah untuk membantu menyambut delegasi. Mereka adalah, sebut saja mbak kicu, mbak imat, pak irosab dan mas amat dari Jakarta serta nafra yang datang membantu di hari terakhir. Selama tiga hari itulah kami menangani kedatangan delegasi-delegasi dari 41 negara.