(7) Darussalam to 'Darussalam' : Ustad Mizaj Iskandar

  Setiap pulang ke Aceh, selalu saja ada setangkup rindu yang membuncah dalam dada ini ingin pulang ke Jogja. Satu hal yang membuatku selalu rindu adalah atmosfir belajarnya yang sangat mendukung. Pustaka yang besar, toko buku murah dan yang paling dirindukan adalah majelis ilmu agama setiap sore. Khusus untuk majelis ilmu agama, rindunya semakin istimewa, lantaran setiap selesai pengajian, pihak masjid menyediakan makanan berbuka puasa atau snack biasa.  Hehe. Tidak jarang pula kami terpukau karena beberapa kali mendapatkan jatah makanan nasi kotak yang sangat mewah lauk pauknya. Nasi kotak itu di sponsori oleh pengusaha-pengusaha muslim yang dermawan.
   Hal ini belum berkembang di Banda Aceh dan detik-detik yang kebanyakan kuhabiskan disini yaitu di majelis warung kopi ketimbang di majelis ilmu, semakin membuatku ingin kembali ke Jogja.
   Namun rindu itu sedikit terobati sejak ayahku memperkenalkan suatu pengajian yang diampu oleh Ustad dr. Mizaj Iskandar, Lc. Sejak itu, aku tidak pernah absen mendengarkan pengajian rutin beliau setiap mingu pagi, senin malam, selasa malam, rabu malam, kamis malam dan jumat malam di berbagai tempat di Banda  Aceh. Ustad Mizaj memiliki pengetahuan yang luas tentang filsafat islam, tasawuf dan fikih. Tiga ilmu yang tidak pernah benar-bemar akur dalam sejarah umat islam.
   Shubuh hari ini, tanggal 15 januari 2017, saya seperti biasa menghadiri pengajian rutin yang diampu oleh ustad Mizaj Iskandar. Bakda shubuh setiap Ahad, ustad lulusan mesir ini memberi pencerahan kepada umat dengan tafsir Al-Munir. Yang seharusnya dikupas pagi ini adalah Al-Baqarah 97 dan seterusnya. Tapi, beliau justru mengupas lebih dalam Al-Baqarah 96 :


وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَىٰ حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا ۚ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

"dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, Padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan"

   Satu persatu bagian ayat di kupas oleh ustad Mizaj yang ternyata pernah satu kelas dengan abang saya di MIN 1 Banda Aceh dulu sekali. Seperti biasa, jika ada pelajaran yang menarik, saya akan mencatatnya di telepon pintar. Dalam pembahasan perbedaan umat islam dengan umat lainnya, ustad Mizaj menjelaskan bahwa dalam tradisi Islam, yang justru di rayakan adalah kewafatan seseorang, bukan kelahirannya. Jika merayakan hari lahir lazim populernya disebut ulang tahun atau maulid, maka merayakan kewafatan disebut dengan haul. Tradisi ini berlaku bagi tokoh, ulama, raja hingga masyarakat biasa. Namun tidak berlaku bagi nabi dan rasul karena mereka juga dianjurkan untuk merayakan kelahirannya.
   Mengapa demikian?
   Karena dalam tradisi Islam, merayakan kewafatan berarti merayakan berbagai keberhasilan yang pernah diraihnya di masa hidupnya. Tradisi ini begitu mengakar hingga-hingga Fakultas Kedokteran di Universitas Teheran alih-alih merayakan dies natalis seperti kebiasaan dunia akademik, mereka justru mengadakan haul memperingati wafatnya bapak dokter dunia yang merupakan seorang muslim yaitu Ibnu Sina.
   Penjelasan ini panjang lebar di paparkan oleh ustad Mizaj padahal hanya berangkat dari satu kata saja dalam ayat tersebut yaitu :
يُعَمَّرَ
yang artinya adalah usia, bukan umur. Apparently, umur dan usia berbeda arti dalam bahasa Arab. Tapi saya lupa penjelasan lebih detilnya. Menyesal baru datang kemudian, hehe.
Ustad Mizaj Iskandar


1000 dan Keimanan Kita
   Kemudian ustad Mizaj yang baru saja meraih gelar doktor nya baru-baru ini lagi-lagi menjelaskan panjang lebar ada apa dibalik sebuah kata dalam potongan ayat tersebut. Kali ini, potongan katanya adalah :
أَلْفَ
yang secara harfiah artinya adalah seribu.
   Begini penjelasannya yang sangat memukau membuat saya terinspirasi mengabadikan penjelasan tersebut dalam tulisan ini. Bahwa rentang pemahaman masyarakat Arab kuno saat itu terhadap angka hanya mencapai 1000 (baca : seribu) saja karena diatas angka tersebut, masyarakat Arab kuno tidak mengerti angka melebihi angka tersebut. Sebagai contoh, ustad Mizaj mengutip ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang umur nabi Nuh yang disebut dalam Al-Quran sebagai 1000 tahun 'illa'('illa' artinya kecuali) 50 tahun. Logika simpel dari ayat tersebut adalah umur nabi Nuh berjumlah 950 tahun. Lalu mengapa tidak langsung mengatakan 950 tahun? Itulah bagaimana Allah menyampaikan informasi kepada masyarakat Arab kuno dengan tingkat pemahaman mereka dan tradisi yang lebih dekat dengan mereka.
   Perlu diingat bahwa satuan nol (0) baru ditemukan dan dirumuskan pada abad kedua Hijriyah. Baru setelah itulah, perlahan-lahan pemahaman rentang angka semakin membesar dan lalu peradaban manusia merangkak hingga maju seperti yang kita rasakan saat ini. Nol (0) ternyata memiliki kekuatan yang sangat besar terhadap perkembangan pengetahuan manusia. Oleh karena nalar masyarakat Arab kuno hanya mencapai angka 1000 saja, maka dalam Al-Quran, pada umumnya Allah berbicara kepada masyarakat Arab kuno dengan menggunakan angka 1000 (seribu), lebih mendalam ustad Mizaj mengatakan, untuk mengatakan 'tak terhingga' dalam bahasa manusia modern saat ini.
   Majelis ilmu semakin menarik ketika seorang jamaah melontarkan beberapa pertanyaan kritis. Diantarnya adalah bahwa ada ayat yang menyebutkan angka 5000 (baca: lima ribu). Bagaimana penjelasannya ini?
  Dengan tenang tanpa berpikir berusaha mencari jawaban, ustad Mizaj ternyata telah memiliki jawabannya sendiri. Al-Quran itu abadi, merupakan mukjizat yang tidak hanya diperuntukkan untuk masyarakat saat diturunkan saja, melainkan juga diperuntukkan kepada masyarakat akhir zaman. Oleh karena itulah pengetahuan-pengetahuan yang diluar nalar saat itu pun sering disampaikan melalui Al-Qur'an. Pun begitu, umat Muslim saat itu tetap beriman walau mereka juga tidak mengerti apa yang disampaikan dalam Al-Qur'an.
   Setelah penjelasan tersebut, diskusi kembali berjalan. Lelaki yang sama yang tadi melontarkan pertanyaan kritis kali ini sekali lagi mempertanyakan mengapa nabi Muhammad disebut sebagai seorang nabi yang 'ummi' yang artinya beliau tidak bisa membaca dan menulis.
   Penjelasan dari pertanyaan ini sekali lagi memukau, betapa tidak rugi saya datang pagi-pagi sekali berangkat dari Lambhuk ke masjid Jami' UNSYIAH Darussalam ini untuk mengemis ilmu dari ustad Mizaj Iskandar, my new hero!
   Dari sekian banyak masyarakat Mekkah saat itu, ustad Mizaj memaparkan, hanya 12 orang yang tidak bisa membaca-menulis. Ya, hanya 12. Itu artinya tingkat buta aksara di masa itu lebih rendah daripada masyarakat manapun di masa sekarang di kota manapun di dunia? Benar. Tapi dalam masyarakat Arab kuno, orang yang bisa membaca-menulis justru dianggap sebagai orang bodoh. Mengejutkan sekali memang. Orang yang bisa membaca-menulis dianggap bodoh karena ingatannya tidak kuat sehingga harus mencatat dan membaca ulang informasi yang diberikan atau yang diproduksi oleh dirinya sendiri. Nah, dari 12 orang itu, salahsatunya adalah nabi Muhammad SAW yang berarti bahwa Rasulullah adalah salahsatu jenius saat itu. Namun dari 12 orang itu, bahkan dari seluruh makhluk lintas waktu, lintas zaman, lintas alam, nabi Muhammad adalah manusia tercerdas karena dikaruniai oleh Allah tingkat pemahaman yang sangat luar biasa. Sang Rahmatan lil 'Alamin bisa memahami alam semesta beserta isinya dan hukum-hukum yang berlaku didalamnya.
   Jika masyarakat Arab kuno saat itu hanya paham rentangan angka dibawah 1000 saja, maka Rasulullah paham rentangan angka jauh diatas itu hingga tak berhingga. Pun begitu, Rasullullah tetap berbicara, berinteraksi dan menyampaikan sesuai dengan tingkat nalar masyarakat saat itu.
   Salah satu yang membuat cinta dan rindu kita terhadap Rasulullah semakin membuncah adalah kisah bagaimana beliau shallallahu 'alaihi wassalam suatu hari bertanya pada seorang wanita usia lanjut dengan pertanyaan dimakah Allah? Saat itu beliau sedang berjalan bersama Ali bin Abi Thalib dan seorang sahabat lainnya. Mereka dikenal sebagai sahabat yang cerdas yang rentangan pemahaman angkanya lebih dari 1000. Nenek itu kemudian menunjuk keatas, yaitu kearah langit. Ali bin Abi Thalib kemudian tersinggung serta hendak meninju nenek tersebut, begitu papar ustad Mizaj Iskandar. Namun Rasulullah mencegah Ali dan justru tersenyum kepada nenek tersebut walaupun jawabannya salah karena Allah bukan bersemayam diatas, atau diatas langit, karena itu memiliki makna bias dan relatif.
   Begitulah cara Rasulullah berkomunikasi kepada umatnya. Betapa mengharukan mengingat beliau adalah orang tercerdas di zamannya bahkan di zaman manapun, tapi tidak sedikitpun beliau sombong ingin menunjukkan pengetahuannya yang sangat melimpah.
   Mari menelusuri warisan-warisan hebat lainnya dari Rasulullah dan agama Islam melalui keindahan bahasa Al-Qur'an. Khususan untuk anak-anak muda Aceh, mari ramaikan pengajian ustad Mizaj Iskandar dan serap ilmu sebanyak-banyaknya dari beliau.
   Berikut saya lampirkan jadwal kajian beliau yang saya dapatkan dari tautan http://masjidlovers.blogspot.co.id/2015/10/jadwal-pengajian-ustadz-mizaj-iskandar.html 

NO
PENGAJIAN
HARI
WAKTU
LOKASI
1
Kajian Islam
Minggu
Ba’da Shubuh
Masjid Jami’ Kopelma Darussalam
2
Kajian Islam
Senin
Ba’da Maghrib
Masjid Al-Hasyimiah Lamnyong
3
Kajian Islam
Selasa
Ba’da Isya
Balai Pengajian Kompleks Meusara Agung
4
Kajia Fiqh
Rabu
Ba’da Maghrib
Masjid Baiturrahim Ulee Kareng
5
Kajian Kitab Bidayah wa Nihayah
Kamis
Ba’da Maghrib
Masjid Agung Al-Makmur
6
Kajian Tauhid Al-Ihya Ulumuddin
Jum’at
Ba’da Maghrib
Masjid An-Nur Ie Masen Kaye Adang
7
Kajian Tafsir Al Munir
Sabtu
Ba’da Maghrib
Masjid Al Badar Lampineung (Di seberang kantor Gubernur Aceh. Di seberang islamic center baru)

(Week 2) Beastudi Indonesia Preparatory School Batch 4 : Critical Thinking

                “Jangan menganggap semua orang sebagai teman, sebelum mencoba tiga sifat ini kepadanya; pertama, lihatlah ketika dia marah apakah berpaling dari kebenaran kepada kebatilan. Kedua, terkait dirham dan dinar (harta). Ketiga, saat bepergian dengannya”
                Setelah lelah belajar selama satu minggu penuh, kami memutuskan untuk jalan-jalan. Sebenarnya, jadwal hari minggu pertama adalah sesi khusus yang akan diisi oleh petinggi LPDP. Unfortunately, LPDP mendadak mengatakan tidak bisa karena satu dan dua hal. Sampai program BIPS batch 4 ini berakhir nantinya, LPDP tetap tidak memberi jawaban yang pasti siapa orang terbaik dari LPDP dan kapan beliau bisa membersamai kami. Pihak Dompet Dhuafa memang sudah mewanti-wanti kepada LPDP siapa jajaran pentingnya yang bisa datang. Dompet Dhuafa tidak mau orang yang biasa yang datangm karena itu sama saja dengan seminar-seminar roadshow yang selama ini diadakan oleh LPDP. Disini, Dompet Dhuafa ingin sesuatu yang berbeda. Anyway, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Botani Square, mall-nya Institut Pertanian Bogor, yang terletak di pusat kota. Awalnya, aku ragu ikut karena sudah ernah kesana setahun yang lalu ketika nonton film “Cokroaminoto, Guru Bangsa” bersama dengan teman-teman School for Nation Leader, salah satu program Dompet Dhuafa juga. Tapi akhirnya aku setuju untuk ikut bersama dengan teman-teman yang beberapa juga pada awalnya tidak mau ikut.
                Keputusan yang kami ambil pada akhirnya tidak sia-sia karena kami menciptakan banyak sekali momen-momen indah yang tak terlupakan. Awalnya, kami hanya pergi ke Botani Square untuk makan-makan di Food Court – nya. Benar-benar kegiatan yang tidak berguna sama sekali. Tapi kemudian kami memutuskan untuk pergi ke rumah Herma, penanggungjawab program BIPS batch 4 ini yang sudah kami anggap seperti adik sendiri. Kami ketawa-ketiwi sepanjang perjalanan di angkot, salah naik bus, hujan-hujanan dan memori-memori yang tak terlupakan lainnya. Setiap detik kesenangan dan kesusahan yang kami lalui, tidak ada seorangpun yang marah bahkan mengeluh saja. Disinilah aku merasa bahwa teman-teman yang baru saja aku temui seminggu yang lalu ini adalah teman-teman terbaik di lingkungan asalnya. Setidaknya, dalam perjalanan ini kami bisa lebih akrab, mengetahui lebih dalam karakter-karakter setiap orang dan melepas topeng kecanggungan yang masih ada diantara kami. Ini penting, karena proses belajar bersama tidak akan berjalan efektif jika masih malu-malu dan ada dinding tidak terlihat di antara kami.
                Agenda acara di akhir pekan ini kami habisi dengan outbond di Kebun Raya Bogor. Lumayan, dapat baju dan slayer baru, serta bisa akhirnya menikmati keindahan Kebun Raya Bogor walaupun hanya di bagian kecilnya saja. Disini kami semakin akrab dan tentu saja semakin happy. Walaupun outbond diadakan dari pagi sampai siang tanpa henti, kami tidak merasa capek.

Metode Belajar
Poin pertama yang diajarkan oleh tim The Brighton Indonesia (TBI) kepada kami dalam menguasai IELTS adalah Critical thinking. Berpikir kritis. Ini dikarenakan soal-soal yang di tanyakan dalam tes IELTS adalah soal-soal nalar. Berbeda dengan soal yang selama ini kupelajari di TOEFL, yaitu structure, grammar dan serangkaian rules lainnya. Misalkan saja dalam Writing dan Speaking, yang dinilai tidak hanya aturan baku grammar dan spelling serta pronunciation nya saja, melainkan juga coherent dan cohesion nya. Jika kita tidak mampu menangkap pertanyaannya serta tidak mempunyai wawasan luas yang berbeda dengan ide orang lain, maka susah untuk memberikan jawaban. Oleh karena itulah, critical thinking merupakan hal pertama yang harus dibiasakan kepada murid.
                Salah satu hal yang sangat kukagumi dari teman-teman anggota BIPS Batch 4 ini adalah keunikan masing-masing yang dimiliki. Aku banyak belajar dari mereka terutama dari cara mereka meningkatkan kemampuan bahasa inggris dalam waktu lima minggu tersebut. Masing-masing memfokuskan diri pada titik lemahnya sendiri diantara empat bagian tes IELTS, yaitu Listening, Reading, Writing dan Speaking. Ada yang rajin mengunjungi The Jakarta Post untuk meningkatkan kemampuan reading nya, ada yang menulis secara terperinci rangkuman buku pegangan kami yaitu Focus on IELTS, ada yang kemana-mana nampaknya kerjaannya cuma dengerin musik dari smartphone padahal sedang mendengar materi BBC atau materi listening lainnya, ada yang masih belajar setelah kelas berakhir pada jam 10 malam, ada pula yang bangun satu jam sebelum jadwal shalat Shubuh untuk listening, bahkan ada yang sudah punya band score IELTS 6 padahal baru belajar bahasa inggris enam bulan yang lalu. Memang benar apa yang dikatakan bahwa orang-orang hebat itu, melakukan hal-hal yang unik dan berbeda.
                 Aku sendiri menyadari Speaking adalah titik lemahku. Sudah sejak SMP aku mengalaminya ditambah pengalaman buruk di SMA ketika tidak bisa menjawab pertanyaan seorang panelis dalam acara seleksi English Ambassador yang disiarkan oleh TVRI nasional. Alhamdulillah, berkat rahmat Allah, aku dipertemukan dengan jalan keluarnya. Beberapa teman yang sangat baik membuat inisiatif untuk practice speaking test setelah shalat shubuh. Demi mendengar ide itu, aku langsung setuju dan menjadi anggota yang paling rajin datang.

(Week 1) Beastudi Indonesia Preparatory School Batch 4 : Highest Score

“What is the maximum score you can achieve in IELTS?”,
adalah pertanyaan tricky dari seorang pengajar english tua di program BIPS Batch 4 ini. Dengan pronunciation british english nya sambil matanya berputar-putar mirip seperti mata bunglon. Rafiq Mahmud namanya. Kami ‘dipaksa’ olehnya untuk memanggilnya dengan nama panggilan ‘bung Rafiq’. Pertama kali kami bertemu dengannya, kami juga terkejut lantaran si bung ternyata adalah seorang lelaki tua dengan perawakan asli British pada umumnya. Dia bukan keturunan India yang sudah lama menetap di Inggris turun-temurun. Warna kulitnya bahkan tidak coklat, apalagi gelap pekat. Kalau Anda kebetulan kenal dengan Rowan Atkinson si ‘Mr. Bean’, maka bayangkan saja bung Rafiq adalah versi tua dari Mr.Bean. Bahkan ekspresinya pun sangat mirip dengan tokoh televisi Inggris yang sering kita lihat melakukan tindakan-tindakan konyol itu.
            So, tentu saja kami menjawab angka 9 (sembilan) untuk pertanyaan itu ketika bung Rafiq menanyakan kami satu per satu. Tentu saja. Karena memang maksimal skor IELTS itu adalah 9. Tapi bung Rafiq menggeleng sebanyak sebelas kali sesuai jumlah peserta BIPS Batch 4 ini. Jawabannya salah.
            “The maximum score you can achieve is to be able commuciate and speaking fluently in English with accent and to be able read and writing for academic purpose”.
            Sudah hampir seminggu aku berada di Zona Madina Dompet Dhuafa, Parung, Bogor. Selama itu pula aku terus mencari jawaban mengapa aku dulu iseng mendaftar program ini. Untuk tujuan yang sejalan dengan visi Dompet Dhuafa, aku sudah mendapatkannya di hari pertama ketika pembukaan acara. Namun, rasa-rasanya untuk tujuan yang sejalan dengan visi IELTS, justru aku mendapatkan jawabannya dari pertanyaan bung Rafiq diatas tadi.
            “Bahwa maksimal skor yang bisa didapatkan dari belajar IELTS adalah mampu berkomunikasi dan berbicara lancar dalam bahasa inggris serta mampu membaca dan menulis untuk tujuan akademik"
Done. Disaat itu juga aku tertohok dengan nilai filosofis yang hendak disampaikan oleh Rafiq. Selama 11 tahun sejak kelas 1 SMP di MTsS Jeumala Amal dulu, ternyata aku telah salah kaprah dalam belajar bahasa inggris. Balajar bahasa inggris untuk mendapatkan nilai bagus. Belajar bahasa inggris untuk mendapatkan band score yang bagus untuk digunakan dalam mendaftar ke universitas tujuan yang diimpikan. Lalu meraih gelar master, menikah dengan high-class girl, mendapatkan sophisticated job dan hidup happily ever after forever.
Seharusnya belajar bahasa inggris,sesuai dengan nilai filosofis bung Rafiq, adalah untuk mempersiapkan diri berenang sebebas-bebasnya dalam lautan ilmu tanpa batas yang tidak bisa kita pungkiri hanya sangat mungkin di akses dengan kemampuan bahasa inggris yang mumpuni. Itu adalah tujuan utamanya. Sementara yang lain hanyalah letupan-letupan manis yang dikecap sebentar dan nantinya akan hilang lagi.

Guru-Guru Hebat
Anyway, seminggu terakhir berada di Bogor bertemu dengan orang-orang baru benar-benar membuatku kembali berpikir : nikmat tuhan mana lagi yang ingin kau dustakan. Tapi, sebagai individu yang mengidap introvert stadium 4, bertemu dengan banyak warna sekaligus benar-benar membuatku kewalahan pada awalnya. Seiring berjalannya waktu, dengan bantuan dan kehangatan yang ditunjukkan oleh teman-teman lainnya, akhirnya aku pun bisa cair dan berani menunjukkan warna asliku juga. Terima kasih teman-teman.
Guru pertama yang kami temui dari tim The Brighton adalah ms. Zizi, a lovely lady yet a very bossy and sometimes menakutkan serta berbicara sangat cepat sekali. Kelasnya adalah kelas yang paling hidup dan paling banyak menghasilkan tawa berderai-derai di ruangan. Dia selalu membawa sekotak penuh berisi permen yang akan dibagikan berdasarkan grup-grup terbaik di setiap tugas.
Guru kedua adalah Simon, seorang ‘imported speaker’, kata ms.Zizi sebagai ganti dari terma yang sering kita sematkan kepada mereka : native speaker. Pertama kali bertemu dengannya di ruang Audio Visual Pusat Sumber Belajar Sekolah Smart Ekselensia Dompet Dhuafa, kesan pertamaku adalah seperti melihat seorang hipster. Kami sempat meragukan Simon pada awalnya karena setiap pertanyaan kritis yang kami lontarkan selalu dijawab dengan dia berpikir lama dan diakhiri dengan ‘i dont know’ darinya. Ditambah lagi penampilannya yang urakan. Rambutnya yang pirang panjang dan tubuh yang kurus tapi tinggi serta celana jeans usang ditambah baju kemeja yang tampaknya kebesaran menambah kesan yang sangat kuat bahwa Simon adalah seorang ekspatriat pelarian yang mencari nafkah di Indonesia lantaran biaya hidup di London mahal. Dan benar adanya. Sesuai dengan curhatannya di malam itu, dia memang berasal dari Bristol, sebuah daerah yang tidak jauh dari London. Disana biaya hidupnya mahal.

Tapi Simon baru menunjukkan kapasitasnya saat kami belajar di ruang komputer di bagian depan komplek Dompet Dhuafa. Dia mengerti akan struktur kalimat yang benar serta penggunaan vocabulary yang tepat dalam kalimat. After all, Simon is good lah.
Guru yang best of the best dalam pelatihan BIPS ini bernama Michael. Dari segi penampilan, Michael adalah seorang yang sangat rapi dan selalu klimis. Michael juga berperawakan tinggi seperti halnya orang Inggris pada umumnya. Pronunciation nya jelas dan sering sekali membuat joke melalui cara bicaranya. Misalnya memperpanjang huruf R menjadi rrrrrr. Atau melebih-lebihkan spelling words nya semisal menekankan cara mengucapkan kata ‘the’ menjadi ‘thhhhhhe’, ‘three’ menjadi ‘thhhhhre’.
Namun yang paling membuat kami kagum dari Michael adalah ketika Mike, nama panggilannya, mengajar dia tidak pernah duduk. Selalu berdiri. Dari pukul 8 pagi saat pelajaran dimulai sampai pukul 5 sore saat pelajaran selesai. Dia juga tidak pernah minta izin ke toilet. Pelajaran yang dia ampu selalu selesai tepat satu bab pada hari itu. Banyak sekali pelajaran yang kami dapatkan dari seorang Mike.
Guru terakhir adalah ms. Ami. Beliau mendapat jadwal mengajar setiap hari jum'at. Seorang guru yang memiliki metode megajar yang sangat fun dan punya banyak permen serta kue untuk dibagikan kepada kami. Setelah capek belajar di kelas selama lima hari sebelumnya, hari jum'at terkadang menjadi hari yang dinanti karena bisa tetap belajar tapi sambil bermain.
  Saat tulisan ini ditulis, kami baru saja menyelesaikan Mock Test pertama. Selama ini aku telah terbiasa dengan reading, listening dan writing. Tapi untuk speaking, yang di interview oleh bung rafiq, aku masih harus banyak latihan berbicara dengan Mike, bung Rafiq, Simon dan Ms. Zizi serta belajar melatih mental dengan teman-teman yang lain. Speaking masih menjadi masalah terbesarku. Mungkin karena aku masih belum terlalu menyerap nila filosofis dari nasehat bung Rafiq. Tidak apa-apa kukira, karena masih ada empat minggu lagi dan ketika pelatihan ini selesai aku akan mengenang ketidakmampuanku melalui tulisan ini.

HISENSE UNTUK INDONESIA

Mengutip rencana strategis kementrian komunikasi dan informasi republik Indonesia tahun 2015-2016, secara nasional penerapan teknologi 4G LTE berpotensi meningkatkan pertumbuhan PDB suatu negara sebanyak satu hingga dua persen. Teknologi yang mampu memberikan sensasi download hingga kecepatan 150 Mbps ini sangat dibutuhkan di Indonesia, terutama dalam menyediakan kerangka dan arah dalam mencapai tujuan di bidang bisnis, digitalisasi ekonomi dan komunitas TMT (Teknologi, Media, dan Telekomunikasi) yang cerdas. Indonesia sebagai negara dengan salah satu pengguna internet aktif terbesar di dunia memiliki pelanggan komunikasi mobile hingga mencapai 287 juta pengguna di tahun 2015. Dengan demikian, Indonesia menduduki peringkat ke-4 sebagai lahan basah industri telekomunikasi di dunia.
Jumlah ini akan terus bertambah ke depannya. Ini terlihat dari  kebutuhan akan layanan data di Indonesia yang semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Di wilayah perkotaan maupun pedesaan, layanan internet sudah menjadi sebuah kebutuhan yang kian membesar juga. Oleh karena itulah, selain penerapan teknologi dan persiapan payung hukum bagi penyedia layanan komunikasi tersebut, kebermanfaatan 4G LTE akan semakin cepat dirasakan masyarakat luas jika gadget yang mampu menangkap kecepatan teknologi komunikasi generasi keempat ini dapat dijangkau dengan harga yang murah.
            Hisense, adalah salah satu perusahaan produsen ponsel asal negeri tirai bambu yang membantu mendorong perkembangan ekosistem 4G LTE di Indonesia. Bahkan, Hisense adalah satu-satunya perusahaan di Indonesia yang menyediakan perangkat berkemampuan menjalankan teknologi 4G-LTE Advanced.



TEKNOLOGI, KONTRIBUSI dan STRATEGI
Coba tanyakan apa itu Hisense, pada seseorang temanmu. Bisa dipastikan banyak yang tidak bisa menjawab, lantas hanya mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti. Memang nama Hisense tidak lebih populer dibanding nama-nama seperti Samsung, Apple, LG dan lain sebagainya. Tapi untuk sahabat karibnya yang bernama Smartfren, masyarakat Indonesia sudah cukup kenal sebagai penyedia hape murah berkualitas mumpuni. Apalagi, pada tahun 2014 yang lalu, kolaborasi Hisense dan Smartfren berhasil membuat mereka sebagai produsen ponsel terbesar kedua di Indonesia, di bawah Samsung.
Hisense telah sejak lama bekerjasama dengan Smartfren. Kerjasama mereka berbuah penetrasi layanan 4G LTE Advanced yang luas didalam kehidupan digital masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah dengan penggunaan teknologi carrier agregation (CA). Carrier agregation merupakan penggabungan dua frekuensi berbeda agar dapat berjalan bersamaan. Teknologi ini memungkinkan operator untuk memperoleh coverage sinyal yang lebih luas dan juga kecepatan internet yang tinggi. Teknologi hybrid ini diterapkan dalam frekuensi 850 MHz (Frequency Division Duplex/FDD) dan/atau 2.300 MHz (Time Division Duplex/TDD). Dengan teknologi ini, Hisense menggebrak pasar handset Indonesia yang selama ini mendukung salah satu frekuensi saja. Jika hanya menggunakan salah satu frekuensi saja, kecepatan internet mungkin akan tinggi namun akan terasa putus-putus karena coverage-nya yang cenderung sempit. Namun itu tidak terjadi pada handset besutan Hisense karena dapat mendukung frekuensi 2.300 MHz dan 850 MHz. Sehingga handset mereka dapat berjalan secara maksimal. Bahkan smartphone produksi Hisense yaitu Hisense PureShot+ bisa berjalan dan mendukung band jaringan 4G LTE dari semua operator seluler Indonesia. Hisense PureShot+ mendukung FDD Band 2 (1.900 MHz), 3 (1.800 MHz), 5 (850 MHz), 8 (900 MHz); dan TDD band 40 (2.300 MHz).

Produk smartphone terbaru Hisense ini, yaitu Hisense PureShot Plus merupakan salah satu gawai yang ikut membantu terbentuknya ekosistem LTE di Indonesia karena harganya yang murah dan mudah dijangkau oleh masyarakat membuat penyebaran smartfren semakin merata dan luas.
Hisense memang dikenal sebagai vendor dengan produk-produk yang inovatif. Salah satunya yang dikenal luas adalah sebagai perintis ponsel dual SIM card GSM dan CDMA yang dirilis pertama pada tahun 2006 silam. Selain itu untuk mendukung ekosistem pasar smartphone yang sehat di Indonesia, Hisense bekerjasama dengan Smartfren menunjuk perusahaan lokal Indonesia, tepatnya di Batam untuk merakit smartphone 4G.
Sejauh ini, kontribusi Hisense sudah cukup terlihat di Indonesia. Namun, untuk dapat bertahan dan memberi kontribusi yang lebih terhadap perkembangan ekosistem 4G LTE, Hisense hendaknya sadar terhadap strategi pemerintah dalam optimalisasi teknologi 4G LTE di Indonesia. Sehingga nantinya, Hisense dapat menyamakan langkah dengan pemerintah. Optimalisasi teknologi ini, disebutkan oleh Setyanto P. Santosa selaku Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL), memiliki empat kunci :
1.      Penentuan kebijakan model berkelanjutan pengembangan pita besar (broadband) harus melibatkan partisipasi aktif sektor privat dan pengusaha.
2.      Menentukan cara yang ideal dalam menciptakan harmonisasi spektrum guna memperlancar penerapan teknologi 4G LTE secara publik dan komersil.
3.      Menemukan cara yang tepat agar pelaku industri lokal turut juga mendapat keuntungan sebagai akibat positif dari berkembangnya teknologi 4G LTE. Salah satu modelnya adalah dengan membuka kesempata akses dan penyediaan konten.
4.      Industri manufaktur lokal juga perlu dilibatkan agar bisa dan mau memproduksi perangkat 4G LTE berbiaya rendah.

Dengan memahami strategi ini, harapannya Hisense tetap menjadi pionir utama dalam pengembangan teknologi jaringan mobile di Indonesia. Semoga.
Zakiul Fahmi Jailani

(1) IOAA 2015 : Unexpected Journey

  “Bila kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan.”
-Imam Syafi’i-
 Mungkin benar apa yang dikatakan oleh imam Syafi'i bahwa Jika kamu tidak tahan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan. Ini pula yang aku rasakan di hari pertama menjadi Liasion Officer di IOAA 2015. IOAA 2015 sendiri adalah kepanjangan dari International Olympiad on Astronomyc and Astrophysics. Ini adalah perhelatan ke-9 dan Indonesia mendapat keistimewaan dengan mengadakannya untuk kedua kalinya setelah Bandung di tahun 2008 pernah menjadi tuan rumah.
     
   Pada awalnya, IOAA 2015 akan diadakan di Bangladesh. Namun, karena negara asal Muhammad Yunus ini tidak siap, maka kemudian di akhir 2014 diputuskan Indonesia lah yang akan mengambil alih perhelatan olimpiade internasional astronomi tingkat SMA ini. Proses perekrutan volunteer dilakukan jauh sebelum tanggal pelaksanaan yaitu tanggal 26 Juli hingga 4 Agustus 2015. Aku sendiri mendaftarkan diri di bulan April, ketika saat itu belum terlalu sibuk dengan skripsi. Alhamdulillah Aku diterima menjadi salah satu Volunteer setelah harus mengunggah video introduction ke Youtube dan wawancara via video call Skype, semua dalam bahasa inggris.
   Beberapa bulan setelah April, aku mendapat kabar bahwa aku lolos dan secara resmi dimasukkan dalam grup Whatsapp Volunteer. Tapi sayangnya, saat itu aku sedang kesusahan mengerjakan skripsi dan ketika tanggal acara sudah semakin dekat, aku antara ragu akan datang atau tidak ke acara tersebut. Setelah beberapa kali berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk tetap berangkat dan baru akan mulai mempelajari semua yang berkaitan dengan IOAA 2015 ini pada tanggal 25 Juli, sehari sebelum keberangkatan. Apalagi ini masih dalam suasana idul fitri. Aku dan teman-teman masih memiliki beberapa rumah lagi yang ingin dikunjungi untuk menyambung silaturahmi.

   Tapi, aku hampir saja tidak berangkat. Ketika itu, tanggal 24 Juli malam. Aku mendapat sebuah pesan whatsapp menanyakan perihal persiapan untuk keberangkatan ke IOAA 2015 besok.
"Besok?", Aku bertanya padanya. Sebut saja namanya tuyip.
"Bukannya tanggal 26?", aku tanya lagi.
"Besok!!!!", jawabnya lagi.
Aku tambah bingung. Besok, aku baru akan merangkum semua informasi IOAA 2015 melalui email dan pesan-pesan di Whatsapp Group. Malam itu, mengabaikan panggilan azan Isya, aku bergegas pulang dan menyiapkan segalanya yang diperlukan, dan yang terpenting adalah dresscode. Besok, aku berangkat. Terima kasih untuk tuyip, by the way. ^_____^
#                #                             #
   Persiapan yang mendadak, tidak pernah bercengkerama sesama volunteer di grup whatsapp semakin membenarkan perkataan imam Syafi'i seperti yang aku kutip diatas tadi. Sejak menginjakkan kaki di bandara Adisucipto, perjalanan ke hotel Puri Asri di Magelang hingga briefing di sore hari dan survei lapangan di Borobudur, tampaknya, hanya aku volunteer yang tidak tahu-menahu tentang detil acara IOAA 2015 ini. Aku belum melaksanakan hal yang paling krusial sekalipun, yaitu mengirimkan email perkenalan kepada para delegates yang akan aku layani selama sepuluh hari di Magelang. Sejujurnya, delegates mana saja yang ada dibawah pelayananku pun aku masih tidak tahu. Yang aku tahu cuma Iran doang, itupun setelah di beritahu oleh tuyip. Emangnya aku tugasnya seperti apa sih? Itu saja aku tidah tahu, benar-benar parah deh pokoknya.
   Pada akhirnya aku belajar sedikit demi sedikit dan bertanya kesana-sini. Akhirnya aku tahu bahwa tugasku di event internasional ini adalah menjadi LIASION OFFICER for OBSERVER untuk lima orang, yaitu 3 dari Iran, 1 dari Polandia dan 1 dari Portugal.
   Tapi tetap saja, aku merasa bersalah dan merasa bahwa aku tidak pantas berada disini, mengingat volunteer yang lain sudah berkontribusi banyak sementara skor untukku masih 0. Belum lagi fasilitas yang kami dapatkan di hotel ini sangat mewah : kamar hotel bintang 5 hingga makanan buffet yang mewah. Itulah mengapa, ketika pukul 02.00 Wib pagi seorang makhluk sebut saja haras membangunkanku tiba-tiba mengatakan bahwa aku ditugaskan oleh mbak inel ke Semarang.
   Tanpa banyak tanya, aku pun bangun cepat-cepat, mandi air hangat, dan bergegas menerima tantangan selanjutnya : SEMARANG, untuk menebus keteledoranku.

#       #         #
   Aku pernah mendapatkan oxford dictionary dari ustad/pak guru ku di dayah (pesantren) dulu di masa SMP, kemudian aku juga pernah menjadi juara 1 pidato bahasa inggris sekotamadya dulu di masa SMA. Tapi, itu semua hanyalah kemampuan bahasa inggris diatas kertas, tidak ada istimewanya, plus semua itu sudah berlalu di masa lampau. Sebelum berangkat ke IOAA 2015 ini, aku selalu khawatir dengan pengalamanku saat masih duduk di kelas satu SMA. Saat itu aku lolos menjadi salah satu dari 50 besar kontestan suatu acara English yang disiarkan oleh TVRI. Tapi aku tidak lolos ke tahap selanjutnya karena pada saat wawancara-yang disiarkan TVRI-aku tidak bisa menjawab. Pertanyaannya saja aku tidak mengerti, apalagi untuk menjawab. Sejak saat itu, aku menyadari bahwa listening and speaking ability ku masih jauh di bawah kemampuan rata-rata. Sejak saat itu pula, speaking becoming my arch-enemy, tapi sebaliknya film dan musik dalam bahasa inggris menemaniku menambah perbendaharaan vocabularies dan membantuku melatih pronunciaton.
   Setelah sekian tahun berlalu, sekarang, aku berdiri di depan arrival gate di bandara Ahmad Yani Semarang yang kecil dan sumpek ini menunggui kedatangan rombongan bulek dari berbagai negara. Dengan mata yang masih mengantuk karena kurang tidur semalam, jetlag perjalanan Magelang-Semarang, aku berdiri gugup akan berhadapan dengan ketakutanku selama ini. Tapi beruntung, aku tidak sendiri. Membersamaiku adalah sebut saja namanya affa. Calon dokter dari UNS Solo yang memiliki kemampuan manajemen yang mengagumkan. Dari dia, aku belajar banyak. Pertama-tama dia yang menyambut, aku hanya memperhatikan dan kemudian di kesempatan berikutnya, aku yang akan menyambut delegasi-delegasi yang datang pada jam-jam berikutnya. Jika dilihat dari kejauhan, kira-kira 500 meter gitu, aku hanya menjadi pengekornya saja. Berdiri diam di samping atau di belakangnya sesekali berbicara jika dianggap penting. Aku tidak terlalu banyak membantu juga kecuali melengkapi keberaniannya yang tidak lengkap. Oh iya, disini kami bertemu dengan beberapa orang dari lembaga pariwisata yang ditunjuk oleh pemerintah untuk membantu menyambut delegasi. Mereka adalah, sebut saja mbak kicu, mbak imat, pak irosab dan mas amat dari Jakarta serta nafra yang datang membantu di hari terakhir. Selama tiga hari itulah kami menangani kedatangan delegasi-delegasi dari 41 negara.





(3) School for Nation Leader : Diagram Venn bernama SNL

Ada satu kebiasaan yang tidak bisa tidak dihindarkan selama dalam acara penggemblengan ini. Ada 50 orang yang ikut dalam pelatihan ini dan hampir mustahil mampu mengingat nama setiap peserta hanya dalam waktu satu malam saja. Maka, jangan heran jika ada orang yang sudah berkenalan lalu melakukan ritual itu beberapa kali lagi selama acara. Baru setelah beberapa kali itulah semua nama peserta akan bisa diingat. Aku pun demikian, jika sudah lupa, maka berusaha sebisa mungkin untuk tidak canggung bersalaman dan bertanya lagi siapa namanya, nama panggilannya, berasal dari mana dan informasi unik lain yang melekat padanya.

Jika anda pembaca merasa bosan dengan kehidupan sekitar anda yang di kelilingi oleh orang-orang dan rutinitas yang malas tak bersemangat, maka ya, SNL ini adalah tempat yang cocok buat anda merasakan atmosfir yang berbeda. Aku sendiri baru sadar ketika aku bangun di pagi hari ternyata aku benar-benar sedang berada di tengah para aktifis dari seluruh Indonesia. Nama aktifis yang tersemat di dada mereka bukan hanya kebetulan, karena di hari kedua ini, tanpa harus diingatkan seperti anak kecil lagi, mereka bangun shalat shubuh, mandi, olahraga, berangkat ke aula utama dengan tepat waktu. Artinya, mereka sudah mengerti arti dari disiplin itu sendiri. Beda dengan beberapa organisasi dan komunitas yang aku ikuti selama ini. Lamat-lamat aku mengingat, sebenarnya ini adalah salahsatu yang selama ini aku rindukan sejak aku masih di Aceh dulu : berada bersama dan bekerjsama dengan orang-orang profesional yang menghargai waktu.
   Aku sangat bersyukur dapat mengikuti acara ini dan dikelilingi oleh orang-orang hebat seperti mereka. Sama seperti diagram Venn, mahasiswa-mahasiswi hebat ini ibarat lingkaran-lingkaran berwarna yang berkumpul dalam satu pertemuan (intersection) bernama School for Nation Leader 1.
Celakanya, semalam, ketika pembagian kelompok, lingkaran paling kecil dalam diagram Venn itu terpilih untuk menjadi salahsatu dari lima ‘kage’ alias ketua kelompok. Hoegeng, nama kelompok itu, yang diusulkan oleh Syakir Daulay, mahasiswa dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Sesuai dengan nama dari pelatihan ini : School for Nation Leader, maka menolak menjadi pemimpin dalam rangkaian acara ini sama juga seperti menciderai memukul habis-habisan nama itu sendiri bukan.


COKROAMINOTO
   Kabar gembiranya, malamnya kami akan nonton film ke bioskop bersama-sama. Ini juga kabar gembira bagi beberapa orang yang tertangkap basah tidak pernah ke bioskop sama sekali sebelumnya dan pengalaman pertama masuk bioskop ini apalagi dengan tiket gratis adalah sesuatu yang patut dirayakan dengan teriakan histeris beberapa peserta akhwat ketika menerima kabar tersebut. Bioskop tersebut katanya terletak di Botani Square, sebuah mall di kota bogor. Jadi sorenya, setelah shalat ashar kami berangkat bersama-sama ke lokasi menggunakan bis yang disewa panitia. Di dalam bis, layaknya mahasiswa pada umumnya, teman-teman semakin rajin merajut tali persahabatan dengan berfoto riang dan bercanda bersama. Bis yang kecil dan panas ini tak terasa menyusahkan kami sedikitpun karena ada payung keteduhan bernama kebersamaan dan canda tawa yang membuat kami merasa adem-adem saja di dalam bis ini.

   Kami makan snack bersama-sama dan makan nasi lagi sesampai di lokasi agar setelah maghrib kami bisa langsung masuk theater. Panitia sengaja mengambil jadwal tayang setelah maghrib karena film ini panjang beud. Durasinya hampir mencapai 3 jam. Masih kurang panjang menurutku, untuk sebuah film tokoh besar sekaliber beliau. Film ini boleh jadi wajib di tonton oleh mahasiswa dan pemuda apalagi mereka yang mengaku berasal dari dalam ruh pergerakan. Pun begitu, aku juga tidak terlalu mengerti mengapa sutradara sekelas Garin Nugroho dan produser ternama Chrisitne Hakim berani-beraninya menempatkan film mereka satu slot penayangannya berbarengan dengan film franchise blockbuster Fast Furious 7. Ini sama saja dengan bunuh diri sehingga jelas saja film yang sangat penting ini sepi peminat. Bagi yang belum nonton, ayo ditonton ya.
   Mengapa film ini penting? Karena film berjudul Guru Bangsa : Tjokroaminoto ini adalah film yang menjelaskan kunci sejarah bagaimana isme-isme besar di indonesia lahir dari seorang Cokroaminoto melalui penggemblengan di rumahnya yang dijadikan kontrakan. Dan dari laporan yang beredar, film ini sepi peminat kalah pamor dari aksi Vin Diesel melawan Jason Statham ditambah dengan nostalgia bersama Paul Walker yang saat ini entah bagaimana dia mampu menjawab malaikat atas pertanyaan : 'man nabiyyuka?'.
   Back to us, untuk menambah keseriusan kami menonton film tersebut, panitia melalui pak Eibisono memberi tugas untuk membuat resume film tersebut dengan ancaman tulisan ini akan menjadi prasyarat untuk bisa mengikuti kelas esok paginya. Dasar seorang aktifis, ya angguk-angguk saja deh. Untuk panitia, dalam hati kami berkata : hanya satu lembar resume dengan waktu terbatas bukan satu dua kali kami lakoni pak. ^__^
   Namun yang terpenting adalah akhirnya kami tahu siapa guru nya Soekarnoe si tokoh nasionalis pertama Indonesia ini. Bapak Cokroaminoto ini memang kurang terkenal namanya dalam buku-buku sejarah negeri kita. Tapi banyak yang tidak tahu ternyata bapak Cokroaminoto ini yang dalam film tersebut diperankan oleh Reza Rahardian itu, adalah juga guru dari para tokoh-tokoh pergerakan lainnya dalam sejarah Indonesia. Bagi yang ketika di sekolah dasar dulu nilai sejarahnya tinggi pasti ingat atau pernah membaca sekilas nama-nama semacam Semaoen, Kartosoewiryo dan Agus salim. Konco-konco ini adalah anak murid daripada pak Cokroaminoto. Lebih tepatnya jika dikatakan beliau adalah bapak kos mereka karena Mereka hidup bersama dalam satu ruangan besar, saling bertukar pikiran, dan tidur satu bantal bersama sepert sahabat di rumah sang guru bangsa yang salahsatu kamarnya disewakan bagi Mereka.
   Nama-nama diatas kemudian mewarnai sejarah perpolitikan indonesia. Semaoen adalah tokoh Sarekat Islam Merah yang ia pecah dari organisasi Sarekat Islam, pimpinan sang guru bangsa sendiri. Sarekat Islam Merah ini kemudian ber metamorfosis menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Konon, ideologi Semaoen ini terbentuk setelah ia membaca buku karangan pak Cokroaminoto yang berjudul Islam dan Sosialisme.
   Kemudian ada Kartosoewiryoe. Pasca kemerdekaan indonesia, beliau merupakan pendiri Negara Islam Indonesia (NII) yang kemudian dianggap sebagai organisasi pemerintahan tandingan (baca : pemberontak). Kartosoewiryoe kemudian di jatuhi hukuman mati oleh presiden pertama Indonesia yaitu Soekarnoe yang notabene adalah teman satu bantal tidurnya dulu. Oh iya, jika dua temannya cenderung pada ideologi Sosialisme dan Islamisme, maka Soekarnoe pada awal-awal cenderung pada ideologi Nasionalisme walau pada akhirnya nanti bung Karno berusaha untuk menggabungkannya dalam satu ideologi yang ia beri nama sendiri menjadi NASAKOM (Nasionalis, Agama, Komunis). Kabarnya, Soekarnoe saat itu menghabiskan waktu yang sangat lama untuk menandatangani surat keputusan hukuman mati terhadap sahabatnya sendiri. Sejenak aku berpikir, jika tidak berkaca pada sejarah, maka para peserta SNL 1 2015 ini pun bisa jadi nanti akan mengalami nasib yang sama : saling lempar senyum di dalam paviliun di tahun 2015 ini tapi nanti akan saling lempar granat di tahun 2045. Na’udzubillah.
   Dari ketiga tokoh diatas, bisa kita simpulkan pada awalnya Mereka masing-masing seperti sebuah lingkaran kecil kosong dalam diagram Venn sama seperti penjelasan diatas tadi, Mereka bertemu dalam satu irisan dan lambat laun lingkaran-lingkaran itu membesar dengan corak warnanya sendiri. Namun walau Mereka berguru pada satu orang yang sama, bergurau canda dibawah satu atap yang sama dan Mereka adalah sahabat satu sama lainnya, pada akhirnya Mereka harus terlerai dan bahkan saling berbenturan.
   Sekilas SNL 1 ini juga merupakan sebuah upaya meniru apa yang telah dilakukan oleh pak Cokroaminoto dahulu kala. Apalagi, salahsatu bagian lirik dari hymne Negarawan Muda Indonesia menggubah petikan dari kalimat pamungkas dari sang guru bangsa :
Setinggi-tinggi ilmu,
Semurni keyakinan,
Seluas cita-cita,
Sebaik-baik strategi

  Namun bedanya, irisan dalam semesta ini lebih banyak yang diwakili oleh 50 lingkaran dari seluruh Indonesia. Kemudian Kami hidup di dalam paviliun-paviliun nyaman, mendapat fasilitas makan yang enak, sibuk berfoto groufie, terkantuk-kantuk menunggu coffe break kesayangan dan hanya memiliki waktu satu minggu saja untuk bertatap muka satu sama lain. Tapi dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi sekarang, apa yang dikatakan Soekarnoe dengan 10 orang pemuda mampu mengguncangkan dunia bukan suatu hal yang mustahil lagi saat ini. Tapi ya itu, asalkan generasi muda saat ini tidak disibukkan menjadi buruh pendidikan, korban teknologi, hamba hedonisme dan alpa melihat dinamika sosial disekitarnya.
            Pak Cokroaminoto dulu pernah menerbangkan pesawat kebangsaan yang berpenumpang orang-orang hebat pada zamannya. Namun karena satu dan lain hal, pesawat itu oleng dan menabrak gunung walau pada akhirnya Indonesia tetap berdiri sebagai satu negara. Kini Dompet Dhuafa --- yang di akhir sesi nanti Aku baru tahu bahwa lembaga ini dilahirkan oleh Republika, Republika dilahirkan oleh ICMI, ICMI dilahirkan oleh Habibie atas dukungan Soeharto dan kedua nama tersebut sudah pasti memiliki hubungan yang erat dengan Soekarnoe yang berguru pada perintis pertama pesawat peradaban bernama Indonesia ini --- melalui program School for Nation Leader 1 berusaha menerbangkan kembali pesawat kebangsaan itu dan berharap pesawat ini mendarat di landasan pacu Indonesia Emas pada tahun 2045 (Tepat 100 tahun kemerdekaan Indonesia). Namun yang musti diingat adalah, jika Kita tidak mempelajari blackbox pesawat kebangsaan Cokroaminoto, maka tanpa ragu Saya mengatakan : Prepare for Impact!!!
            Seperti Diagram Venn, Kita bisa jadi adalah lingkaran yang berbeda-beda warna dan ukurannya, namun hingga akhir hayat, keraskan usaha untuk tetap berada dalam irisan (Intersection) walau apapun kondisinya. Dan semoga tulisan yang ditulis oleh lingkaran terkecil dalam Diagram Venn ini bisa menjadi pengingat bahwa ada badai besar dihadapan Kita : Bersatu dalam pesawat yang sama akan selamat, membuka pintu karena takut sama artinya dengan bunuh diri.

Yogyakarta 30 April 2015